LANGGAR ATURAN: Petugas memasang police line pada sebuah ekskavator yang sempat disembunyikan oleh penambang liar. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
LANGGAR ATURAN: Petugas memasang police line pada sebuah ekskavator yang sempat disembunyikan oleh penambang liar. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)

WONOSOBO – Tim gabungan Satreskrim Polres Wonosobo, Satpol PP Wonosobo, Satpol PP Jateng, Dinas Energi, Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng dan Dinas Lingkungan Hidup Wonosobo mengegrebek lokasi galian C di Desa Pegerejo dan Desa Candiyasan Kecamatan Kertek, Selasa (21/2) siang. Petugas menghentikan aktivitas dan memasang police line pada 6 buah eskavator yang digunakan untuk menambang pasir di lokasi tersebut. Selain itu, aparat juga memasang papan berisi larangan penambangan pasir serta menyita beberapa alat penambangan pasir.

Tim Gabungan yang dipimpin Kapolres Wonosobo AKBP Muhammad Ridwan sempat dibuat kewalahan karena ekskavator disembunyikan di perbukitan. Tim bahkan harus menyisir lahan pertanian sekaligus lokasi penambangan pasir ilegal lebih dari 2 kilometer untuk akhirnya menemukan 6 ekskavator yang disembunyikan di berbagai lokasi.

“Galian C ini sangat berdampak pada ekosistem alam. Selain mengakibatkan banyaknya mata air yang akan mati, praktik penggalian pasir ilegal ini juga jelas melanggar hukum,” terang Kasatreskrim Polres Wonosobo AKP Suharjono.

Namun sayangnya, info pelaksanaan operasi ini sepertinya sudah bocor. Sehingga para operator sudah sempat menyembunyikan ekskavator dan melarikan diri.

“Bahkan kami tidak bisa menemukan adanya truk yang biasanya mengangkut pasir di lokasi tersebut. Para pekerja juga menghentikan aktivitasnya,” tambah Suharjono.

Setelah memasang police line pada ekskavator dan lokasi penggalian, tim kemudian meninggalkan lokasi karena cuaca yang tidak mendukung. Sekitar lokasi diguyur hujan lebat dan kabut tebal. Selanjutnya, Polres akan berkoordinasi dengan Satpol PP, Dinas Lingkungan Hidup maupun Dinas ESDM untuk memanggil para pemilik alat berat dan pengelola lokasi itu.

“Kami sudah mengantongi identitasnya. Akan segera kami lakukan pemanggilan untuk dimintai keterangan,” imbuhnya.

Seperti yang tertulis pada plang pengumuman yang dipasang petugas, pengelola maupun pemilik lokasi galian C dapat dituntut dengan pasal 109 UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ancaman hukumannya berupa pidana penjara paling lama 3 tahun atau denda maksimal Rp 3 miliar. (ali/ton)