33 C
Semarang
Minggu, 31 Mei 2020

Air Hujan Rusak Lapak Pasar Peterongan

Another

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

SEMARANG – Baru saja menempati lapak-lapak setelah diresmikan, pedagang mengkritisi kondisi fisik Pasar Peterongan. Beberapa pedagang mengeluhkan lapak dan barang dagangannya harus basah bahkan rusak terkena air hujan yang mengalir deras dari atap lapaknya. Konstruksi bangunan atap yang kurang baik membuat air hujan banyak masuk dan menggenangi lantai serta lapak.

Isti, salah satu pedagang sembako yang lapaknya menjadi korban ”air terjun” dari atap Pasar Peterongan menceritakan rusaknya atap pasar terjadi satu pekan terakhir ini. Karena itu pedagang dibuat resah, apalagi akhir-akhir ini cuaca sering hujan. ”Waswas kalau pas mendung atau hujan. Jumat (3/2) dan Sabtu (4/2), sepanjang lapak yang satu jajar dengan saya kena itu air terjunnya. Lapak basah dan airnya menggenang di lantai,” ungkapnya.

Selain itu dirinya juga mengeluhkan kondisi lapak yang terbuka sehingga khawatir jika ada tikus yang merusak dagangannya. ”Lapaknya ini kan dibuat terbuka ya, sedangkan barang dagangan saya semuanya makanan. Nah kalo terbuka begini kan kita takut tikus-tikus pada masuk, tapi mau ditutup tidak boleh. Paling cuma ditutup terpal, tapi kan tidak menghalangi tikusnya,” ujarnya

Isti mengaku telah menempati lapak barunya sejak awal peresmian. Ia cukup senang dengan kodisi pasar yang menjadi bersih dan tertata, namun juga menyayangkan banyaknya peraturan yang membatasi penjual untuk mengatur ulang lapak dengan alasan bangunan merupakan cagar budaya. ”Itu banyak yang kosong juga salah satunya karena penjualnya belum siap menempati dan masih nyaman jualan di luar. Memang untuk penataan bagus tetapi rak dan tempat penyimpanan yang disediakan berukuran kecil sedangkan orang dagang itu kan barangnya banyak,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Namun Isti juga mengatakan pembagian lapak yang dilakukan oleh Persatuan Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) sudah adil. ”Saya berharap segera ada perbaikan dari dinas maupun yang berwenang untuk hal ini, agar kita tenang jualan,” ucapnya.

Ketua Unit PPJP Sub Pasar Peterongan Margiono mengatakan dirinya telah menyampaikan mengenai kejadian tersebut kepada Kepala Dinas Perdagangan, Fajar Purwoto dan nantinya pedagang yang lapaknya terkena air hujan bisa menemui langsung dirinya di kantor. (mg26/smu/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah kasih. Lirik-liriknya memicu penasaran orang...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma diproduksi 100 biji kaset itu,...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

More Articles Like This

Must Read

36 Tahun Radio Suara Surabaya Mengudara

Suara Surabaya (SS) tidak hanya menjadi media yang memberikan informasi dan hiburan. Radio dengan frekuensi lokal 100 FM itu sudah menjadi komunitas. Ratusan ribu...

Ida Ngaji dan Sowan Gus Mus

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Bakal calon wakil gubernur Jateng Ida Fauziyah terus melakukan silaturahmi ke sejumlah ulama. Ida Fauziyah bahkan sempat ikut "ngaji" bersama masyarakat...

Naik Bus Bareng, Eratkan Tali Persaudaraan

JANGAN tanya berapa jumlah koleksi miniatur bus anggota Komunitas Bismania Korwil Semarang ini. Karena mereka memang tidak memfokuskan diri mengoleksi diecast bus, tapi gemar...

Fan Bingbing

Oleh: Dahlan Iskan Fan Bingbing bisa cantik-cantik-galak di film X-Man. Tapi kini dia takluk di depan petugas pajak. Bintang film cantiiiiiik-galaaaaak itu harus bayar denda....

Tak Diloloskan KPU, Gugat Bawaslu

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Putusan sidang ajudikasi yang ditempuh bakal calon legislatif (Bacaleg) DPRD Jateng dari Partai Hanura Dapil 4, H Mudatsir, bakal dilangsungkan di Bawaslu Jateng...

Nyepi, Umat Hindu Sucikan Jiwa

MUNGKID - Umat Hindu di kota dan Kabupaten Magelang sudah memulai rangkaian Nyepi. Sejak Minggu (26/3) lalu, ratusan umat Hindu menggelar ritual Melasti atau...