Sampai Luar Kota, Rela Dibayar Seikhlasnya

Gunarto, Pelatih Olahraga Barongsai Siswa Sekolah

578
Gunarto (Nurchamim@radarsemarang.com)
Gunarto (Nurchamim@radarsemarang.com)

Gunarto adalah pelatih barongsai di sejumlah sekolah di Kota Semarang. Dalam melatih seni sekaligus olahraga barongsai ini, dia tidak pasang tarif.

HARIYANTO

GUNARTO menjadi pelatih kesenian barongsai sejak 1990. Dia melatih barongsai di SMP Karangturi, Sekolah Mataram, dan SD Marsudirini BSB, dan sejumlah sekolah lainnya.

”Kalau dulu di Sekolah Mataram ada sekitar 60-an anak. Terus di Gang Lombok, Marsudirini BSB, dan Perkumpulan Hoo Hap Semarang ada sekitar 50 anak,” ungkap pria 52 tahun ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tak banyak permintaan selama melatih barongsai di berbagai tempat. Gunarto mengaku, menjadi pelatih barongsai atas panggilan jiwa. Bahkan, ia rela menghabiskan waktunya untuk menularkan cara bermain barongsai kepada siapa pun.

”Soal honor, saya tidak menuntut banyak. Karena saya sendiri juga dilahirkan di klub yang dulunya juga bermain barongsai. Jadi, hanya sukarela. Istilahnya menularkan kemampuan saja,” ujarnya.

Gunarto mengaku bisa memainkan barongsai ketika menekuni ilmu bela diri di sebuah perkumpulan di Gang Tengah Pecinan. Saat itu, ia masih berusia 10 tahun. Diajari ilmu beladiri kung fu oleh seseorang warga keturunan Tionghoa.

”Awalnya latihan di Perkumpulan Beladiri Hoo Hap. Di situ saya belajar kungfu, guru saya nama panggilannya Kong Acong, sekarang sudah meninggal. Beliau asli Gang Tengah. Karena di perkumpulan itu ada juga barongsainya, terus saya diminta ambil bagian untuk memainkan,” kenangnya.

Diakuinya, memainkan barongsai tidaklah mudah. Awalnya, ia juga merasa kesulitan meski telah memiliki bekal dasar ilmu bela diri. ”Kalau tidak memiliki basic kungfu semakin susah lagi. Karena harus memadukan langkah,” katanya.

Permainan barongsai sekarang, lanjut Gunarto, cenderung lebih ke olahraga. Selain itu, model barongsai sekarang lebih mengacu pada gaya Malaysia dan Singapura. ”Orang sekarang bilang barongsai bebek, mulutnya lebih bulat. Kalau dulu istilahnya jalan saja berbeda. Depan belakang itu kan seperti orang berjalan kaki kiri tangan kanan. Kaki kiri tangan kanan. Kalau sekarang ini berbeda. Kaki kanan-kanan semua, kaki kiri-kiri semua,” jelasnya.

Gunarto sendiri tidak hanya melatih anak-anak maupun orang dewasa di Kota Semarang. Tapi sampai luar kota. ”Di Salatiga juga melatih, Juwana Pati juga. Ya, nglaju naik motor. Di Manado juga pernah ditawari, tapi saya pikir itu terlalu jauh, akhirnya saya lepaskan,” terangnya.

Menurutnya, melatih barongsai harus memiliki kesabaran tinggi. Ia biasa melatih anak TK tidak lama, hanya sekitar 30 menit setiap kali pertemuan. Namun hal itu dilakukan secara kontinu. Sedangkan melatih orang dewasa bisa sepuasnya. ”Kalau orang dewasa dilatih 1 jam itu pasti kurang. Kalau anak TK, melatih kebiasaan saja supaya motorik gerakannya berkembang. Kalau sudah punya minat ya diajari terus, karena kalau hanya sekali dua kali kan mereka tidak hafal. Paling gak 10 kali latihan baru bisa hafal,” terang warga Pondok Majapahit, Mranggen, Demak ini. (*/aro/ce1)