Minta Pelaku Dihukum Berat

Kasus Penusukan di Angkringan

752
LOKASI KEJADIAN : Di Jalan Beringin, Kecamatan Magelang Selatan ini, Herman membela diri dari pemalakan dengan menusuk Diki hingga tewas dan melukai Indra. (Hanif.adi.prasetyo@radarkedu.com)
LOKASI KEJADIAN : Di Jalan Beringin, Kecamatan Magelang Selatan ini, Herman membela diri dari pemalakan dengan menusuk Diki hingga tewas dan melukai Indra. (Hanif.adi.prasetyo@radarkedu.com)

MAGELANG – Kematian Diki Muhrizal yang tewas akibat ditusuk dengan pisau lipat oleh Dedy Hermawan alias Herman, 36, meninggalkan duka mendalam. Ibunda korban, Ngadimah, 45, meminta pelaku dihukum berat. Bahkan, keluarga korban berjanji akan mengawal kasus tersebut hingga persidangan.

Saat Jawa Pos Radar Kedu menyambangi rumah korban, masih terdapat deretan tumpukan kursi untuk tamu pelayat. Beberapa kerabat dan tetangga datang silih berganti untuk mengucapkan bela sungkawa. Ngadimah masih terlihat lesu. Matanya tampak sembab. Ia kini tidak bisa lagi bertemu dengan putra kelima dari delapan bersaudara itu.

”Masih tidak percaya, anak saya meninggal secepat ini. Apalagi dengan cara dibunuh,” kata Ngadimah saat ditemui kediamannya di Kampung Tegalsari, Kelurahan Magersari, Kecamatan Magelang Selatan, Kota Magelang, Kamis (2/2).

Menurut Ngadimah, saat di rumah, Diki tergolong anak yang baik. Kendati hanya lulusan sekolah dasar (SD), anaknya sudah mampu mencari nafkah sendiri. Yakni menjaga lahan parkir di sekitar lokasi kejadian. Ia kadang kala juga membantu temannya memproduksi tahu.

”Diki jarang sekali merepotkan orang tua. Kalau minta uang dan saya kebetulan tidak punya, ya sudah. Tapi kalau marah, biasanya dilampiaskan ke tembok rumah, tidak melukai orang lain,” kenang Ngadimah.

Ngadimah berterima kasih kepada aparat kepolisian karena cepat menangkap pelaku penusukan, Herman. Sebab, bila polisi sedikit saja terlambat, dimungkinkan teman-teman anaknya bakal melakukan pembalasan. ”Meski sudah tertangkap, kami berharap polisi tegas dengan menjatuhkan hukuman seberat-beratnya,” pinta dia.

Paman korban Suharno mengaku tidak mengatahui persis duduk perkara dalam peristiwa tersebut. Yang ia tahu, Diki datang ke angkringan di Jalan Beringin IV, Kecamatan Magelang untuk membeli nasi bungkus. Namun, setiba di lokasi kejadian, keponakannya terlibat cekcok dengan pelaku. ”Hingga akhirnya Diki ditusuk pelaku. Kata orang-orang di sekitar kejadian, keponakan saya berupaya lari dan sempat dikejar pelaku hingga terjatuh,” jelasnya.

Suharno menuturkan, keluarga belum menunjuk kuasa hukum untuk mengawal kasus tersebut. Hingga kini, ia masih menunggu perkembangan informasi terbaru dari penyidik Polres Magelang Kota. Suharno berharap, polisi dapat menjerat pelaku dengan pasal terberat. ”Kalau penganiayaan saya rasa terlalu ringan karena ancaman hanya tujuh tahun. Saya pribadi berharap polisi menjerat pelaku dengan pasal pembunuhan karena jelas-jelas menghilangkan nyawa seseorang,” ucapnya.

Terpisah, Kapolres Magelang Kota AKBP Hari Purnomo menegaskan, kasus tersebut masih dalam proses penyidikan. Sedikitnya, 5 saksi telah diperiksa untuk melengkapi berkas. Dari hasil pemeriksaan, Hari memastikan, hanya ada satu pelaku tunggal. ”Tersangkanya memang satu. Ini masih menunggu pemeriksaan. Kalau prosesnya selesai, secepatnya kita kirimkan berkas ke kejaksaan untuk segera disidangkan,” tutur Hari.

Hari menerangkan, dalam kasus tersebut, Herman bisa dijerat pasal 338 KUHP ayat 3, tentang pembunuhan dengan ancaman maksimal 15 tahun juncto pasal 351 KUHP ayat 3 tentang penganiayaan berat hingga menyebabkan meninggal dunia dengan hukuman maksimal 7 tahun penjara.

Seperti diberitakan sebelumnya, Herman ditangkap polisi setelah menusuk Diki hingga tewas. Selain itu ia juga melukai teman Diki, Indra Murza pada bagian punggung. Ketika diperiksa polisi, pelaku mengaku terpaksa menusuk karena dipalak korban.

Kronologi bermula ketika Herman dan Fuad Prasetyo, 23, tengah menikmati secangkir kopi di Angkringan Jalan Beringin, Rabu (1/2) sekitar pukul 01.30 WIB. Di tengah obrolan sembari menyeduh kopi, Diki dan Indra menghampiri pelaku dan meminta paksa uang serta perhiasan. Herman langsung menolak menyerahkan uangnya.

Diki dan Indra lalu memukul Herman hingga gigi Herman tanggal dan mengeluarkan darah segar. Merasa terpojok, Herman mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya dan dihujamkan ke bagian tubuh dua pengeroyok tersebut. Keduanya lantas tersungkur ke tanah.

”Diki mengalami luka tusuk di bagian perut dan meninggal dunia di RSUD Tidar, Magelang lantaran kehabisan darah. Sementara Indra tertusuk di punggung dan harus mendapatkan perawatan intensif dari dokter,” terang Kasubag Humas Polres Magelang Kota AKP Esti Wardiani.

Setelah menusuk, Herman buru-buru melarikan diri. Tapi akhirnya ia berhasil ditangkap polisi. Esti menegaskan, meski Herman melakukan serangan balik dengan dalih membela diri, ia tetap digolongkan melanggar hukum. Sebab, perlawanan yangdianggap berlebihan hingga menimbulkan korban jiwa dikategorikan termasuk penganiayaan berat. (cr1/ton)