SEMARANG – Salah satu pemegang saham PT Albeta Wijaya, Christina Setiawati akan dilaporkan balik ke kepolisian oleh PT Janico Raya. Pelaporan ini terkait dugaan pencemaran nama baik atas kasus dugaan penipuan dan penggelapan pembelian kayu.

Kuasa Hukum PT Janico Raya Rizal Thamrin mengatakan, akan melaporkan balik Christina, Suhardi dan penasihat hukumnya karena telah mencemarkan nama baik PT Janico Raya atas penetapan tersangka oleh Polda Jateng terhadap Rendy S dari PT Janico Raya pada 30 November 2015.

”Penetapan tersebut sah-sah saja karena ditetapkan jauh sebelum adanya putusan Kasasi tanggal 29 November 2016 yang menolak gugatan PT Albeta Wijaya kepada PT Janico Raya tentang jual beli kayu dan biaya angkutan kapal. Sehingga bisa saja Polda Jateng menganulir atau membatalkan penetapan tersangka tersebut demi kepastian hukum,” ujarnya. Ancaman tersebut menanggapi pernyataan Christina Setiawati dalam dugaan penipuan dan penggelapan yang telah dilaporkan oleh Suhardi pada 14 Januari 2013 ke Polda Jateng.

Dugaan pencemaran nama baik ini bermula dari adanya jual beli kayu bulat (log) antara PT Albeta Wijaya selaku pembeli yang diwakili oleh Suhardi dengan PT Suara Lentara selaku penjual yang diwakili oleh Deddy Zulkarnain. Hal ini terlihat dari perjanjian jual beli kayu bulat 19 Maret 2012. ”Harga kesepakatan keduanya Rp 5,95 miliar dan telah dibayarkan oleh PT Albeta Wijaya kepada PT Suara Lentara sebesar Rp 5,5 miliar,” ungkap Rizal Tamrin kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (3/2) kemarin.

Namun demikian kayu yang dijanjikan akan dijual oleh Deddy Z kepada Suhardi tidak kunjung datang dengan alasan kesulitan alat berat untuk menurunkan kayunya dari hutan. Kemudian menawarkan kepada Suhardi kayu lainnya dari PT Jaya Anugrah Delimamas Bulungan Kaltim.
”Kayu itu sudah siap di atas tongkang untuk dibeli dan dibawa ke Pelabuhan (Tanjung Emas) Semarang, milik PT Janico Raya oleh Rendy S,” katanya.

Selanjutnya, atas tawaran tersebut, dibuatkan perjanjian jual beli kayu bulat antara antara PT Janico Raya diwakili oleh Rendy S selaku penjual dengan Deddy Z selaku pembeli. Kemudian Deddy memberikan uang muka pembelian kayu kepada Rendy S sebesar Rp 700 juta dan biaya angkutan kapal sebesar Rp 500 juta. ”Untuk kayu dengan nilai transaksi Rp 7,5 M, atas permintaan Deddy Z, kayu tersebut akan dijual kembali kepada PT Albeta Wijaya Semarang,” katanya.

Namun demikian, pada kenyataannya setelah kayu tersebut tiba di Semarang, Deddy Z tidak melunasi kekurangannya sebesar Rp 6,8 miliar kepada PT Janico Raya. Bahkan hanya memerintahkan kepada PT Janico Raya untuk mengirimkan 2 trailer kayu saja senilai Rp 180 juta sebagai bukti keseriusan bahwa kayu itu ada ke PT Alberta Wijaya. ”Atas kejadian ini perjanjian jual beli tersebut dibatalkan oleh PT Janico Raya melalui putusan perdata Nomor 30/Pdt/G/2015/Pn. Jkt Brt tanggal 23 Juni 2013,” terangnya.

Menurut Rizal, atas kejadian tersebut PT Albeta Wijaya diduga kecewa dan merasa tertipu oleh Deddy Z karena kayunya tidak jadi diserahkan sesuai dengan perjanjian. Kemudian melaporkan Deddy Z ke Polda Jateng dan dihukum penjara selama 3 tahun. ”Ternyata selain Deddy Z yang dilaporkan ke Polda Jateng, Suhardi juga melaporkan PT Janico Raya atau Rendy S atas objek kayu,” katanya.

Pelaporan di atas tersebut dengan sangkaan melakukan penipuan dan penggelapan. Karena tidak bersedia menyerahkan kayu yang sudah dibeli oleh Deddy Z, dan juga menggugat PT Janico Raya secara perdata atas kayu tersebut senilai Rp 5,9 miliar dan ditambah biaya angkutan kapal tongkang senilai Rp 500 juta ke Pengadilan Negeri Semarang. ”Namun kenyataannya gugatan tersebut ditolak di Mahkamah Agung RI dengan Register Perkara Nomor 1821 K/PDT/2016 pada tanggal 29 November 2016 dan sudah berkekuatan hukum tetap,” jelasnya. (mha/zal/ce1)