DUKUNG PENUH: Ketua PCNU Salatiga, KH Zaenuri, menjelaskan alasan memberikan dukungan ke Rudi-Dance di hadapan warga di Balai Dukuh RW III, Kelurahan Salatiga, kemarin. (Joko Susanto)
DUKUNG PENUH: Ketua PCNU Salatiga, KH Zaenuri, menjelaskan alasan memberikan dukungan ke Rudi-Dance di hadapan warga di Balai Dukuh RW III, Kelurahan Salatiga, kemarin. (Joko Susanto)

SALATIGA – Ketua Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Salatiga, KH Zaenuri menyampaikan alasannya mendukung calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota nomor urut satu, Agus Rudianto-Dance Ishak Palit (Rudi-Dance). Dia menginginkan Salatiga berubah menjadi lebih baik.

Alhamdulillah setelah perjalanan dan ikhtiar yang sangat panjang, kemudian kami mengevaluasi 5 tahun kepemimpinan sebelumnya, yang kami nilai agak kacau. Bahkan tahun ini juga muncul calon incumbent. Untuk itu, kami mencari calon lain,” kata Zaenuri dalam acara blusukan dan sosialisasi bersama ratusan warga di Balai Dukuh RW III, Kelurahan Salatiga, yang diadakan Relawan Sabdo Palon, kemarin malam.

Akhirnya, lanjut Zaenuri, muncul sosok Agus Rudianto yang sudah berpengalaman selama 32 tahun sebagai birokrat, bahkan terbukti menduduki posisi tertinggi sebagai Sekda dan Penjabat (Pj) Wali Kota Salatiga. Selain itu, muncul Dance Ishak Palit yang juga pernah menduduki Ketua Komisi A DPRD dan Ketua KONI Kota Salatiga. Keduanya juga terbukti tidak pernah korupsi selama memimpin, maka dukungan yang patut diberikan pihaknya kepada keduanya.

Menurutnya, dukungan itu juga untuk kemaslahatan umat bukan untuk pribadi. Baginya, pasangan Rudi-Dance adalah yang paling sesuai kehendak masyarakat. ”Setelah mucul Rudi-Dance kita nilai tepat, yang bisa mengubah Kota Salatiga. Apalagi pengalamannya sudah sangat banyak, khususnya Rudi sudah 32 tahun jadi birokrat yang sudah mencapai karir tertinggi sebagai Sekda dan Pj Wali Kota,” ungkapnya.

Dia juga menganggap pasangan tersebut tidak memiliki kepentingan apa pun kecuali untuk perubahan Salatiga. Bahkan keduanya rela berkorban dan tidak punya ambisi. Tak hanya itu, Rudi-Dance juga bersedia membuat perjanjian kerja sama (MoU) bersama masyarakat dan sejumlah organisasi untuk menyejahterakan rakyat saat terpilih dan tidak korupsi.

”Yang jelas kedua pasangan ini juga sebagai simbol pemersatu, keduanya berbeda agama, namun rukun. Seperti halnya kerukunan di Kota Salatiga,” tandasnya.

Acara tersebut juga dihadiri tokoh NU, Junedi Abdullah, anggota DPRD Jateng, Dyah Kartika Permanasari, anggota DPRD Salatiga, B Supriyono dan mantan Sekretaris Demokrat Salatiga, FS Ariandi atau dikenal dengan nama Ari Munyuk.

Dalam kesempatan tersebut, Ari Munyuk mengajak masyarakat untuk melihat lima tahun ke belakang apakah ada perubahan di bawah kepemimpinan sebelumnya. Sebab, ia sendiri menganggap bukannya ada perubahan melainkan yang ada hanya stagnan, dan banyak bangunan mangkrak. Ia juga menyebutkan, kalau Rudi adalah pemimpin yang tipenya ingin mengabdi dan terbukti tidak pernah korupsi, serta hati-hati dalam mengambil kebijakan.

”Rudi-Dance juga rutin sosialisasi dan blusukan, dalam sehari semalam bisa 5-10 tempat didatangi. Keduanya juga maju tanpa beban, karena nantinya tidak memikirkan untuk mengembalikan uang, bagaimanapun semua ini sudah dilakukan secara gotong royong dan patungan,” kata Ari Munyuk.

Calon Wakil Wali Kota Salatiga, Dance Ishak Palit, menyampaikan, melihat dari sisi anggaran yang ada di APBD, penganggaran kesehatan sebenarnya lebih bersifat kuratif. Padahal dalam kesehatan ada slogan yang mengatakan lebih baik mencegah daripada mengobati.

”Tingkat hunian rumah sakit di Kota Salatiga di atas rata-rata 80-84 persen, APBD kita satu tahun Rp 1 triliun dan kekuatan fiskal daerah kita hanya Rp 165 miliar, maka dari itu Salatiga tanpa Indonesia tidak mampu, karena itu tadi kuratif kita hanya sampai ratusan miliar, promotif kita hanya sekitar Rp 300 juta,” jelasnya.

Dance juga menilai indeks neraca kebutuhan pendidikan Salatiga tertinggi di Jawa Tengah, yakni Rp 2 juta per anak. Namun kalau dibandingkan dengan Kota Batu, Malang dari sepatu celana seragam hingga tas semua gratis, sedangkan Salatiga bayar. Bahkan, lanjut Dance, kalau di SMA Negeri 1 bisa sampai Rp 350 ribu per bulan. Jelas masih ada masalah kebijakan di dunia pendidikan. (jks/aro/ce1)