Siswa Terpaksa Turun ke Sungai

Pasca Putusnya Jembatan Wadasgumantung

3459
MENYEBERANGI - Sejumlah siswa menyeberangi sungai Glagah akibat putusnya jembatan utama akibat banjir beberapa hari lalu. (Teguh.supriyanto@radarbrebes)
MENYEBERANGI - Sejumlah siswa menyeberangi sungai Glagah akibat putusnya jembatan utama akibat banjir beberapa hari lalu. (Teguh.supriyanto@radarbrebes)

BREBES-Putusnya Jembatan Wadasgumantung di Sungai Glagah, Desa Kutamendala, Kecamatan Tonjong telah menyebabkan sebayak 665 jiwa dari 183 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di Dukuh Kembeng, desa setempat terisolir.

Warga yang tinggal di pedukuhan bagian barat Kecamatan Tonjong ini, menjadikan jembatan tersebut sebagai satu-satunya sarana untuk mengakses luar wilayah. Sebab letak pedukuhan Kembeng ini berbatasan dengan hutan di sisi baratnya, tidak ada pilihan lain warga terpaksa turun ke sungai untuk dapat ke luar wilayah.

Tidak terkecuali para pelajar yang terpaksa menantang arus sungai, saat mereka berangkat ke sekolah terutama untuk tingkat SMP maupun SMA. “Di sini baru satu sekolah setingkat SD, sementara untuk SMP dan SMA berada di luar pedukuhan. Jadi memang harus menyeberangi sungai untuk bisa berangkat ke sekolah,”kata Dirman,44, warga setempat, Jumat (3/2).

Para siswa terpaksa menyeberangi sungai yang arusnya masih cukup kuat, setibanya di tepian sungai mereka dibantu orang tua maupun warga lain. “Sekarang masih bisa diseberangi sebab airnya surut setelah banjir kemarin. Tapi kalau kebetulan air sedang banjir, tidak ada yang berani menyeberang. Ini tentu jadi masalah tersendiri,”ungkapnya.

Di wilayah Dukuh Kembeng sendiri, terdapat sedikitnya 50 siswa sekolah tingkat SMP maupun SMA yang setiap harinya harus melintasi sungai tersebut. Kondisi yang sama juga dirasakan oleh para guru yang bertugas di SDN Kutamendala 5, di Dukuh Kembeng. Sebab, meski siswanya berasal dari pedukuhan tersebut, namun semua tenaga pengajar berasal dari luar.

“Namun mereka tetap berangkat untuk mengajar, meskipun harus turun menyeberangi sungai. Ada 8 tenaga pengajar, termasuk Kepala Sekolah semuanya berasal dari luar pedukuhan,”terang Imam Suwondo SPd, Kepala SD Kutamendala 5.

Tidak hanya di bidang pendidikan saja, distribusi kebutuhan pokok bagi warga yang tinggal di sana juga terkena dampak dari putusnya jembatan Wadasgumantung ini. “Biasanya warga atau pemilik warung bisa menggunakan sepeda motor untuk membawa belanjaan, sepulang dari Pasar Tonjong maupun Bumiayu. Tapi sekarang tidak bisa, sebab harus turun kesungai sambil memanggul belanjaan,”jelas Warsiah,36, ibu rumah tangga.

Kondisi yang sama juga dirasakan oleh para petani yang hendak mendistribusikan hasil panen mereka ke luar wilayah. Putusnya jembatan memaksa hasil pertanian tidak dapat didistribusikan secara maksimal. Johan, selaku Kades Kutamendala mengaku merasa khawatir dengan kondisi saat ini. Di mana warga terpaksa menuruni sungai untuk bisa menuju pusat pemerintahan maupun pasar.

“Air sungai sekarang sering banjir, sehingga cukup riskan jika kondisi ini terus berlanjut. Kami berharap penanganan darurat dapat segera dilaksanakan, sehingga warga bisa dengan aman menyeberangi sungai,”harapnya. (pri/har/jpr/zal)