Dorong Bahasa Tradisional Digunakan

594
LESTARIKAN BUDAYA: Salah satu tim tari mengeluarkan kemampuan terbaiknya pada peringatan Hari Bahasa Internasional 2017, di Balairung UPGRIS, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
LESTARIKAN BUDAYA: Salah satu tim tari mengeluarkan kemampuan terbaiknya pada peringatan Hari Bahasa Internasional 2017, di Balairung UPGRIS, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pendidikan tentang bahasa Jawa atau bahasa yang berunsur kedaerahan saat ini sulit ditemui. Pasalnya pendidikan anak usia dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD) lebih menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa asing pada kegiatan belajar mengajar.

Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah Pardi Suratno mengatakan PAUD, TK, dan SD seharusnya mulai menanamkan tentang kebinekaan bangsa Indonesia termasuk bahasa. Salah satunya dengan menggunakan bahasa ibu atau bahasa daerah dalam kegiatan belajar mengajar. ”Kami berkeinginan mendorong pemerintah agar bisa mengeluarkan kebijakan. Yakni menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar,” katanya saat ditemui usai acara Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2017, di Balairung UPGRIS, Selasa (21/2).

Selain itu, pentingnya kampanye persatuan dalam keberagamaan atau multikulural tidak bisa dihilangkan. Menurutnya dengan menggunakan bahasa asing malah akan membuat anak-anak tidak mengenal identitas bangsanya sendiri. ”Sekarang PAUD dan SD saja cenderung pakai bahasa Inggris, padahal bahasa lokal atau bahasa daerah harus dilestarikan. Nantinya saya takut anak-anak muda kehilangan kemampuan mengenali bahasanya sendiri,” tuturnya.

Sementara itu, Rektor UPGRIS Prof Muhdi menambahkan, pengembangan dan pelestarian berbagi jenis budaya harus dilakukan dengan memperingati Bahasa Ibu Internasional. Hal itu merupakan langkah antisipasi untuk melestarikan budaya lokal. Ia menerangkan, setidaknya Indonesia memiliki 707 bahasa daerah atau bahasa ibu yang masing-masing memiliki karakteristik dan ciri khas yang berbeda-beda.

”Kalau tidak dijaga pasti akan hilang, bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu, namun bahasa daerah juga tak kalah penting apalagi keberagaman atau multikulturalisme saat ini masih menjadi topik yang hangat,” ucapnya. (den/ric/ce1)