Rp 300 Ribu Upal Dijual Rp 100 Ribu

819
JUAL UPAL: Kasubbag Penmas Bidang Humas Polda Jateng AKBP Agung Adhi Aristyawan (kiri) saat menunjukkan upal yang diamankan dari tangan Prijo di Polres Semarang, kemarin. (Eko.wahyu.budiyanto@radarsemarang.com)
JUAL UPAL: Kasubbag Penmas Bidang Humas Polda Jateng AKBP Agung Adhi Aristyawan (kiri) saat menunjukkan upal yang diamankan dari tangan Prijo di Polres Semarang, kemarin. (Eko.wahyu.budiyanto@radarsemarang.com)

UNGARAN – Alih-alih ingin cepat kaya, kakek 72 tahun ini justru harus mendekam dibalik jeruji besi. Parijo Widodo, 72, warga Kota Salatiga diciduk oleh satuan reskrim Polres Semarang karena kedapatan tengah mengedarkan uang palsu (upal). Dari tangan kakek enam cucu ini, polisi mengamankan barang bukti upal pecahan Rp 100 ribu sebanyak 362 lembar atau senilai Rp 36.200.000.

Kasubbag Penmas Bidang Humas Polda Jateng AKBP Agung Adhi Aristyawan saat gelar perkara di Mapolres Semarang mengatakan penangkapan dilakukan di Banaran Cafe, Kecamatan Bawen.“Yang bersangkutan kami amankan usai bertransaksi dengan anggota yang menyamar sebagai pembeli,” kata Agung, Senin (6/2).

Pengungkapan peredaran upal tersebut berawal dari informasi warga yang menyebutkan ada orang dari Salatiga hendak mengedarkan uang palsu. Parijo dipancing untuk bertemu dan bertransaksi langsung di Banaran Cafe, Bawen sembari membawa upal, Jumat (13/1).

Di hari yang telah ditentukan tersebut, Parijo datang sekitar pukul 20.30. Dia mengeluarkan upal Rp 100 ribu sebanyak 300 lembar kepada anggota Reskrim yang menyamar. Setelah dipastikan lembaran uang itu adalah palsu, tim Resmob yang dipimpin Kasat Reskrim AKP Hartono langsung meringkus tersangka. “Dikembangkan anggota ke rumahnya dan didapati upal yang sama, pecahan Rp 100 ribu sebanyak 62 lembar. Jadi dari pelaku, total upal yang diamankan ada 362 lembar,” katanya.

Sementara itu, Parijo mengaku terpaksa menjual upal lantaran penghasilannya sebagai buruh tani tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Model penjualan upal tersebut yaitu 3 berbanding 1. “Upal Rp 300 ribu saya hargai Rp 100 ribu asli,” katanya. “Itu saya dapat dari kenalan yang ketemu di warung kopi tak jauh dari rumah,” imbuhnya.

Sementara itu, Kapolres Semarang AKBP V Thirdy Hadmiarso meminta masyarakat lebih meningkatkan kewaspadaan atas peredaran upal. Biasanya upal beredar langsung di pasar-pasar tradisional dengan modus dibelanjakan kebutuhan pokok atau membeli rokok. Apalagi di masa jelang pilkada serentak seperti sekarang ini. Diketahui Kota Salatiga, wilayah yang dikelilingi Kabupaten Semarang, hendak menggelar pilkada pada Februari ini.

“Cek keaslian lebih dulu sebelum menerima uang agar tidak menjadi korban. Biasanya di masa jelang pilkada ada peningkatan peredaran upal. Kami masih mengembangkan kasus ini untuk mengungkap asal mula upal dan motifnya,” katanya. Atas dugaan pengedar upal ini, Parijo disangka melanggar pasal 36 ayat 2 dan 3 UU No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, ancaman hukuman 15 tahun penjara. (ewb/zal)