DIMUSNAHKAN: Wakapolda Jateng Brigjen Pol Indrajit menunjukkan uang palsu yang dimusnahkan, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIMUSNAHKAN: Wakapolda Jateng Brigjen Pol Indrajit menunjukkan uang palsu yang dimusnahkan, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANGUang palsu (upal) sebanyak 24.800 lembar dari berbagai pecahan ditemukan Bank Indonesia (BI) wilayah Jawa Tengah. Jumlah tersebut merupakan temuan sejak tiga tahun terakhir, mulai awal 2014 silam. Khusus di wilayah Semarang, BI menemukan kurang lebih 11 ribu lembar upal.

Upal tersebut diserahkan ke Polda Jateng untuk dimusnahkan. Uang palsu yang didominasi pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu itu dimusnahkan di Markas Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng menggunakan mesin pemotong kertas, Rabu (22/2) kemarin.

”Uang palsu ini ditemukan dari setoran bank di wilayah Semarang sejak tahun 2014 sampai sekarang,” ungkap Wakapolda Jateng Brigjen Pol Indrajit di sela pemusnahan.

Indrajit mengatakan, upal yang dimusnahkan mencapai miliaran rupiah. Jumlah lembarannya mencapai lebih dari 11 ribu lembar. ”Itu kan palsu, jadi tidak ada nilainya,” tegasnya.

Ditanya tersangka dalam temuan upal tersebut, Indrajit mengakui sampai sejauh ini belum ada. Alasannya, upal tersebut ditemukan atas dasar temuan, dan bukan atas dasar penangkapan atau penindakan.

”Tersangka tidak ada. Ini kan temuan. Pihak bank kalau ada setoran misalnya Rp 10 juta, ada temuan 1 lembar upal lalu diserahkan ke BI. Setelah terkumpul banyak, diserahkan kepada kami untuk dimusnahkan,” katanya.

Kepala Divisi Sistem Pembayaran Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Eko Purwanto, mengatakan, puluhan ribu lembar uang palsu tersebut ditemukan secara bertahap. Ditemukan dari uang setoran nasabah di berbagai bank di Semarang.

”Dari setoran para nasabah itu ditemukan satu atau dua lembar uang palsu. Kemudian pihak bank  menyerahkan uang palsu tersebut ke kami untuk diteliti lebih lanjut. Kalau memang benar palsu, uang akan kami sita dan dikumpulkan,” ungkapnya.
Berbeda dengan keterangan Wakapolda Jateng yang menyebutkan jumlah upal di atas diperoleh selama tiga tahun, Eko justru menyebutkan uang palsu sebanyak 24.800 lembar itu ditemukan hanya selama 2016 di wilayah Jawa Tengah. Sedangkan untuk wilayah Semarang, lanjut Eko, pada tahun yang sama ditemukan sekitar 11 ribu lembar upal. Itu artinya dalam satu bulan ditemukan 900 hingga 1.000 lembar upal.

”Kalau bicara yang paling banyak dipalsukan ya pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu. Jadi, nggak ada nilainya, karena itu dianggap bukan uang,” tandasnya.

Pihaknya juga menyampaikan adanya temuan tersebut masyarakat diminta untuk lebih hati-hati dan teliti saat menerima uang. Pihaknya juga mengakui akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar benar-benar mengetahui keaslian uang.

”Kami akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat sebagai bentuk antisipasi. Kami mengimbau kepada masyarakat jangan asal menerima, tapi betul-betul dilihat, diraba dan diterawang dulu,” katanya.

Menurutnya, uang asli dan palsu bisa dibedakan dan dicek keasliannya menggunakan alat bantu sensor. Sedangkan langkah atau cara sederhana, pembedaan bisa dilakukan dengan cara diraba hingga diterawang.

”Uang asli warnanya jelas, kertasnya saat diraba uang asli lebih kasar, kalau diterawang uang asli ada tanda air hasil pengikisan yang membentuk tokoh pahlawan. Makanya kami akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak dirugikan,” jelasnya.

Kepala Unit Layanan Administrasi Kas Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, A Indrajayanto, menambahkan, dalam Peraturan Bank Indonesia, apabila bank menemukan uang yang diduga palsu wajib melakukan penyitaan. Kemudian diteruskan ke BI untuk dimintakan klarifikasi.

”BI akan menjawab kalau uang itu asli, maka diwajibkan mengembalikan. Kalau palsu, wajib disita dan diteruskan ke kepolisian. Jadi, upal itu temuan dari nasabah yang menyetorkan uang di bank,” katanya.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Jateng Kombes Lukas Akbar Abriari mengakui, telah mengungkap sebanyak 10 kasus temuan uang palsu pada 2016 dengan penetapan tersangka sebanyak 12 orang. Sedangkan pada 2015 sebanyak 15 kasus. Namun demikian, pihaknya mengaku, belum menemukan tersangka utama pembuat upal tersebut.

”Memang selama ini, tersangka yang kita dapat selalu terputus. Yang membuat siapa, masih terputus. Upal masih didapatkan dari tangan pertama saja,” terangnya sambil menambahkan pada 2017 ini, pihaknya menangkap pengedar upal di Ungaran. (mha/aro/ce1)