Ratusan Siswa Deklarasi Lawan Hoax

623
ANTIHOAX: Ratusan siswa membubuhkan cap dan tanda tangan sebagai bentuk simbolis perlawanan terhadap informasi yang tidak sesuai fakta. (Eko.wahyu.budiyanto@radarsemarang.com)
ANTIHOAX: Ratusan siswa membubuhkan cap dan tanda tangan sebagai bentuk simbolis perlawanan terhadap informasi yang tidak sesuai fakta. (Eko.wahyu.budiyanto@radarsemarang.com)

UNGARAN – Ratusan siswa SMA/SMK di Kabupaten Semarang mendeklarasikan perlawanan terhadap informasi yang tidak jelas kebenarannya alias hoax, Sabtu (4/2) lalu. Deklarasi dilakukan di pendopo kantor Bupati Semarang.  Selain para siswa, deklarasi juga diikuti komunitas netizen dari Kota Ungaran dan Kota Ambarawa. Deklarasi dilakukan dengan membubuhkan cap tangan di spanduk.

Salah satu siswi SMK Widya Praja Ungaran, Mimin Untari, 17, mengatakan, saat ini informasi yang tidak sesuai fakta banyak ditemukan di media sosial. “Isinya provokatif dan menyuguhkan berita yang belum tentu jelas kebenarannya,” ujarnya.

Menurutnya, aksi deklarasi tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap maraknya informasi hoax di media sosial (medsos).

Ramayana , 16, siswa SMK Dr Cipto Ambarawa menambahkan, saat ini netizen harus benar-benar cedas dalam membaca informasi yang beredar luas di dunia maya. “Bisa saja itu ulah pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memecah belah bangsa, kita harus cerdas,” katanya.

Selain cap tangan, ratusan siswa juga membubuhkan tanda tangan di spanduk yang sudah disediakan tersebut sebagai bentuk simbolis perlawanan terhadap hoax. Kegiatan yang diinisiasi oleh Forum Komunikasi Wartawan Kabupaten Semarang (FKWKS) dan  Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) ini juga diisi sarasehan bertajuk ‘Cerdas dan Sehat Bermedia Sosial’.

Penulis yang juga seorang blogger Semarang, Dewi Rieke, mengatakan, banyak yang menganggap media sosial adalah dunia maya, sehingga mereka bisa bertingkah-laku seenaknya.  “Orang sering melupakan etika dalam berhubungan di dunia maya,” kata Dewi.

Ketua Mafindo, Septiaji Eko Nugroho, mengatakan, faktor mudahnya informasi hoax menyebar di dunia maya, di antaranya karena rendahnya budaya literasi atau membaca buku di Indonesia. “Indonesia berada di posisi paling buncit nomor dua dari 61 negara dalam hal literasi. Budaya masyarakat kita adalah budaya ngerumpi bukan membaca,” ucapnya.

Faktor lain mudahnya informasi hoax menyebar yakni tidak adanya klarifikasi berita oleh para netizen. Sehingga semua informasi, baik fakta maupun fiksi, ditelan mentah-mentah. “Ini menjadi masalah ketika yang dibicarakan adalah berita yang belum tentu kebenarannya, sementara budaya literasi rendah,” tuturnya.

Jurnalis media cetak, Bowo Pribadi, yang menjadi narasumber dalam sarasehan mengatakan, ketidakbenaran informasi bisa berupa visual, tekstual dan lisan. Sementara saat ini penyebarluasan berita bohong paling masif masih melalui medsos.

Ia mencontohkan pada saat peristiwa bom Thamrin beberapa waktu lalu, beredar banyak foto hoax. Di antaranya foto perempuan berhijab sedang berswafoto dengan latar belakang pelaku aksi teror. Foto tersebut ternyata manipulasi digital dengan cara menggabungkan dua frame menjadi satu frame. “Dalam dunia fotografi jurnalistik, visual tersebut merupakan kebohongan,” ujarnya.

Hadir dalam deklarasi anti hoax tersebut Bupati Semarang Mundjirin, Ketua DPRD Kabupaten Semarang Bambang Kusriyanto dan perwakilan dari TNI dan Polri. (ewb/aro)