Dorong Semarang Jadi Kota Humanis

646
Theresia Tarigan
Theresia Tarigan

THERESIA Tarigan mendambakan Semarang menjadi kota yang humanis, menjadi kota yang memiliki konsep transportasi berkelanjutan. Sehingga semua pergerakan warga, lebih banyak menggunakan moda transportasi yang dapat mengurangi kemacetan, kecelakaan, dan polusi udara.

”Ya tentunya, masyarakat lebih banyak menggunakan angkutan umum, seperti bus. Atau menggunakan sepeda maupun jalan kaki,” ujar There kepada Jawa Pos Radar Semarang usai mengampanyekan penggunaan Bus Rapid Transit (BRT) bagi warga Kota Semarang bersama komunitas Sahabat Trans yang digagasnya.

Untuk mewujudkan harapannya tersebut, There selalu aktif mensosialisasilan tentang manfaat menggunakan angkutan umum, berjalan kaki, dan bersepeda kepada warga Semarang. Dengan menggunakan transportasi umum, kata dia,  warga juga dimungkinkan dapat berinteraksi satu sama lain. Lain halnya jika mobilisasi dilakukan dengan menggunakan transportasi pribadi.

Ia juga selalu memberikan wawasan tentang transportasi dari wilayah atau negara lain untuk membuka wawasan orang yang diajak berinteraksi di Semarang. ”Sehingga kita paham dan mengetahui. Proses awalnya di titik informasi, nantinya mengarah pada perencanaan, kemudian penyediaannya. Dengan memiliki pemahaman yang matang akan mengubah perilaku seseorang,” ujarnya.

TAK LELAH BERJUANG : Theresia Tarigan bersama anggota Komunitas Sahabat Trans Semarang mendorong pemerintah menyediakan transportasi umum yang memadai dan mengajak masyarakat menggunakan transportasi umum.
TAK LELAH BERJUANG : Theresia Tarigan bersama anggota Komunitas Sahabat Trans Semarang mendorong pemerintah menyediakan transportasi umum yang memadai dan mengajak masyarakat menggunakan transportasi umum.

Baginya, transportasi umum sangat penting untuk diperhatikan. Ia merasa terpanggil untuk terlibat melakukan pembangunan trasnportasi di dalamnya. Apalagi, proses pembangunan, harus ada peran serta dari masyraakat. Terlebih, ia telah menempuh pendidikan pada bidang yang sejalan.

”Saya merasa terpanggil untuk berkontribusi. Kalau saya tidak bisa membuka lapangan pekerjaan seperti pengusaha-pengusaha besar, paling tidak, saya bisa mengajak masyarakat lebih peduli dengan kota,” kata dia.

Dirinya sangat senang, ketika apa yang ia sampaikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Namun, tak jarang ia harus sekuat tenaga menahan emosi ketika menghadapi orang-orang yang menganggap bahwa yang disampaikannya berlebihan. Meski demikian, ia tetap yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika ia terus mengupayakannya.

”Sukanya menghadapi masyarakat dengan background yang berbeda-beda. Tapi dukanya itu, kadang ide kita dianggap aneh. Tapi menghadapi banyak orang menjadikan kita semakin lentur dalam memberikan reaksi,” ujarnya.

There menyadari bahwa menyampaikan sesuatu pasti ada risiko yaitu orang tidak suka dengan dirinya. Tapi hal ini tetap dilakukan, karena apa yang dilakukan jauh lebih bermanfaat daripada hanya berpura-pura diam. ”Menyampaikan apa adanya daripada menutup-nutupi,” ujar perempuan yang juga hobi berkuda dan berenang ini. (sga/ida)