WONOSOBO-Demi memenuhi imbauan pemerintah untuk menyelenggarakan Ujian Berbasis Komputer (UBK), sejumlah sekolah rela ‘ngoyo’ untuk menyelenggarakan ujian dengan perangkat komputer.

Padahal, di balik semua itu, menurut pengakuan sejumlah guru, ada hal yang perlu dipersiapkan secara matang. Mulai teknis pelaksanaan, ketersediaan perangkat, hingga kesiapan mental siswa dalam mengoperasikan komputer.

“Sangat bagus, cuma biar UBK bisa dilaksanakan semua sekolah, perlu ada persiapan lebih ke depannya,” kata guru SMP 2 Leksono, Usman, belum lama ini.

Keunggulan UBK, di antaranya, siswa terlambat ujian mendapat waktu sama. Yakni, 2 jam untuk masing-masing pelajaran. Tidak ada potongan waktu seperti ujian tertulis. Waktu dua jam dihitung sejak mendapat soal dari server sekolah.

Kedua, dengan model UBK, siswa akan lebih terbiasa untuk mengoperasikan komputer. Ada motivasi lebih untuk belajar. Dampak lebih jauh, ekolah akan tergerak untuk menyediakan perangkat yang menjadi menu wajib di dunia serba teknologi IT.

“Kalau di tempat kami, memang tahun ini ikut UBK. Cuma saya yakin di sekolah lain, masih ada siswa yang ndredeg pegang mouse. Itu pasti jadi soal sendiri.”

Guru lain, Erwin menambahkan, ketidaksiapan siswa dalam mengoperasikan komputer, karena tidak tersedianya perangkat komputer untuk berlatih. Sebab, sebagian sekolah, tidak memiliki perangkat komputer sebanyak 20 unit (sesuai kuota ujian UBK). Kalaupun ada, umumnya banyak yang rusak. “Misal ada yang punya 20 unit (komputer), paling hanya 5-7 yang hidup,” katanya.

Kendala lain, potensi mati listrik sewaktu-waktu juga mengundang kekhawatiran tersendiri. Alternatif memang menggunakan genset. Hanya saja, butuh genset yang berukuran besar. Untuk menyuplai daya 20 unit komputer, butuh genset berukuran 5000 PK. Padahal, genset 5000 PK harganya tidak murah.

Erwin menyarankan, agar kesempatan UBK bisa dinikmati semua sekolah, maka kekurangan-kekurangan tersebut perlu dicarikan solusinya. Tujuannya, agar UBK tidak mengundang kecemburuan antarsatu sekolah dengan sekolah lainnya.

“Soal citra, oh ternyata sekolah ini bisa UBK, sekolah sana belum. Kayak begitu, bisa saja jadi perbincangan calon siswa. Maka, hal itu, ke depan butuh diperhatikan.” (cr2/isk)