BERANTAS: Badan Narkotika Nasional Jawa Tengah menyergap komplotan jaringan internasional yang menyelundupkan narkoba jenis sabu seberat 1 kilogram di Solo. (Adityo.dwi@radarsemarang.com)
BERANTAS: Badan Narkotika Nasional Jawa Tengah menyergap komplotan jaringan internasional yang menyelundupkan narkoba jenis sabu seberat 1 kilogram di Solo. (Adityo.dwi@radarsemarang.com)

SEMARANG – Transaksi narkoba jaringan internasional berhasil digagalkan Badan Narkotika Nasional (BNN). Empat tersangka berhasil diamankan termasuk salah satu napi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan Cilacap. Petugas juga menyita barang bukti berupa sabu sebanyak 1 kg senilai Rp 1,5 miliar.

Napi Lapas Nusakambangan Cilacap diketahui bernama Sutrisno alias Babe, warga Surakarta, yang berperan sebagai bandar. Diduga dia menguasai wilayah Jawa Tengah. Barang tersebut dipasok oleh seorang warga asal Nigeria, berinisial H.

Terbongkarnya jaringan internasional tersebut berawal dari penangkapan tiga orang bernama Setyo Wibowo alias Dito, 32, dan kekasihnya, Modita Delilia S, 26, alias MDS. Kemudian seorang bernama Fendy Suryo, 26, alias FS. Ketiganya berhasil disergap di halaman parkir Stasiun Solo Balapan Surakarta pada Selasa (31/1) sekitar pukul 05.00. Petugas mengamankan sabu sebanyak 1 kg, ekstasi warna hijau dan pink berjumlah 588 butir.

Selain itu petugas juga mengamankan 17 emas batangan berjumlah 155 gram dan 1 cincin emas. Termasuk enam buah handphone dan dua sepeda motor yang diduga sebagai sarana transaksi.

Kepala BNNP Jateng Tri Agus Heru Prasetyo menjelaskan, penangkapan ini berawal dari informasi masyarakat terkait adanya pemesanan narkoba oleh seorang napi di dalam Lapas Nusakambangan tehadap warga Nigeria berinisial H, pada Jumat (27/1). Dan sabu tersebut dibawa dari Jakarta oleh kurir melalui kereta api. ”Tim BNN Pusat membuntuti dan dari Tim BNNP Jateng langsung bergerak menyebar di sekitaran Stasiun Balapan Surakarta,” jelasnya.

”Petugas sempat memberi tembakan peringatakan, karena salah salah satu kurir ini berusaha lari. Dari penangkapan ini disita barang bukti narkotika jenis sabu sebanyak 1 kg dimasukkan dalam kemasan teh Cina berwarna biru bergambar hewan panda,” jelasnya.

Setelah dilakukan penangkapan, petugas kemudian melakukan pengembangan dan penggeledahan di rumah kediaman FS di Perum Bumi Wonorejo Gondangrejo Karanganyar. ”Pada penggeledahan itu, petugas berhasil menemukan narkotika jenis ekstasi warna hijau dan merah muda (pink) sebanyak 588 butir. Termasuk dua alat timbangan digital,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan ketiga tersangka tersebut, mereka telah diperintah oleh Sutrisno, napi di Lapas Nusakambangan. Hingga akhirnya, petugas berkoordinasi dengan Kakanwil Kemenkumham Jateng untuk melakukan penggeledahan dan pemeriksaann terhadap narapidana tersebut. ”Hari itu juga kita lakukan penggeledahan di dalam sel tahanan itu dan menyita alat komunikasi,” ujarnya.

Saat dilakukan pemeriksaan, Sutrisno mengakui barang tersebut dipesan dari seseorang warga negara Nigeria berinisial H yang juga mantan napi Lapas Nusakambangan kasus narkoba.

”Kalau menurut pengakuan Babe, dikirim melalui kapal (jalur laut). Sudah berjalan sekitar 3 bulan terakhir ini,” katanya.

Sutrisno juga mengakui dibantu oleh anak perempuannya berinisial SL, berperan mengelola keuangan hasil peredaran narkotika. SL mendapat tugas mentransfer uang kepada warga Nigeria tersebut. ”SL ini masih diburu, telah meninggalkan tempat kosnya. Tugasnya mentransfer uang. Kalau pengakuan dari Babe, transfer kepada H setiap hari Rp 70 juta. Sudah berjalan selama 3 bulan terakhir ini,” katanya.

Tri Agus menambahkan, sabu yang diamankan tersebut kisaran nilai mencapai Rp 1,5 miliar. Saat ini pihaknya juga mendalami kasus perhiasan 17 emas batangan seberat 155 gram dan cincin emas 4,7 gram dari tersangka Setyo yang diduga dibeli dari hasil kejahatan narkotika.
”Ya, mengarah ke TPPU (tindak pidana pencucian uang),” tegasnya.

Terpisah, Kepala Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah Bambang Sumardiono mengatakan terdapat keterkaitan antara jaringan narkoba internasional dengan narapidana Lapas Narkotika Nusakambangan. Pihaknya juga langsung bergerak ke Lapas untuk melakukan operasi di tempat sesuai informasi BNNP Jateng.  Menurutnya, atas kejadian tersebut pelaku dikenakan sanksi disiplin berupa pencabutan remisi di 2017. Disinggung mengenai kelengahan petugas mengingat napi dengan leluasa menggunakan handphone, pihaknya belum sempat memeriksa petugas. ”Kemungkinan bisa lewat kunjungan dengan diselundupkan, kedua bisa lewat oknum petugas. Tapi kami belum sempat memeriksa (HP) sudah diminta BNNP,” pungkasnya. (mha/zal/ce1)