Sejak SD, Riwa Sudah Jalankan Pekerjaan sang Ayah

5562
SEDERHANA: Suryati, ibunda Nur Riwayati dan keluarga menunjukkan foto putrinya saat wisuda di UNNES. (tengah) Nur Riwayati bersama temannya di SMK Diponegoro. (bawah) Dua guru SMK Diponegoro Salatiga, Suryo Suandito dan Jarwadi menunjukkan album kenangan Riwa. (Eko.wahyu.budiyanto@radarsemarang.com)
SEDERHANA: Suryati, ibunda Nur Riwayati dan keluarga menunjukkan foto putrinya saat wisuda di UNNES. (tengah) Nur Riwayati bersama temannya di SMK Diponegoro. (bawah) Dua guru SMK Diponegoro Salatiga, Suryo Suandito dan Jarwadi menunjukkan album kenangan Riwa. (Eko.wahyu.budiyanto@radarsemarang.com)

UNGARAN – Semangat Nur Riwayati dalam mengejar cita-cita sudah terlihat sejak masih kecil. Ibu kandungnya, Suryati, 42, menceritakan, sejak kecil keinginan Riwa –panggilan akrab Nur Riwayati—untuk menjadi wanita berpendidikan tinggi sudah sangat kuat.

Baca:
Untuk Biaya Hidup, Cuci Pakaian Teman Kos
Sejak SD, Riwa Sudah Jalankan Pekerjaan sang Ayah
Di Sekolah Biasa Dipanggil ”Sinden”

”Dia rajin belajar setiap habis magrib dan habis subuh. Itu pun tanpa ada yang nyuruh,” ujar Suryati saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di rumahnya Dusun Trowangi RT 1 RW 7 Desa Tegaron, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Rabu (1/2).

Selain itu, sejak kecil, kedua orang tuanya selalu mengajarkan tentang arti sebuah kesederhanaan. Hal tersebut tergambar pula dari pengalaman Suryati dalam merawat Riwa kecil. Sejak almarhum ayahnya, Subandi, divonis dokter menderita tumor ganas, Riwa mulai bertransformasi menjadi kepala keluarga. Padahal saat itu ia masih duduk di bangku kelas 6 SD Negeri Tegaron 2. Praktis, segala pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh ayahnya, Riwa jalankan dengan senang hati dan sungguh-sungguh.

”Seperti mencari rumput di hutan untuk pakan ternak, juga bersih-bersih rumah, dan mencuci semua pakaian saya (ibunya), mbah-nya, dan kedua adiknya,” kenangnya.

Suryati sendiri diminta oleh Riwa untuk di rumah saja sembari merawat ayahnya yang terkulai tak berdaya di atas dipan sederhana karena sakit. Meski begitu, Riwa tidak pernah mengeluh kecapekan karena melakukan tugas ayahnya. Dibuktikan dengan waktu belajarnya yang tidak pernah terganggu. Ia biasa belajar usai salat Magrib dan usai salat Subuh. ”Kalau habis subuh, Riwa belajarnya sebentar, karena dia harus berangkat sekolah pagi buta,” katanya.

Maklum, Riwa tidak memiliki moda transportasi pribadi untuk pergi ke sekolah. Tidak seperti teman-teman sebayanya yang saat itu diantar jemput oleh orang tuanya. Setiap berangkat sekolah, Riwa kecil harus turun bukit untuk mencari angkutan umum.

”Kalau SD kan dekat, kalau SMP cukup jauh, jadi harus naik angkot,” katanya.

Jarak antara rumahnya ke tempat pemberhentian angkot cukup jauh. Setidaknya, setiap pagi ia harus berjalan kaki turun bukit sejauh 3 kilometer untuk mendapatkan angkutan umum. Saat itu, Riwa menimba ilmu di SMP Negeri 2 Banyubiru. Hal itu dilakukan setiap hari. ”Tidak pernah mengeluh capek atau gimana, ia tetap tersenyum saja,” ujarnya.

Saat Jawa Pos Radar Semarang mendatangi rumah Riwa, akses dari jalan utama relatif sulit. Meski sudah beraspal, di sisi jalan adalah jurang. Jika tidak berhati-hati dalam berkendara, bisa jatuh terperosok jurang. Lokasi rumahnya juga sangat dekat dengan bukit yang memiliki kemiringan hampir 90 derajat. Rumah Riwa berhadapan langsung dengan makam umum. ”Ya, tidak ada rasa takut (tinggal dekat makam), sudah biasa,” katanya.

