DEMAK-Sejumlah petani di wilayah Dempet, Gajah, Karanganyar dan sekitarnya, menyesalkan harga gabah yang dijual ke tengkulak sangat rendah. Menyusul keterlambatan Bulog dalam membeli beras petani.

Ismail, warga Desa Harjowinangun, Kecamatan Dempet mengatakan, gabah miliknya sudah terlanjur dijual murah ke tengkulak. “Harganya Rp 13 juta perbahu. Tapi, dalam perkembangannya, justru dipotong lagi oleh tengkulak sehingga tinggal Rp 11 juta perbahu,” katanya.

Dengan harga seperti itu, sebagai petani sangat rugi. Sebab, harga itu tidak setara dengan biaya perawatan selama 3 bulan dan ongkos sewa. “Kami sewa lahan saja Rp 25 juta perbahu setahun,” katanya.

Untuk mencari perontok padi saja sulitnya bukan main. Semua sudah ikut para juragan besar. Kalaupun dapat tenaga perontok, upahnya juga selangit. “Akhirnya, terpaksa ada sebagian yang dipanen sendiri dengan tenaga sendiri,” tandasnya.

Kumaidi, warga Kecamatan Wonosalam menambahkan, petani di wilayahnya tersebut malah lebih gigit jari. “Gabah hanya dihargai Rp 6 juta sebahu. Itu berarti, hanya Rp 1.500 perkilogram jauh di bawah ketentuan harga yang dipatok pemerintah (HPP),” katanya.

Menurutnya, panen kali ini melimpah ruah dengan kualitas produksi yanga baik. Namun, petani gelisah lantaran harga tidak sesuai harapan. “Ini terparah dalam sejarah. Pemerintah hanya berpedoman, yang penting produksi meningkat namun tidak mampu melindungi petani, utamanya soal harga yang anjlok sangat rendah ini. Petani di zaman sekarang makin sengsara,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian Ir Wibowo mengatakan, berdasarkan laporan di lapangan, harga gabah berangsur naik. Meski demikian, petani sudah banyak yang menjual dengan harga murah. Mestinya bulog cepat menyerap gabah petani sehingga harga tidak jatuh. “Coba kita lihat di desa-desa seperti di Desa Trengguli, Kecamatan Wonosalam atau di Desa Ruwit, Kecamatan Bonang. Coba tanya petani langsung, harga gabah memang rendah. Kami berharap, cuaca juga lebih baik sehingga kondisinya akan lebih baik,” katanya.

Terpisah, Bulog Demak, kemarin melakukan pembelian gabah petani dengan harga Rp 3.750 perkilogram. Kepala Bulog Demak, Sartono mengatakan bahwa harga tersebut sesuai dengan ketentuan gabah kering panen (GKP) di tingkat penggilingan dengan kadar air maksimal 25 persen. Ketentuan ini berdasarkan persyaratan kualitas gabah atau beras menurut Inpres RI Nomor 5 Tahun 2015. Selain itu, mendasarkan pada pedoman harga pembelian gabah di luar kualitas oleh pemerintah di penggilingan sesuai Permentan RI Nomor 45/Permentan/ PP.200/9/2016. “Kami sudah serap gabah dengan harga Rp 3.750 perkilogram,” ujar dia di kantornya, kemarin.

Harga tersebut mempertimbangkan kualitas GKP dengan ketentuan kadar air antara 19 hingga 25 dan kadar hampa antara 7 sampai 10. Menurutnya, kondisi gabah dalam sepekan terakhir lebih baik. Kandungan air berkisar 20 persen. Sedangkan, sebelumnya 30 persen. “Jadi, yang menentukan harga itu sesuai kondisi gabah yang ada,” katanya.

Untuk GKP di tingkat petani harganya Rp 3.700 perkilogram. Lalu, gabah kering giling (GKG) di penggilingan sebesar Rp 4.600 perkilogram, GKG di gudang bulog Rp 4.650 dan beras di gudang bulog Rp 7.300. “Kami sudah membeli 40 ton gabah petani dan 15 ton di antaranya diproses menjadi beras,” katanya. Sementara itu, petani di Demak sudah telanjur menjual gabahnya dengan harga murah. Kondisi ini menguntungkan pemodal besar yang membeli murah tersebut. (hib/ida)