Banjir Bandang Landa Ngaliyan, Mobil Hanyut sejauh 6 Km

1884

SEMARANG – Banjir bandang mirip tsunami menerjang lima RT di Perumahan Wahyu Utomo, Kelurahan Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan, Semarang, Selasa (7/2) sekitar pukul 00.30 kemarin. Selama 1 jam lebih, banjir bandang tersebut mengobrak-abrik sebagian permukiman warga, terutama yang berdekatan dengan Sungai Pengilon, yakni di wilayah RT 2, RT 3, RT 4, RT 7 dan RT 9  RW 6. Saat banjir bandang terjadi, rata-rata warga sedang terlelap tidur. Tak ayal, musibah yang terjadi tengah malam tersebut membuat warga kalang kabut.

Parahnya lagi, banjir tersebut disertai lumpur. Sehingga banyak barang berharga, seperti televisi, kulkas, maupun peralatan rumah tangga lainnya rusak dan terhanyut. Bahkan sebuah mobil Suzuki Carry Futura milik Effendy terhanyut hingga sejauh 6 kilometer. Mobil tersebut ditemukan di daerah Mangkang dalam kondisi rusak parah.

”Ini banjir kali ketiga dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Tapi ini terparah. Banjir datang saat warga terlelap tidur kurang lebih pukul 00.30. Paling parah di RT 9, ada rumah warga yang tenggelam, karena ketinggian air mencapai 2,15 meter,” kata Sekretaris RW 6, Ary, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (7/2).

Dikatakannya, warga tak mampu berbuat banyak. Sebab, banjir datangnya sangat cepat. Bahkan satu mobil Suzuki Carry Futura milik Effendy ikut terhanyut. Mobil tersebut ditemukan di daerah Mangkang. ”Kalau mobil saja terhanyut, barang-barang yang lebih kecil lainnya tentu saja terhanyut,” ujarnya.

Saat kejadian, mobil tersebut diparkir di depan rumah. Mobil berada di selatan Sungai Pengilon yang meluap. Permukiman warga dengan Sungai Pengilon berjarak kurang lebih 8 meter di RT 9 RW 6. ”Air bercampur lumpur masuk rumah. Banyak barang yang tidak bisa diselamatkan, lha wong terjadi saat orang sedang tidur. Banjir sangat cepat. Hingga pukul 02.00 sudah mulai surut,” ujarnya.

Ary menjelaskan, secara keseluruhan ada lima RT, yakni RT 2, RT 3, RT 4, RT 7 dan RT 9, semuanya berada di RW 6 Perumahan Wahyu Utomo, Kelurahan Tambakaji. ”Masing-masing RT hanya sebagian rumah yang kena lho, tidak semua kena,” katanya.

Sebelum banjir bandang datang, lanjut dia, hujan mengguyur sejak sore. Pihaknya mengaku belum mengetahui secara pasti apa penyebab banjir. Namun berdasarkan informasi yang berkembang, banjir bandang terjadi akibat adanya talut jebol milik PT IPU di belakang RS Permata Medika Ngaliyan. ”Tapi kepastiannya seperti apa belum tahu. Di daerah belakang RS Permata Medika itu kan ada bukit yang dikepras, talutnya berada di situ,” ujarnya.

Meski terbilang parah, warga bersyukur karena tidak ada korban jiwa dalam banjir bandang tersebut. Kini, bantuan dari berbagai pihak berdatangan, baik dari kelurahan, kecamatan, Basarnas, pemadam kebakaran, BPBD Kota Semarang, Koramil, maupun Kepolisian.

”Warga membuat dapur umum karena semua perangkat rumah tangga rata-rata terhanyut. Tadi siang juga mendapat bantuan mi instan, nasi bungkus dan lain-lain, karena warga tidak bisa memasak, lantaran peralatannya rusak dan terhanyut,” katanya.

Dapur umum didirikan di salah satu rumah warga dan di masjid setempat. Sejak pagi (kemarin) telah dilakukan kerja bakti untuk membersihkan lumpur. Baik yang berada di dalam rumah warga, jalan kampung, termasuk di tempat ibadah. ”Besok (hari ini) juga dilanjutkan untuk kerja bakti masal untuk membersihkan lumpur,” ujarnya.

Haryono, salah satu warga hanya bisa pasrah melihat harta bendanya terendam banjir. Saat kejadian, ia bersama keluarganya tidur pulas. ”Kayaknya sekitar pukul 23.30, tiba-tiba air masuk rumah, fokus saya hanya menyelamatkan keluarga ke tempat yang lebih tinggi,” tuturnya.