Kondisi rumah gadis yang kini bekerja menjadi staf front desk Rektor Universitas Negeri Semarang (UNNES), Dr Fathur Rokhman MHum ini sangat sederhana. Sebelah kanan rumah Riwa adalah kandang bebek. Sementara rumahnya dibangun dengan dinding papan kayu yang sudah usang dan bolong-bolong.

Bekas kamar pribadi Riwa pun sangat sederhana. Tidak ada yang terlihat mewah. Hanya tempat tidur dari papan kayu, peralatan salat, meja, dan kursi. Lantai rumahnya bukan dari keramik mengkilat, tapi plesteran semen. Di belakang rumah terdapat kandang kambing.

”Hingga sekolah di SMK Diponegoro Salatiga, Riwa kalau pagi menyempatkan untuk memberi makan ternak dahulu sebelum berangkat sekolah. Itu dilakukan hampir setiap hari,” katanya.

Setelah ayahnya meninggal persis saat Riwa masuk SMK, praktis ia harus menggantikan posisi ayahnya untuk menjadi tulang punggung keluarga. ”Pulang sekolah, dia ngarit (mencari rumput) di hutan. Saya di rumah masak dan mengurusi adik pertamanya (Alkhomah) yang masih kecil,” tuturnya.

Saat sang ayah meninggal, adik Riwa yang paling kecil, yakni Siti Nur Khasanah, masih berumur 3 bulan dalam kandungan. ”Sebenarnya saya juga nangis batin melihat Riwa seperti ini. Dia melakukan pekerjaan laki-laki,” katanya sambil menitikkan air mata.

Hal senada diungkapkan oleh Sabarudin, 63, warga yang rumahnya tidak jauh dari rumah orang tua Riwa.

Menurut dia, pendidikan agama dari orang tua kepada Riwa sangat kental. Selain itu, Riwa selalu diajarkan hidup prihatin. ”Yang saya tahu, sejak kecil Riwa tidak pernah bolong puasa Senin-Kamis, kecuali kalau sedang halangan. Soalnya, saya sering mengajari dia mengaji di musala dekat rumahnya,” katanya.

Adik Riwa yang paling besar, Alkhomah, 18, yang saat ini duduk di bangku kelas 3 SMA mengakui, jika saat ini segala kebutuhan hidupnya dipenuhi oleh kakaknya. ”Mbak Riwa pekerja keras,” ucapnya.

Setiap 2 bulan sekali, Riwa menjenguk orang tua dan adiknya di rumah. ”Mbak Riwa yang membelikan kebutuhan sekolah, seperti seragam dan buku. Saya juga sering ditanya kesulitan-kesulitan di sekolah, terutama dalam pelajaran,” katanya.

Menurut Alkhomah, kakaknya tersebut merupakan sosok yang patut untuk menjadi inspirasi dalam keluarganya. Ia pun bercita-cita ingin menjadi seperti sosok Riwa yang memiliki keinginan kuat untuk maju. ”Mbak Riwa juga meminta saya untuk kuliah agar bisa mengangkat derajat keluarga,” ujarnya.

Seperti diketahui, Nur Riwayati alias Riwa adalah anak warga miskin yang tak pantang menyerah untuk menggapai cita-citanya bisa kuliah. Ia juga mampu mematahkan kebiasaan orang tua di desanya yang selalu menikahkan anak gadisnya di usia belia. Bahkan, Riwa sampai menolak pinangan tiga pria sekaligus. Hal itu dilakukan, karena dia ingin melanjutkan kuliah meski di tengah keterbatasan ekonomi.

Alumnus SMK Diponegoro Salatiga ini akhirnya diterima di UNNES lewat Seleksi Mandiri setelah tiga kali berkirim surat kepada Rektor UNNES saat itu, Prof Dr Sudiono Sastroatmojo MSi. Dalam suratnya, ia curhat kenapa anak kurang mampu dan miskin susah kuliah karena biaya yang sangat mahal. Apakah anak-anak miskin harus menelan pil pahit dan menghadapi perjodohan serta menikah muda dengan orang yang tidak dikenal, karena tidak diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.

Riwa sendiri lulus dengan predikat cumlaude pada 2015 dengan IPK 3,63. Saat ini, ia diangkat menjadi staf front desk Rektor UNNES Dr Fathur Rokhman MHum. Setelah bekerja, ia kini bisa sedikit mengangkat derajat keluarganya untuk lepas dari jerat kemiskinan. Saat ini, Riwa terus berjuang untuk meneruskan studi strata 2 (S2) dan berusaha mendapatkan beasiswa. (eko wahyu budiyanto/aro/ce1)