TAK LELAH SOSIALISASI: Rudi-Dance bersama tim pemenangan memaksimalkan sowan ke sejumlah ulama dan tokoh masyarakat Salatiga sebagai pengganti kampanye terbuka. (Joko Susanto)
TAK LELAH SOSIALISASI: Rudi-Dance bersama tim pemenangan memaksimalkan sowan ke sejumlah ulama dan tokoh masyarakat Salatiga sebagai pengganti kampanye terbuka. (Joko Susanto)

SALATIGA – Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Salatiga, Agus Rudianto-Dance Ishak Palit (Rudi-Dance) tak memanfaatkan agenda kampanye terbuka yang sudah dijadwalkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Salatiga, Kamis (9/2). Namun agenda tersebut diganti menjadi blusukan dan sowan menemui para ulama dan kiai besar yang berasal dari Kota Salatiga, seperti KH Wahib, KH Munawir, dan KH Somyani.

Selain itu, mereka juga mendatangi tokoh masyarakat Slamet, janda tua Mursiah, dan menjenguk orang-orang sakit di empat kecamatan yang ada di Kota Salatiga. Bahkan selama sowan, Rudi-Dance didampingi seluruh tim pemenangannya tampak akrab menyapa semua warga yang dikunjunginya. Ia tampak penuh rasa kekeluargaan menyatu bersama warga tanpa ada batasan.

Ketua DPC PDIP Kota Salatiga, Teddy Sulistio, menyatakan, pihaknya memang sengaja tak menggelar kampanye terbuka yang sudah dijadwalkan. Timnya lebih memilih memanfaatkan waktu kampanye tersebut untuk sosialisasi dan melakukan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.

”Kampanye terbuka membutuhkan anggaran besar, paling tidak Rp 200 juta habis untuk kegiatan itu. Ketimbang dananya dihamburkan untuk kampanye terbuka, mending digunakan untuk kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Teddy usai sosialisasi.

Ketua DPRD Kota Salatiga ini juga menyatakan, meski elektabilitas dan popularitas Rudi-Dance menjelang pencoblosan menunjukkan peningkatan signifikan, tapi paslon beserta tim pemenangannya tidak boleh puas dan berbangga diri. Tim pemenangan tidak lengah dan harus bekerja keras memenangkan pertarungan politik ini.

”Masih ada waktu dan kesempatan menggalang dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Target menang harus tercapai, maka dari itu, kita bersama-sama bekerja keras untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya,” ujarnya.

Terpisah, dalam acara sosialisasi bertempat di kediaman Joko Budiono, warga Perumahan Dliko Indah, Kota Salatiga, Rudi-Dance juga mendapat pertanyaan sekaligus dukungan dari warga bernama Dhani Brahmantoro. Dalam acara yang dihadiri anggota DPRD Jateng Dyah Kartika Permanasari dan anggota DPRD Kota Salatiga B Supriyono itu, Dhani mengemukakan pendapatnya karena melihat kondisi Salatiga saat ini.

Ia mengaku gemas dan jengkel karena selama 5 tahun kepemimpinan sebelumnya, justru banyak bangunan mangkrak, sehingga ia berharap di kepemimpinan Rudi-Dance benar-benar bisa mengubah Kota Salatiga. Berbeda lagi dengan Joko Budiono yang mengharapkan Kota Salatiga bisa menjadi kota kesenian.

”Kami pastikan selama 5 tahun ke depan, kepemimpinan Rudi-Dance akan membangun Kota Salatiga supaya tidak dicap sebagai kota yang mangkrak. Melainkan perubahan benar-benar terwujud dan masyarakat sejahtera. Kami akan bekerja semaksimal mungkin, bahkan kami pastikan tidak ada jual beli jabatan, apalagi korupsi,” tegas Dance Ishak Palit.

Menurut mantan Ketua Komisi A DPRD Kota Salatiga ini, budaya juga merupakan identitas bangsa yang harus dihormati, dijaga dan dilestarikan. Tujuannya agar kebudayaan tidak hilang dan bisa menjadi warisan anak cucu kelak. Ia menganggap hal tersebut menjadi tanggung jawab para generasi muda dan perlu dukungan dari berbagai pihak. Sehingga pihaknya nantinya akan memberi wadah sebagai pusat kebudayaan Kota Salatiga.

Sementara itu, Dyah Kartika Permanasari meminta warga untuk beramai-ramai datang ke Tempat Pemugutan Suara (TPS) pada 15 Februari mendatang dengan mencoblos gambar brengose. Sehingga 5 tahun mendatang dapat menikmati perubahan untuk Salatiga Gumregah. (jks/ric/aro/ce1)