Jateng Dilanda Banjir 37 Kali

367

SEMARANG – Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Tata Ruang (DPUSDATR) Jateng, Prasetyo Budhie Yuwono membeberkan, sejak Januari hingga 20 Februari 2017, telah terjadi 37 peristiwa banjir. Ada yang disebabkan karena pendangkalan sungai hingga gara-gara jebolnya tanggul. Sedangkan mulai Oktober sampai Desember 2016 lalu, terjadi 44 kejadian tanggul jebol dan sungai meluap.

Daerah yang terendam banjir di awal tahun ini adalah Brebes, Tegal, Pekalongan, Kendal, Kota Semarang, Demak, Kudus, Pati, Grobogan, dan Klaten. Selain itu, Sragen, Purwodadi, Kebumen, Banyumas, serta Cilacap. ”Kalau yang jebol memang lebih banyak di Klaten dan Pantura, lainnya lebih banyak adalah luapan,” ujarnya.

Dijelaskan, sebelum musim penghujan akhir 2016 lalu, pihaknya sudah memprediksi ada sejumlah wilayah yang bakal terendam banjir. ”Kami sudah tahu titik-titik rawan banjir. Sebelum masuk musim hujan sudah melakukan sosialisasi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kantor SAR Semarang, Agus Haryono menambahkan, sejak Januari hingga memasuki akhir Februari 2017, tercatat ada 32 orang yang meninggal akibat peristiwa kecelakaan di air. Yakni di laut, sungai, dan waduk. ”Ada yang menyeberang kemudian hanyut, perahu terbalik, dan lainnya,” tegasnya.

Diungkapkan, dalam dua bulan terakhir banyak laporan masyarakat terkait kebencanaan. Sedangkan SAR Semarang sudah melakukan operasi sebanyak 39 kali di berbagai wilayah Jateng. ”Mungkin ada juga yang tak dilaporkan, karena sebelum dilaporkan korbannya sudah ditemukan. Dan ini didominasi oleh kejadian di laka air, baik di waduk, sungai, laut dan lainnya. Dan itu terjadi setelah hujan deras,” ungkapnya.

Agus menyebutkan beberapa contoh peristiwa kecelakaan di air itu, semisal sejumlah siswa usai kegiatan olahraga di sekolah kemudian bermain air dan hanyut. Kemudian ada warga yang ke ladang melewati sungai selanjutnya terseret arus.

Ada pula warga Grobogan yang menggotong jenazah melintasi sungai untuk dimakamkan, ternyata seketika debit air meninggi hingga membuat pelayat itu terseret arus dan hilang sampai tiga hari. Akhirnya ditemukan sudah meninggal dunia. ”Kebanyakan kecelakaan adalah aktivitas rutin masyarakat di daerah tersebut, dan sulit mengantisipasi,” katanya.

Di lain pihak, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jateng memperkirakan, musim penghujan akan berakhir sampai Maret 2017 meski intensitas curah hujan mulai menurun. Kemudian musim pancaroba akan mulai berlangsung pada April mendatang.

Koordinator BMKG Jateng, Tuban Wiyoso, mengatakan, musim penghujan awal tahun ini puncaknya memang Januari sampai Februari. Saat ini, intensitas hujan dan angin kencang sudah mulai menurun. Tapi cuaca ekstrem diperkirakan akan terjadi lagi saat pancaroba. ”Memang sekarang angin kencang dan hujan mulai menurun, namun April mulai pancaroba dari musim hujan ke kemarau, jadi cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kencang masih akan terjadi,” katanya. (amh/ric/ce1)