Melongok Masjid Berbentuk Kapal di Podorejo, Ngaliyan: Dilengkapi Fasilitas Sekolah, Klinik, dan Ballroom

9518
MEGAH: Bangunan masjid berbentuk kapal di Padaan, Podorejo, Ngaliyan. (ADENNYAR WYCAKSONO)
MEGAH: Bangunan masjid berbentuk kapal di Padaan, Podorejo, Ngaliyan. (ADENNYAR WYCAKSONO)

Sebuah masjid berbentuk kapal dibangun di Dukuh Padaan, Kelurahan Podorejo, Ngaliyan, Semarang. Masjid yang diberi nama Safinatun Najah itu memang belum jadi 100 persen. Namun keberadaannya sudah menarik warga. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

MASJID unik itu berada di Jalan Kyai Padak RT 5 RW V, Dukuh Padaan, Kelurahan Podorejo. Masjid itu berbentuk kapal yang sangat besar, lengkap dengan jendela berbentuk bulat, buritan, haluan, dan ciri khas kapal lainnya. Masjid tersebut dinamai Safinatun Najah oleh warga yang membiayai pembangunannya, yakni KH Achmad.

”Saat ini, proses pembangunan masih 90 persen, belum jadi betul,” kata Husein, pekerja masjid tersebut kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pria berusia 52 tahun tersebut menceritakan, jika Kiai Achmad sengaja membuat bangunan mirip kapal tersebut yang akan dijadikan masjid. Bangunan tiga lantai dengan panjang 50 meter, lebar  17 meter, dan tinggi  14 meter itu nantinya juga dipergunakan untuk sekolah kejuruan atau pelatihan kerja, klinik kesehatan bagi masyarakat sekitar, dan ballroom.

”Ada tiga lantai, lantai pertama untuk ruang pertemuan, bisa buat rapat, atau acara lain. Bahkan kata Pak Kiai, bisa untuk resepsi warga. Lantai dua untuk masjid, lantai tiga belum tahu mungkin  untuk tempat latihan kerja dan perpustakaan. Kata Pak Kiai juga, fasilitas yang ada bisa digunakan secara cuma-cuma oleh warga sekitar,” tuturnya.

Husein menjelaskan, Kiai Achmad adalah ulama dari Semarang. Beliau mengajar ilmu agama dan punya rumah di daerah Gendingan, Semarang Tengah. Kemarin, Kiai Achmad sedang berada di Jakarta. Sehingga dirinya tidak bisa menjelaskan secara detail dan rinci bangunan megah tersebut.

”Minggu kemarin beliau ada, tapi ini masih di Jakarta. Mungkin urusan pekerjaan, saya hanya bisa menjawab setahu saya,” ucapnya.

Bangunan dengan luas total 2.500 meter persegi ini berdiri di atas lahan seluas 7,5 hektare. Selain bangunan berbentuk kapal, nantinya akan ada dua bangunan lain, yakni satu bangunan untuk klinik yang ada di sebelah kiri, dan asrama putri yang ada di belakang bangunan utama. ”Nantinya ada tiga bangunan, bangunan klinik dan asrama masih dibangun,” tuturnya.

Terkait bentuk kapal yang dibuat, lanjut Husein, terinspirasi dari kapal atau bahtera milik Nabi Nuh AS, di mana kaumnya yang berbuat maksiat dan lebih suka menyembah berhala yang akhirnya dilaknat Allah SWT dengan banjir besar, hingga yang tersisa adalah pengikut Nabi Nuh AS yang mau mengikuti perintah Allah SWT dan selamat setelah naik kapal yang dibuat Nabi Nuh As.

”Ke depannya untuk wisata religius, jadi orang bisa memperlajari sejarah Islam. Kalau mau selamat di akhirat, ya belajar agama, ya belajar umum juga, keterampilan,” terangnya.

Bangunan dengan enam pintu utama di samping kanan dan kiri ini memiliki 74 jendela berbentuk bulat yang didesain oleh seorang arsitek. Karena berbentuk kapal, dalam pengerjaannya mengalami kendala di bagian tubuh kapal. Bahan yang digunakan adalah batu bata, sementara di sepanjang pinggir bangunan dibuat kolam agar bangunan benar-benar tampak seperti kapal di atas air.

”Susahnya pas bangunan bagian bawah, harus ekstra hati-hati karena rawan roboh, total ada 40 karyawan yang mengerjakan dengan lama pengerjaan 1,5 tahun. Kalau habisnya berapa saya kurang tahu,” katanya lagi. Diperkirakan, pembangunan masjid ini menelan biaya miliran rupiah.

Jika memang akan dijadikan tempat wisata religi, dirinya mewakili Kiai Achmad berharap ada perbaikan jalan menuju Podorejo. Pasalnya, jalan yang ada saat ini masih sangat sempit, bahkan jika hujan lumpur menutupi jalan sehingga membuat jalan menjadi licin. ”Kalau hujan akses jalannya mbletok, Mas. Kalau bisa ya diperbaiki lagi,” harapnya.

Pasca dibangun, bangunan berbentuk kapal ini banyak dikunjungi warga sekitar untuk berswafoto. Sebab, pemilik membebaskan tempat tersebut untuk warga yang memang ingin menikmati pemandangan yang ada di sekitar.

”Bangunannya unik, bagus. Kalau dari atas pemandangannya juga bagus. Jadi kalau sore banyak warga yang ke sini untuk menghabiskan waktu,” tutur Anggi, 17, warga sekitar. (*/aro/ce1)