TUGAS BERAT: Hamid Ponco Wibowo menandatangi serah terima jabatan Kepala BI Provinsi Jateng disaksikan Deputi Gubernur BI Sugeng di Kantor BI Provinsi Jateng, Semarang, kemarin. Hamid Ponco Wibowo menggantikan Pejabat BI Sementara Rahmat Dwi Saputra. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TUGAS BERAT: Hamid Ponco Wibowo menandatangi serah terima jabatan Kepala BI Provinsi Jateng disaksikan Deputi Gubernur BI Sugeng di Kantor BI Provinsi Jateng, Semarang, kemarin. Hamid Ponco Wibowo menggantikan Pejabat BI Sementara Rahmat Dwi Saputra. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Sejumlah permasalahan terkait perekonomian Jawa Tengah disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam serah terima jabatan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah, kemarin.  Beberapa pekerjaan rumah (PR) tersebut di antaranya terkait stabilisasi harga, khususnya harga beberapa komoditas yang kerap memberikan dampak terhadap inflasi. Di antaranya cabai dan bawang merah.

“Harga bawang merah hari ini (kemarin, Red) kembali naik, karena tanaman terendam air. Tapi apakah akan kita biarkan saja naik. Ini tantangannya, salah satu PR bagi BI yaitu stabilisasi harga,” ujar Ganjar.

Pekerjaan rumah berikutnya adalah meningkatkan nilai ekspor Jawa Tengah. Diungkapkannya tahun lalu ekspor Jawa Tengah mengalami perlambatan, karena perekonomian dua negara tujuan utama ekspor yaitu Amerika Serikat dan Tiongkok juga mengalami perlambatan. Terkait hal ini, ia berharap ada upaya untuk membuka pasar baru selain dari negara-negara tujuan utama ekspor yang sudah ada. Termasuk halnya menggali potensi-potensi komoditas lain yang dapat diekspor. “Seperti Rusia, pertumbuhan ekonomi mereka tampak positif dan mereka antusias untuk berinvestasi di Jateng. Beberapa komoditas pangan di sana yang mahal dan di sini murah juga bisa jadi alternatif untuk komoditas ekspor kita,” tandasnya.

Tugas berikutnya yang tak kalah besar yaitu bagaimana dalam penanganan kemiskinan. Ganjar menyebutkan bahwa kemiskinan di Jateng lebih tinggi dari nasional. Mereka yang berada di taraf miskin tersebut rata-rata berprofesi sebagai petani, nelayan dan pengusaha kecil. “Kami tunggu peran BI untuk bisa mencarikan jalan agar mereka ini bisa berdikari. Bisa juga dengan dilatih kewirausahaan,” ujarnya.

Selain itu, Gubernur Jateng ini berharap agar Bank Indonesia dapat secara intens menyosialisasikan terkait pola pembiayaan, baik pada perangkat pemerintahan maupun masyarakat. (dna/smu)