Tanggul Jebol, Banjir Bandang

1132

SEMARANG-Banjir bandang kembali terjadi di Kota Semarang.

Kali ini, menimpa Perumahan Klaster Dinar Indah RT 6 RW 26, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang. Sedikitnya ada 31 Kepala Keluarga (KK) warga perumahan tersebut diungsikan sementara. Meski tidak ada korban jiwa, banjir bandang yang terjadi Rabu (15/2) sekitar pukul 14.00 itu mengakibatkan kerugian materi yang cukup besar. Pasalnya, berbagai barang berharga seperti televisi, kulkas, sofa, tempat tidur, komputer, tak sempat diselamatkan.

”Sekitar pukul 14.00, sejumlah warga berteriak-teriak, ada air datang. Hanya butuh waktu kurang lebih 30 menit, airnya sudah mencapai ketinggian 1,5 meter dan menggenangi seluruh permukiman,” kata salah satu warga, Supadi, kemarin.

Semua warga berhamburan keluar rumah. Karena air datang dengan cepat, warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga, seperti televisi, komputer, kulkas, almari, tempat tidur, dan lain-lain, tidak sempat diselamatkan.

”Warga hanya bisa menyelamatkan barang-barang kecil. Air bercampur sampah langsung merendam perumahan. Warga langsung mengungsi di tempat-tempat yang lebih tinggi. Termasuk di Masjid Ar-Rahmah,” ujarnya.

Derasnya air yang menerjang permukiman, membuat warga panik dan berhamburan menyelamatkan diri. ”Karena panik, yang terpikirkan hanya bagaimana agar bisa selamat. Hanya bisa membawa barang-barang kecil. Saya cuma membawa tas kerja, istri bawa laptop,” katanya.

Ketua RW 26, Winarno, mengatakan, banjir ini menjadi kali kesekian, warga Perumahan Klaster Dinar Indah bertahun-tahun berhadapan dengan banjir. ”Tapi kali ini paling parah. Ketinggian air mencapai 1,5 meter. Sudah tiga kali mengalami kejadian serupa,” ujarnya.

Dikatakannya, di RT 6 RW 26 terdapat 44 rumah yang dihuni sebanyak 31 KK, semuanya terendam banjir.

Menurutnya, banjir akibat jebolnya tanggul yang terletak di sisi timur perumahan. Tanggul tersebut tak kuat menahan derasnya aliran Sungai Pengkol. Terlebih di Ungaran terjadi hujan deras. ”Tanggul tersebut baru dibangun bulan Januari lalu. Sungai Pengkol debit airnya mengalami peningkatan tajam, setelah hujan deras yang mengguyur Kota Semarang dan Ungaran,” katanya.

Dikatakannya, warga telah trauma psikis luar biasa karena harus mengungsi berkali-kali saat banjir datang. Sedangkan pihak pimpinan pengembang PT Asri Sejati yang seharusnya bertanggung jawab atas masalah tersebut justru kabur tidak diketahui batang hidungnya. Bahkan statusnya masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) alias buron oleh pihak kepolisian.

”Kami telah mengadukannya ke DPRD Kota Semarang agar Pemkot Semarang merelokasi Perumahan Dinar Indah karena kerap terendam banjir. Tapi sejauh ini belum memperoleh solusi terbaik,” ujarnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Agus Harmunanto, mengatakan, banjir kali ini disebabkan tanggul jebol di Sungai Pengkol, anak sungai yang tersambung Kalibabon. ”Akibatnya, air  meluap dan masuk ke Perumahan Dinar Indah. Langsung cepat surut, air lewat saja. Pemadam kebakaran juga sudah membersihkan lumpur, kami kirim logistik dan membuat dapur umum. Tidak terlalu besar. Ini hanya 31 kepala keluarga,” katanya.

Semua warga diungsikan dan dievakuasi di daerah yang lebih tinggi. Pihaknya mendirikan tenda di sekitar masjid yang lokasinya lebih tinggi. ”Saat kejadian, ketinggian air mencapai 1,5 meter. Hanya beberapa jam, setelah itu langsung surut. Tidak ada korban jiwa,” terangnya.

Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu saat mendatangi Perumahan Klaster Dinar Indah mengatakan, pihaknya akan segera mengumpulkan seluruh camat di Kota Semarang untuk melakukan pendataan wilayah terkait penanganan bencana banjir dan longsor. ”Harus dilakukan pengecekan mulai dari sistem drainanse di setiap perumahan. Jika ditemukan perumahan yang tidak memiliki drainase yang benar, maka akan diberikan saksi,” katanya.

Selain itu, pihaknya meminta agar perizinan pengembang perumahan diperketat. ”Kami juga akan menggandeng ahli di bidang geologi untuk mencari solusi mengantisipasi terjadinya longsor di kawasan permukiman dengan kontur perbukitan,” tambahnya.

Hevearita menegaskan, harus segera dilakukan langkah preventif dengan meminta para developer untuk mematuhi peraturan daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang ada. ”Kami sedang proses merevisi Perda RTRW yang bertujuan sebagai langkah pengetatan pendirian perumahan, terlebih di daerah yang beralih fungsi.

Tentunya ini melibatkan dari Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) dari Dinas Tata Ruang. Melihat seperti ini, tentunya harus diperketat perizinannya,” katanya.

Sementara itu, tingginya intensitas hujan di wilayah atas mengakibatkan air Sungai Banjir Kanal Barat (BKB) terus naik. Bahkan debit atau volume air di Sungai BKB telah melebihi batas normal dan dinyatakan siaga satu.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, Rabu, (15/2) kemarin, arus air di Sungai BKB sangat deras dan tinggi. Pulau-pulau kecil yang ada di depan Taman Sungai BKB sudah tidak tampak karena tertutup air. Selain itu, di daerah Ngemplak Simongan, air sampai meluber ke daratan.

Salah satu penjaga pintu air di Pleret, Danang, mengakui ketinggian air Sungai BKB sudah di atas normal. Normalnya, ketinggian air 25 sampai 30 sentimeter dengan kode garis hijau. ”Kalau sekarang ketinggian air sudah mencapai 175 sentimeter. Sudah sejak sekitar pukul 14.00 tadi (kemarin),” jelasnya.

Menurutnya, ketinggian air di garis kuning dalam arti siaga satu. Sedangkan jika sudah garis merah artinya bahaya atau awas. ”Paling dasar hijau sampai 100 sentimeter normal. Kalau kuning 105 sampai 200 meter. Kalau ini ketinggian sampai 175 artinya siaga satu. Kalau sudah di atas 200 sentimeter tandanya awas bahaya,” jelasnya.

Selain banjir, bencana longsor terus menghantui sejumlah permukiman bertebing padat penduduk. Bahkan seorang bayi berusia 8 bulan bersama ayah ibunya, tertimbun reruntuhan longsor saat ketiganya tidur nyenyak di rumahnya pada Selasa (14/2) malam. Beruntung, ketiga warga Kelurahan Tegalsari, Candisari  ini selamat meski harus menderita luka-luka. Ayah sang bayi, Solikhin, 30, tak menyangka musibah longsor bakal menimpa keluarganya. Saat itu, dia bersama istri dan anaknya beranjak tidur. ”Sekitar pukul 21.30, tiba-tiba ada suara bergemuruh menimpa atap rumah,” kata Solikhin.

Tentu saja kejadian itu membuat ia panik dan segera menyelamatkan anak istrinya. ”Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa, hanya luka-luka. Sebelumnya tidak ada tanda-tanda karena selama ini tidak pernah longsor,” katanya.

Sebelumnya, bencana longsor juga terjadi di Perumahan Griya Mandiri Pudakpayung; Tegalsari; Kampung Pengkol, Pudakpayung; Kradenan Kelurahan Sukorejo Gunungpati, Bukit Manyaran Permai Blok O, serta Perumahan Bukit Menjangan Asri RT 13 RW 2 Kelurahan Kalipancur, Ngaliyan. (amu/mha/aro/ce1)