Ia mengakui, jika saat ini pendangakalan Sungai Pengilon cukup parah. Sebelumnya sungai tersebut memiliki kedalam sekitar 3-4 meter, namun saat ini kurang dari 2 meter. ”Tiba-tiba air meluap, Mas. Tahun ini yang paling parah,” katanya.

Hal sama diungkapkan Agung Putro, warga RT 3 RW 6. Menurut dia, saking besarnya air bah, membuat warga panik dan lebih memilih untuk menyelamatkan diri dari pada barang berharga yang ada di rumah. Total ada empat rumah warga yang barang-barangnya tidak bisa diselamatkan lantaran digulung ganasnya air bah. ”Ada empat rumah di RT 3 yang paling parah, barang-barangnya sudah tidak bisa diselamatkan,” ujarnya.

Menurut Ketua Kelurahan Siaga Bencana (KSB) Tambak Aji, M Anwar, banjir tersebut kiriman air dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Desel yang mengalir deras hingga ke sungai yang membelah Perumahan Wahyu Utomo tersebut. Lantaran sedimentasi di sekitar Wahyu Utomo juga tinggi dan sebagian belum dilengkapi dengan bangunan talut, air yang disertai lumpur melimpas ke perumahan warga. ”Saya langsung menelusuri penyebab tingginya arus air. Ternyata berasal dari Sungai Desel,” katanya.

Lurah Tambakaji, Agus Muryanto, mengatakan, pihaknya telah melakukan penangangan awal atas terjadinya banjir bandang yang terjadi di RW 6 tersebut. ”Kami melakukan penanganan bekerja sama dengan berbagai pihak. Terutama mendirikan dapur umum untuk warga,” ujarnya.

Selain itu, terkait kesehatan warga telah ditangani oleh tim Puskesmas. Kondisi warga tetap sehat dan tidak ada korban jiwa. Fokus penanganan saat ini kerja bakti untuk membersihkan lumpur yang masuk di rumah warga. ”Kami juga bekerja sama dengan PSDA, BPBD, bersama warga bergotong royong untuk melakukan pembersihan,” katanya.

Ditanya mengenai dari mana asal muasal banjir bandang, Agus tidak berani memastikan. Hal itu masih ditelusuri oleh pihak yang memiliki kewenangan. ”Yang jelas ada luapan aliran dari sungai. Memang ada dugaan akibat adanya embung milik PT IPU, tapi kan hal itu masih ditelusuri,” ujarnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Agus Harmunanto, mengatakan, ada dua wilayah yang dilanda banjir bandang, yakni Mangkang dan Ngaliyan. Untuk banjir Mangkang akibat tanggul Sungai Beringin jebol di empat titik. ”Di Mangkang ada sekitar 100 rumah yang terendam sementara di Ngaliyan ada sekitar 25 rumah,” terang Agus Harmunanto.

Mendapati informasi banjir bandang di dua kawasan tersebut, pihaknya langsung mengirimkan petugas dan logistik seperti makanan dan selimut. Warga yang terkena dampak juga dievakuasi ke tempat yang aman. ”Kami bekerja sama dengan DPU dan Dinas Kebakaran untuk melakukan pembersihan lumpur baik yang di jalan maupun dalam rumah menggunakan mobil PMK dan baghoe dari DPU,” katanya.

Selain itu, untuk menambal tanggul Sungai Beringin yang jebol, pihaknya bersama DPU telah mengirim karung pasir. Disinggung mengenai bantuan materiil ataupun pembangunan rumah yang memang kondisinya dalam kategori rusak parah, Agus menyatakan masih perlu kajian. ”Sementara yang kita lakukan masih kegawatdaruratan, kalau untuk bantuan kerusakan rumah dan kerugian materiil memang belum,” tandasnya.

Camat Ngaliyan Heroe Soekendar pagi kemarin langsung terjun ke lokasi melihat kondisi warga yang menjadi korban banjir bandang. Camat juga langsung mengoordinasikan dengan berbagai pihak terkait untuk membersihkan lokasi pasca banjir yang dipenuhi lumpur.

