Nasib KSP Mitradana Tunggu 42 Hari

Damai atau Pailit

2039

SEMARANG – Nasib Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Mitradana yang memiliki kantor di Semarang dan Salatiga terancam pailit akibat digugat Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), yang dilakukan oleh lima nasabahnya yakni, Yonathan Tommy Wijaya, Andreas Yoggi Wijaya, Nathanael Wilson Wijaya dan Chandra Wijaya Tan.

Bahkan bukan hanya KSP Mitradana, permohonan PKPU juga ditujukan kepada Ketua KSP Mitradana Guntoro dan Bendahara KSP Mitradana, Ismayanti, dengan begitu dari waktu yang diberikan majelis hakim pemutus tinggal menunggu selama 42 hari, dalam menentukan apakah Mitradana pailit atau terjadi perdamaian dan perpanjangan waktu.

Dalam sidang PKPU Sementara yang digelar di Pengadilan Niaga Semarang, majelis hakim pemutus yang dipimpin Pudjo Hunggul sudah menunjuk tiga orang pengurus PKPU, di antaranya Eka Widhiarto, Shindu Arief Suhartono, Jo Wendy Suyoto dan satu hakim pengawas, Edy Suryanto.

”Informasi yang kami peroleh dari pengurus koperasi, jumlah nasabah di Salatiga sekitar 500 sama halnya dengan Semarang 500 nasabah. Nanti kalau nasabah tidak ajukan tagihan otomatis nggak bisa ikut verifikasi,” kata salah satu pengurus PKPU, Eka Widhiarto ditemui usai sidang, Rabu (22/2).

Eka juga menyatakan atas permasalahan tersebut, maka setiap nasabah wajib mengajukan tagihan baik yang di Salatiga maupun Semarang. Sebab, apabila nasabah tidak mengajukan tagihan, nanti dana yang dimiliki tidak akan dihitung, namun hak sebagai nasabah tetap tidak hilang.

”Kalau yang ajukan tagihan sedikit, otomatis pengurus PKPU kerjanya juga lebih ringan. Yang jelas selama waktu 42 hari kekuasaan PKPU Sementara masih di tangan hakim pengawas, kemudian hasilnya akan dilaporkan ke hakim pemutus,” ungkapnya.

Eka juga menjelaskan jika sebuah koperasi maka sudah jelas memiliki badan hukum, dengan demikian apabila kantor Mitradana Semarang pailit, otomatis di cabang Salatiga juga akan mengalami hal yang sama, namun demikian upaya perdamaian pada KSP Mitradana tersebut diakuinya masih terbuka lebar. Apalagi walau sudah memasuki PKPU Sementara, operasional Mitradana di dua kantornya masih berjalan normal. ”Saya kagum juga dengan Mitradana, selama ini kalau yang berperkara PKPU mayoritas sudah tutup sementara, tapi ini pegawai dan staf-stafnya masih kerja, termasuk yang di Salatiga,” sebutnya.

Terpisah, Kuasa Hukum Lima Nasabah KSP Mitradana, Sutikno Susilo menyebutkan, total utang yang sudah jatuh tempo mencapai Rp 700 juta, jumlah tersebut  dari kelima nasabah yang secara rinci meliputi Rp 150 juta, Rp 100 juta, Rp 200 juta, Rp 150 juta, dan terakhir Rp 100 juta. ”Kami ajukan PKPU karena termohon (KSP Mitradana, Guntoro dan Ismayanti, Red) tidak bisa membayarkan utangnya yang telah jatuh tempo,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua KSP Mitradana Guntoro saat dihubungi maupun di SMS koran ini tidak ada balasan sama sekali. Berbeda dengan Mitradana cabang Salatiga diklaim oleh pengawainya kalau koperasinya tetap dalam kondisi stabil dan masih berjalan normal.

”Tidak ada permasalahan di sini (cabang Salatiga), kondisi nasabah juga masih normal dan baik-baik saja. Apabila ingin bertanya lebih lanjut bisa datang ke kantor pusat (Ruko Dargo Indah Plaza, A5, Semarang),” kata Pimpinan Cabang KSP Mitradana, Vita Agustina melalui salah satu pegawainya bernama Indah. (jks/zal/ce1)

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here