Ajak Donasikan Rp 5 Ribu, Tiap Sepasang Sepatu

Menilik Usaha yang Menggabungkan Bisnis dan Sedekah

667
KREATIF: Erna Dyah Krisnaningrum dengan beragam sepatu handmade hasil kreasinya. (Sigit.andrianto@radarsemarang.com)
KREATIF: Erna Dyah Krisnaningrum dengan beragam sepatu handmade hasil kreasinya. (Sigit.andrianto@radarsemarang.com)

Berbisnis sembari membantu sesama. Itulah yang dilakukan Erna Dyah Krisnaningrum. Ia mengembangkan bisnis sepatu wanita dengan mengajak pembelinya mendonasikan uang untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Seperti Apa?

SIGIT ANDRIANTO

SUDAH sejak awal duduk di bangku kuliah, Erna Dyah Krisnaningrum mengembangkan bisnis sepatunya. Sepatu-sepatu wanita yang ia buat adalah sepatu handmade yang mengangkat model sepatu luar negeri zaman dulu dengan bentuk lancip di ujungnya.

”Ini model Winckle Picker, zaman dulu ngetrend di luar negeri. Tapi sekarang masih ngetrend juga sih. Harapannya dengan model ini, bisa lebih mudah diingat masyarakat,” ujar perempuan yang menamai produk sepatunya Winkle Shoes ini.

Bisnis ini dikembangkan dengan modal yang ia pinjam dari sang kakak. Saat itu, sang kakak memberikan pinjaman uang sebanyak tiga juta rupiah. Dari ketekunannya, uang modal itu kini bisa menghasilkan omzet yang lumayan setiap tahunnya.

Tidak hanya berbisnis semata. Erna juga mengajak pembelinya menyisihkan uang untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Ia mengajak pembeli untuk mendonasikan uang sebesar Rp 5 ribu untuk sepasang sepatu yang dibeli. ”Masih banyak yang membutuhkan uluran tangan. Dan saya menjalankan bisnis ini landasannya juga untuk beribadah,” ujarnya.

Erna bercerita, awal mula mendirikan bisnis ini, dirinya didorong rasa prihatin. Ia melihat masih banyak orang di sekitar yang membutuhkan bantuan untuk meningkatkan taraf hidupnya. Bisnis ini, kata dia, juga sebagai rasa syukur atas berkah yang telah ia terima. Dirinya berharap, bisnis ini juga dapat memberikan berkah bagi orang-orang di sekitarnya.

”Kami percaya 9 dari 10 pintu rezeki datang dari perdagangan. Tapi juga harus tekun dan bersungguh-sungguh. Dan tentunya membutuhkan proses yang sangat panjang, juga untuk bisa menjadi besar,” ujarnya.

Yang terpenting, katanya, bisnis ini bukan untuk memperkaya pribadi. Tapi juga untuk menyejahterakan orang-orang di sekitar. ”Itu yang akan membuat kami bahagia nantinya,” timpalnya.

Bahagia, menurut Erna, adalah ketika dirinya bisa memberikan bantuan kepada orang sekitar. Kepada sekolah yang membutuhkan, fakir miskin, dan para yatim-piatu. Melihat senyum yang muncul dari wajah mereka, merupakan kebahagiaan tersendiri baginya.

Bisnis ini semula, dibangun Erna dengan penuh perjuangan. Berbekal pengetahuan bisnis yang minim, ia harus belajar bisnis dari pengusaha sepatu, magang di perusahaan sepatu dan hingga terjun langsung dalam pembuatan sepatu di pabrik.

Dirinya juga menyadari bahwa setiap upaya pasti akan menghadapi hambatan. Hal itu juga yang ia rasakan selama ini. Namun, ia tidak menyerah untuk dapat mengembangkan bisnisnya ini. ”Dalam berbisnis, yang terpenting adalah menghilangkan rasa malas pada diri sendiri terlebih dahulu. Karena benar lho, malas itu mengalihkan dunia hehe….” ujarnya sembari tertawa.

Ke depan, ia tertantang untuk tetap bisa menghasilkan produk terbaik bagi para pelanggannya. Produk terbaik, menurutnya, datang dari manajemen terbaik. (*/ida/ce1)