Kendati begitu, Camat Heroe masih berusaha menelusuri penyebab limpasan air sungai tersebut. Pihaknya akan mengusulkan ke Pemkot Semarang melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan untuk membangun talut sungai tersebut. ”Pemerintah kecamatan sendiri memang tidak ada anggaran untuk membangun talut, sehingga harus mengusulkan kepada Pemkot Semarang,” katanya.

Selain di Kelurahan Tambakaji, banjir juga menggenangi dua RW di Kelurahan Wonosari, Ngaliyan, yakni RW 6 dan 7 yang juga merendam puluhan rumah milik warga dan SDN Wonosari 1. Banjir terjadi akibat meluapnya Sungai Beringin.

Banjir bandang yang melanda Perumahan Wahyu Utomo di luar prediksi. Sebab, selama ini kondisi Sungai Desel aman-aman saja. Bahkan tidak masuk kategori mendesak untuk dinormalisasi. Pemkot Semarang pun selama ini juga tidak menganggarkan dana untuk perbaikan talud maupun pengerukan sedimentasi sungai tersebut.

”(banjir bandang) Yang di Ngaliyan itu kejadian baru. Karena selama ini aman-aman saja. Artinya tidak masuk dalam kategori darurat atau mendesak untuk dilakukan normalisasi. Bahkan ketika hujan debit air yang meningkat tidak sampai meluber ke permukiman warga,” terang Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang Iswar Aminuddin kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Iswar mengakui kondisi Sungai Desel selama ini memang belum menjadi perhatian khusus. Sebab, kondisinya memang masih normal. Karena itu, DAS Desel tidak masuk dalam agenda normalisasi tahun ini maupun tahun-tahun sebelumnya. ”Selama ini juga tidak ada anggaran untuk normalisasi sungai tersebut,” katanya.

DPU sendiri saat ini hanya bisa melakukan penanganan yang bersifat darurat saja. Seperti melakukan pembersihan lumpur di permukiman warga menggunakan alat berat dan menambal tanggul-tanggul yang kondisinya memang rendah menggunakan karung berisi tanah. Untuk penanganan permanen pihaknya masih melakukan kajian.

”Saat ini kita lakukan penanganan darurat dulu, seperti pembersihan lokasi, penanggulan talut menggunakan karung. Karena kalau penanganan permanen butuh kajian mendalam,” tandasnya. ”Kita akan cari tahu penyebab pastinya dulu, karena bagian atas memang perlu ditelusuri, apakah ada penyempitan atau karena apa,” imbuhnya.

Sementara itu, banjir bandang juga terjadi di tiga kelurahan di Kecamatan Tugu, yakni Kelurahan Mangunharjo, Mangkang Wetan dan Mangkang Kulon. Ratusan rumah warga terendam banjir setinggi 50 sentimeter hingga 1 meter sejak pukul 00.00 malam akibat jebolnya tanggul Sungai Beringin. Selain rumah warga, dua sekolah, yakni SMP Muhammdiyah 9 dan SDN Mangkang Wetan 2 juga terendam banjir.

Lurah Mangkang Wetan, Sugiyarti, mengatakan, banjir menggenangi wilayah RW 3, 4, 5, 6 dan 7. Yang terparah wilayah RW 7 yang merendam 75 rumah. Banjir tersebut disebabkan oleh jebolnya tanggul Sungai Beringin sebanyak 2 titik dengan panjang sekitar 20 meter per titik. ”Beberapa ruas jalan tergenang air dan belum surut sampai pagi ini (kemarin), ratusan rumah warga kebanjiran,” ujarnya.

Camat Tugu, HM Yenuarso, menambahkan, selain akibat jebolnya tanggul Sungai Beringin, banjir juga diperparah oleh jebolnya tanggul sawah di Kelurahan Mangunharjo yang kebetulan bersebelahan dengan Kelurahan Mangkang Wetan. Akibatnya, ratusan hektare sawah milik warga terendam. ”Tanggul sawah ada yang jebol di tiga titik, padahal kemarin sudah diperbaiki,” tuturnya.

Selain itu, RW 1 Kelurahan Mangkang Kulon juga tak luput dari ganasnya banjir akibat meluapnya Sungai Plumbon. Derasnya aliran sungai membuat dua titik tanggul mengalami kerusakan yang cukup parah hingga merendam sekitar 60-an rumah warga. ”Ada tanggul yang jebol sepanjang 20 meter di Sungai Plumbon yang menutup akses jalan, saat ini sedang dibersihkan dengan alat berat,” katanya. (amu/den/ida/zal/aro/ce1)

Tinggalkan Komentar: