Tiap Jumat, Gratiskan Laundry Mukena

Menilik Bisnis Laundry dengan Syariat Islam

873
DISUKAI PELANGGAN: Meski hanya dikenal masyarakat sekitar Anjasmoro, Freshde Laundry sudah memiliki banyak pelanggan. (Afiati.tsalitsati@radarsemarang.com)
DISUKAI PELANGGAN: Meski hanya dikenal masyarakat sekitar Anjasmoro, Freshde Laundry sudah memiliki banyak pelanggan. (Afiati.tsalitsati@radarsemarang.com)

Menjalankan bisnis laundry, bukan pekerjaan yang mudah, karena membutuhkan kedisiplinan dan kesabaran yang tinggi dalam melakoninya. Namun hal itu tidak serta-merta menyurutkan keinginan Rita untuk menjalankan bisnisnya. Seperti apa?

AFIATI TSALITSATI

SEBELUM memutuskan fokus pada bisnis laundry pada 2006, Rita telah menjajal berbagai jenis usaha. Di antaranya, mulai dari bisnis cafe, kuliner bakso, cuci motor, dan laundry. Ternyata, jasa cuci pakaian lah, satu-satunya yang bertahan hingga saat ini. Karena itulah, ia memutuskan untuk fokus pada usahanya itu. Yakni, Freshde Laundry, yang letaknya tak jauh dari perlintasan kereta api Jalan Anjasmoro Raya Semarang Barat.

”Mungkin ini jalan rezeki saya. Akhirnya ya diputuskan untuk menekuni dan mengembangkan usaha ini,” ungkap Rita kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Meski jasa cuci pakaian sangat marak saat ini, ada yang berbeda dengan jasa cuci pakaian yang diusung Rita. Yakni, setiap Jumat menawarkan gratis laundry mukena dan bagi pelanggan yang berulang tahun dengan menunjukkan KTP. Hal tersebut terkait dengan ikon bisnisnya yaitu Bersih dan Syari.

”Berawal dari keinginan untuk berbagi dan sedekah, apa yang bisa saya berikan hari ini dan banyak macamnya. Jadi kurang lebih ya begini cara yang kami lakukan,” tambahnya.

Ia menuturkan, proses pencucian yang dilakukan juga tidak sembarangan. Selain bersih, dirinya juga mengutamakan pengerjaan jasa cucinya disesuaikan dengan syariat Islam. Dia menyadari bahwa baju yang dipakai konsumen juga dipakai untuk beribadah, sehingga ia merasa bertanggung jawab terkait dengan kesuciannya. ”Kebanyakan masyarakat kurang memperhatikan hal itu. Padahal pakaian bersih, belum tentu suci,” ujarnya.

Berada di kawasan padat penduduk, konsumen yang dimilikinya beragam mulai dari karyawan, instansi, mahasiswa bahkan ibu rumah tangga. Selain menggratiskan mencuci mukena tiap Jumat, ia juga menawarkan jasa cuci express 3 jam, one day maupun reguler untuk satuan dan kiloan. Buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 21.00 termasuk pada hari libur.

”Kalau ditanya soal rugi, Insya Allah tidak takut, karena kita sudah berkomitmen dan yakin bahwa dari awal niatan sedekah dan berbagi. Pasti akan mendapatkan balasan oleh Allah SWT,” katanya.

Diakuinya, omzet yang didapatkan memang tidak seberapa. Namun dengan bersyukur, dirinya selalu merasa cukup, begitu juga karyawannya. Hal itu dilandasi dengan niatan sesuai syariat dan syiar agama. Makanya, seminggu sekali diadakan pengajian bersama karyawan maupun konsumen dengan menggunakan hasil laundry sebagai sumber pendanaan kegiatannya.

Meski begitu, bukan berarti tidak ada kendala. Banyak hal yang terjadi terkait dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan. Pernah juga ada yang mau bohong, tapi ketahuan setelah dikroscek tanda pengenalnya. Kadang kalau telat, ada yang komplain, tapi langsung diatasi dengan diberikan kompensasi diskon. ”Kalau perlu, malah digratiskan karena itu kesalahan kami,” ungkapnya.

Ia telah memiliki cabang di Gunungpati, namun khusus melayani asrama dari sebuah instansi/sekolah. Karyawan yang dimilikinya sebanyak 12 orang yang terdiri atas manajer, supervisor, kepala produksi, teknisi, dan administrasi. ”Mungkin yang tahu tentang laundry ini, baru orang sekitar sini saja (Anjasmoro, Red), karena belum dimarketingkan. Tapi Alhamdulillah sudah overload pelanggannya,” tambahnya.

Ke depan, Rita berencana membuka cabang yang dilengkapi marketing usaha dengan didampingi oleh Muraba Coach International. Namun hal itu masih terkendala kesulitan mendapatkan sumber daya manusia yang bagus. (*/ida/ce1)