Pak Ratno Dulu Jualan Keliling, Kini Punya 4 Cabang

Warung-Warung Bakso Beken di Kota Semarang (2)

2570
MAKNYUS: Salah satu karyawan Bakso Pak Ratno saat menuang bakso yang siap saji. (AFIATI TSALITSATI)
MAKNYUS: Salah satu karyawan Bakso Pak Ratno saat menuang bakso yang siap saji. (AFIATI TSALITSATI)

Warung bakso Pak Ratno pasti sudah Anda kenal. Sesuai namanya, warung ini dirintis dan dikelola oleh Suratno. Kini, warung Bakso Pak Ratno sudah memiliki empat cabang.

AFIATI TSALITSATI

JALAN panjang penuh liku dilewati Suratno dalam merintis usaha warung bakso. Ia memulai usahanya sejak 1975 atau sekitar 42 tahun lalu. Kala itu, ia masih berjualan bakso keliling dengan gerobak di Jakarta.

Ia menceritakan kisahnya berkeliling di ibu kota yang begitu berat dan sarat dengan persaingan antar pedagang. Tak bertahan lama, setelah 5 tahun berjualan keliling, pada 1980, pria kelahiran Sukoharjo ini hijrah menyusul istrinya yang mengadu nasib di Semarang dengan berjualan di Pasar Johar.

”Di Jakarta kalo gak punya warung ya kalah, karena gak semua orang mau beli di gerobak. Pikirannya udah macem-macem dulu, kotor lah, gak rajin lah, wah susah. Selain itu, udah kalah modal sama yang di warung-warung,” ujar pria yang akan berulang tahun ke-66 pada 28 Februari mendatang ini.

Pak Ratno –begitu sapaan akrabnya—mengaku, sampai saat ini ia masih belum berhenti untuk belajar. Dikatakannya, berusaha dan sudah mapan itu bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Tapi, justru harus lebih mawas lagi dengan terus memperhatikan perkembangan sesuai kemauan konsumen.

”Bukan saya tidak puas dengan apa yang sudah dicapai, kita kan tetap usaha dengan tujuan memberikan hasil yang maksimal untuk konsumen, ya biar tetap berkembang dan gak bosan lah,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kini, Bakso Pak Ratno telah memiliki empat cabang yang bisa Anda kunjungi. Yakni di Jalan Bina Remaja seberang RS Banyumanik, depan Swalayan ADA, dan dua di Jalan Jenderal Anton Sujarwo (Jalan Perintis Kemerdekaan) kawasan Sukun. Namun di antara empat tempat itu, cabang di Jalan Bina Remaja Banyumanik yang paling ramai. Apalagi sejak dibangun tol Bawen-Semarang. Banyak pengendara mobil yang memilih lewat tol ketimbang melewati jalan Ungaran-Semarang. Akibatnya, dua warung di Jalan Jenderal Anton Sujarwo mulai sedikit berkurang pengunjungnya.

”Itu rezeki kan sudah ada yang atur, tapi yang kena dampaknya ya bukan saya aja. Pedagang lain yang di situ juga beberapa sudah tutup, karena gak laku,” ungkapnya.

Ia mengatakan, selama hampir 42 tahun hanya mengembangkan bisnis baksonya. Alasannya, agar bisa fokus dan maksimal menjalankannya. Dari bisnis baksonya pun ia dapat menyekolahkan kedua putrinya hingga menjadi sarjana manajemen dan teknik industri. Keduanya kini telah menikah dengan anggota polisi dan tentara. Dua menantunya itu juga sering ikut membantu berjualan bakso.

Alhamdulillah, menantu saya juga tidak ada yang malu untuk ikut jualan bakso kalau sedang libur tugas. Kadang mereka juga bawa teman-temannya, kadang sengaja saya gratiskan kan itu nggak setiap hari. Strategi juga biar mereka kalau mbakso ya di tempat saya hehe,” katanya sambil membenarkan topi.

Dikatakan, bakso yang dijual adalah produksinya sendiri. Salah satu inovasi yang dibuatnya yakni bakso besar dengan isi urat. Satu porsi dihargai Rp 14 ribu dengan 6 butir bakso kecil dan 1 besar. Variasi lainnya, ia menambahkan jeroan jika ada permintaan dari konsumennya. Tak hanya itu, sejak 5 tahun terakhir Ratno menambahkan beberapa menu baru yang tidak lepas dari bakso, yakni mi ayam.

”Itu salah satu inovasi yang saya lakukan, karena sering pelanggan datang terus tanya ada mi ayam apa tidak? Ya sudah, untuk memuaskan mereka, saya putuskan untuk menambahkannya sebagai menu pilihan. Alhamdulillah baksonya semakin laris juga,” ucap kakek 3 cucu ini penuh syukur.

Dari penjualan baksonya, ia mengaku setiap tahun selalu melaksanakan ibadah umrah dan telah mengajak seluruh keluarganya. Ia mengatakan, bisnisnya tidak lepas dari peran saudara yang juga ikut membantu, baik dalam produksi bakso, maupun sebagai pramusaji. Kini, jumlah karyawan yang dimilikinya sebanyak 16 orang yang dibagi di empat cabang.

”Semua karyawan masih tetangga, dan ada saudara juga. Semuanya dari Sukoharjo, Solo. Membuka lapangan pekerjaan ya sekaligus ibadah secara tidak langsung lah,” katanya.

Ratno mengaku, kini dia telah pensiun dan menyerahkan segala sesuatu pada anak buahnya. Ia hanya datang memantau ke cabang-cabangnya. Sesekali membantu menyajikan bakso jika diminta oleh pelanggan fanatiknya.

”Sekarang ya menikmati hasil, biar anak-anak yang meneruskan. Sudah tua mau kerja terus fisiknya gak mampu yang berat-berat. Sudah pernah ngalami susah senangnya ya sudah,” ucapnya santai. (*/aro/bersambung/ce1)\