Tarif STNK dan Listrik Kerek Inflasi

1323

SEMARANG – Inflasi Jawa Tengah bulan Januari sebesar 1,16 persen, meningkat tajam dibanding Desember yang sebesar 0,21 persen. Jumlah tersebut juga lebih besar dibanding inflasi nasional yang berada pada 0,97 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Margo Yuwono mengatakan, lima komoditas menjadi penyumbang utama inflasi bulan Januari. Yaitu biaya perpanjangan STNK, tarif pulsa ponsel, tarif listrik, cabai rawit dan bensin. “Kebijakan pemerintah terhadap sebagian komoditas tersebut mendorong adanya inflasi cukup tinggi di awal tahun, kecuali tarif ponsel karena provider memiliki kebijakan tersendiri,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, pencabutan subsidi pemerintah terhadap tarif listrik otomatis menjadikan rumah tangga akan membayar tarif listrik lebih tinggi, karena dari yang sebelumnya ada sebagian biaya ditanggung pemerintah, saat ini tidak lagi.

Sedangkan cabai turut menyumbang inflasi karena suplai yang berkurang di pasaran akibat menurunnya produksi selama musim penghujan. Sehingga harga cabai di pasaran mengalami peningkatan. “Cabai ini juga turut mengerek inflasi tapi tidak sebesar tarif perpanjangan STNK dan tarif listrik,” jelasnya.

Ia menambahkan, dari enam ibukota provinsi di Pulau Jawa semua kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Surabaya sebesar 1,76 persen, diikuti Yogyakarta sebesar 1,24 persen, Semarang sebesar 1,16 persen, DKI Jakarta sebesar 0,99 persen, Serang sebesar 0,78 persen dan terendah Bandung sebesar 0,49 persen.

Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah yang juga anggota Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Rahmat Dwisaputra mengatakan, administered price menjadi kelompok utama penyumbang inflasi Januari salah satunya dikarenakan kenaikan tarif listrik. Sedangkan kelompok volatile food seperti cabai juga turut menyumbang namun hanya sedikit. “Terkait kenaikan inflasi ini akan kita diskusikan dengan TPID terkait kebijakan apa yang akan diambil agar inflasi kembali stabil,” ungkapnya. (dna/smu)