GANDENG PERS: Bupati Kendal Mirna Annisa berfoto bersama sejumlah awak media yang bertugas di wilayah Kendal. (KOMINFO KENDAL FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)
GANDENG PERS: Bupati Kendal Mirna Annisa berfoto bersama sejumlah awak media yang bertugas di wilayah Kendal. (KOMINFO KENDAL FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL – Kehadiran insan pers di Indonesia harus bisa mencerdaskan rakyat. Pers tidak hanya menyampaikan informasi, tapi harus mampu menjadi penangkal munculnya informasi bohong atau berita hoax yang akhir-akhir ini marak.

Perkembangan teknologi telah membuat perputaran arus informasi di masyarakat terjadi begitu cepat. Dalam hitungan detik, orang bisa mengunggah suatu kejadian melalui media sosial (medsos). Sisi positifnya, masyarakat akan dapat mengetahui informasi dengan cepat. Sedangkan sisi negatifnya, tak sedikit yang memanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang kebenarannya masih perlu dipertanyakan.

”Di sinilah fungsi pers, yakni untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat akan desas-desus yang orang lain. Pers harus bisa menyajikan informasi yang lengkap, aktual, dan berimbang. Sehingga pembaca tidak hanya mendapatkan informasi saja, tapi juga pendidikan yang memotivasi hidup agar lebih baik,” kata Bupati Kendal, Mirna Annisa, kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin (8/2).

Menurutnya, berita hoax atau berita palsu sering kali isinya hanya menjelek-jelekkan, adu domba, fitnah dan sebagainya. Di mana tujuannya adalah untuk memecah belah, melemahkan pemerintahan, dan menjadikan situasti tidak kondusif.

Faktnya, lanjut Mirna, berita hoax justru menjerumuskan rakyat dari budaya bangsa. Sebab, berita-berita palsu atau bohong sama sekali tidak mengindahkan nilai-nalai kesantunan, kesopanan, dan budi pekerti yang luhur.

”Saya ingin pesan Bapak Presiden RI Joko Widodo kepada insan pers yang mempunyai kekuatan untuk bisa menyiarkan hal yang baik. Nilai-nilai kesantunan, nilai kesopanan, nilai budi pekerti harus diutamakan untuk mendidik dan mencerdaskan masyarakat,” tuturnya.

Mirna juga mengajak kepada masyarakat untuk bersama-sama memerangi berita hoax. Kepada sekelompok atau beberapa oknum yang masih sering menyampaikan hal yang berkaitan fitnah, berita-berita bohong, hasutan, dan kebencian untuk kembali ke budaya bangsa yang dikenal santun dan sopan.

Apalagi berita-berita hoax tersebut disampaikan di media sosial yang terbuka. Di mana bisa diakses oleh siapa saja, termasuk anak-anak dan generasi muda.  ”Kasihan jika sampai informasi hoax selalu muncul. Hal itu dapat merusak mental generasi menerus yang akhirnya lupa akan budaya luhur negeri ini,” katanya.

Terkait Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari hari ini, pihaknya sebagai pemimpin daerah terus menjalin kerja sama dengan insan pers maupun media massa. Sehingga ia bisa menyampaikan hasil pembangunan dan tersampaikan kepada masyarakat. ”Kami juga mendapatkan masukan perihal pembangunan di Kendal yang masih perlu perbaikan dan pembenahan,” ujarnya.

Orang nomor satu di Kendal itu mengaku tahun ini berencana akan membangun media centre yang terintegrasi dengan data centre, public complain dan press room. Harapannya, dengan adanya media centre ini bisa mendorong keterbukaan informasi publik di Kendal.

”Masyarakat bisa mengakses data-data seluruh Kendal ataupun melakukan komplain mengenai pelayanan publik di Kendal. Insan pers juga bisa mengkses data-data yang dibutuhkan untuk kebutuhan berita,” katanya.

Menurutnya, kehadiran pers sangat dibutuhkan oleh pemerintah. Sebab, pers tidak hanya menayangkan dan memberitakan masalah-masalah politik, tetapi juga berita yang mencerdaskan dan ikut mendorong peningkatan kesejahteraan rakyat. ”Pers haruslah prorakyat, mencerdaskan rakyat, menjadi corong rakyat, dan berjuang untuk kesejahteraan rakyat,” ujarnya. (bud/adv/aro/ce1)