PIPA GALIAN : Masyarakat pengguna Jalan Raya Desa Karangdadap hingga Kota Pekalongan, diminta hati-hati dan waspada lantaran ada galian pipa SDAM. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PIPA GALIAN : Masyarakat pengguna Jalan Raya Desa Karangdadap hingga Kota Pekalongan, diminta hati-hati dan waspada lantaran ada galian pipa SDAM. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN-Pemasangan pipa mega proyek Petalong atau Proyek Pengembangan Sistem Penyedia Air Minum (SPAM) senilai Rp 64 miliar dikeluhkan masyarakat. Lantaran pihak rekanan, yakni PT Kartika Ekayasa tidak memperhatikan keselamatan pengguna jalan, seperti pemasangan rambu-rambu lalu lintas, dan tidak membersihkan sisa tanah galian yang tercecer di jalan raya. Sehingga sepanjang jalan yang dipasang pipa menjadi licin, ketika hujan turun.

Pipa SPAM dimasukkan ke dalam galian tanah di tepi jalan dengan kedalaman satu meter dan lebar 60 sentimeter, sepanjang 20 kilometer itu ditanam di turus jalan Desa Sengare, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan hingga Kota Pekalongan. Kondisi tersebut diparah dengan tidak adanya pemasangan lampu penerangan jalan, sehingga banyak pengguna jalan yang terjatuh di galian. Bahkan kerap dijumpai kendaraan roda empat terperosok dan masuk di galian pipa SPAM.

Perangkat Desa Karangdadap, Edi Mulyadi, 43, mengungkapkan bahwa hampir setiap malam, banyak kendaraan roda empat yang terperosok di galian pipa SPAM, karena minimnya lampu penerangan dan rambu, serta kondisi galian pipa SPAM yang terlalu mepet ke badan jalan.

“Kalau malam gelap, bisa dipastikan selalu ada laporan mobil atau kendaraan lain yang teperosok pada pipa galian proyek. Kami sudah memberikan masukan dan saranpada pihak rekanan, namun tidak direspon,” ungkap Edi.

Hal serupa disampaikan pada Nurudin, 52, warga Desa Karangdadap, yang rumahnya tepat di tepi jalan raya yang digunakan untuk galian pipa SPAM. Dirinya setiap hari melihat kecelakaan lalu lintas. Pengendara sepeda motor banyak yang terjatuh, karena licinnya jalan akibat ceceran tanah galian yang ada di tepi jalan raya.

“Seharusnya pihak rekanan memberikan batas antara galian dan jalan, serta ceceran tanah galian dibersihkan. Karena kalau hujan, sisa galian mengalir ke jalan raya dan membuat jalan licin,” kata Nurudin.

Sementara itu, Pengawas PT Kartika Ekayasa, pelaksana mega proyek Petalong atau Proyek Pengembangan sistem Penyedia Air Minum (SPAM) senilai Rp 64 miliar, Dedy, ketika dikonfirmasi membantah jika pihaknya tidak menyediakan rambu lalu lintas pada setiap galian pipa SPAM.

Menurutnya, setiap galian pipa sepanjang 30 meter, selalu dipasang satu rambu lalu lintas, meski ukuran rambu lalu lintas terebut kecil. Seharusnya, pihak pengendara lebih hati-hati dan jangan selalu menyalahkan rekanan. Karena pihak rekanan tidak mampu menyediakan lampu penerangan atau tali pengaman sepanjang galian pipa SPAM. “Masyarakat pengguna jalan yang harus hati-hati. Sudah tahu ada galian pipa SPAM, harusnya tidak mengendarai kendaraannya dengan kencang,” tegas Dedy. (thd/ida)