Isi Elpiji 3 Kg Dikeluhkan

744

WONOSOBO—Kabar banyaknya elpiji 3 kg tidak terisi penuh, semakin santer digunjingkan warga. Sejumlah warga mengamati dan merasakan, elpiji 3 kg yang dulu dengan sekarang berbeda. Jika dulu saat baru dipasang, jarum penunjuk regulator bisa mentok sampai titik biru kanan, sekarang tidak. Saat dipasang, jarum surut hingga di kisaran 10-20 persen. “Nggak tahu kenapa. Tapi, kekurangan isi gas sudah merata di mana-mana,” keluh Fendi Nugroho, pemuda Jaraksari, belum lama ini.

Sebelumnya, warga lain yang kebetulan pengecer elpiji asal Kalikarung Kalibawang, Nur Sa’adah 35, juga mengeluhkan hal sama. Ia mengaku kerap mendapat komplain dari pembeli. “Sering dapat komplain sampai bingung mau memjawabnya bagaimana.”

Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Wonosobo, Suprayitno membenarkan adanya keluhan masyarakat terkait kurangnya isi gas elpiji 3 kg. Meski begitu, ia merasa perlu untuk meluruskan terkait indikator yang menjadi patokan masyarakat.

“Yang jadi patokan, mestinya bukan meteran dalam regulator. Seharusnya ditimbang,” jawabnya singkat via handphone. Dijelaskan, sifat dari gas akan membeku jika didiamkan di atas tanah. Sehingga mengakibatkan tekanan pada regulator akan berkurang.

Sementara itu, tekanan gas pada meteran akan kembali menguat (mencair) setelah tabung dikocok atau dipanaskan sinar matahari terlebih dahulu. Jadi, regulator bukan piranti yang pas untuk menilai tabung terisi penuh atau tidak penuh.

Agar masyarakat bisa melakukan pengecekan dengan akurat, ia menyarakan agar menimbang terlebih dahulu sebelum gas digunakan (buka segel). Tabung gas bisa dianggap penuh, jika bobot tabung plus isi nemiliki berat 8 kg atau 7,8 kg. Rinciannya, 5 kg berat tabung kosong 3/2,8 kg bobot isi. “Jika ketemunya 7,8 atau 7,9 kg, masih terhitung penuh. Masih di bawah batas toleransi yang ditentukan,” jelasnya.

Namun, jika hasil pengecekan ternyata di bawah batas minimun yang telah disebutkan, warga bisa melapor ke Dinas Perdagangan untuk ditindaklanjuti. Jika terbukti ada pangkalan atau pihak siapapun yang ‘nakal’, ia mengancam akan mengusut pelakunya. “Bisa dalam bentuk pembekuan izin usaha. Bahkan pidana. Karena ada unsur penipuan.”

Dalam waktu dekat, pihaknya akan berkoordinasi dengan banyak pihak. Mulai SPBE, pangkalan, hingga ke pengecer untuk mengantisipasi masalah tersebut. “Sedang saya koordinasikan. Semoga kecurangan dalam isi tabung seperti yang dikeluhkan masyarakat, tidak terjadi di Wonosobo,” pungkasnya. (cr2/isk)