Keluarga Korban Dugaan Malapraktik Lapor Polisi

919
KLARIFIKASI : Ketua MKEK Batang dr Budi Setiajit saat memberikan keterangan terkait dugaan malapraktik di RSUD Batang. (Lutfi.hanafi@radarsemarang.com)
KLARIFIKASI : Ketua MKEK Batang dr Budi Setiajit saat memberikan keterangan terkait dugaan malapraktik di RSUD Batang. (Lutfi.hanafi@radarsemarang.com)

BATANG-Diduga menjadi korban malapraktik usai operasi amendel, pasien Yoyok Agung Setiawan, 31, warga Perumahan Peturen, Desa Menguneng, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, akhirnya meninggal dunia. Kini, pihak manajemen RSUD Kabupaten Batang dilaporkan ke polisi oleh keluarga korban dan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Kabupaten Batang.

“Saat ini, kami masih menelusuri dugaan tindakan malapraktik yang dilakukan oleh dokter “R” dan “S” terhadap pasien amandel Yoyok Agung, ” jelas Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Kabupaten Batang, dr Budi Setiajit, Rabu (1/2) kemarin.

Perlu diketahui bahwa seusai dilakukan operasi, kondisi pasien Yoyok dalam keadaan normal hingga dipindah ke room recovery, Kamis (26/1) lalu. Namun ketika pasien dipindah ke bangsal, kondisinya langsung ngedrop. Sempat dibawa ke ruang ICU, namun nyawanya tidak tertolong. “Untuk mendapatkan kejelasan sebab-musabab kematian pasien, jenazah pasien akan diotopsi. Dari hasil otopsi, kami bisa tahu penyebab kematian pasien,” jelas Budi Setiajit.

Menurut dia, tahapan penelusuran atas dugaan malapraktik ini terus dilakukan oleh RSUD. Mulai dari persiapan, pengecekan, dianogsa, apakah perlu dilakukan tindakan operasi, kelengkapan alat laboratorium, persyaratan administrasi yang dipenuhi dokter dan evaluasi dalam tindakan operasi. Pada tahapan-tahapan tersebut, kata dia, belum ditemukan malapraktik. Karena operasi dilaksanakan sesuai SOP (Standar Operation Prosedure). Pasalnya, jika pada tahapan awal ada masalah gangguan kesehatan pada diri pasien, maka tindakan operasi pasti akan ditunda atau tidak dilakukan operasi.

“Jadi, saat ini kami masih menelusuri dari sebelum dan saat dilakukan proses operasi dan hingga saat dilakukan peralihan ke ruang recovery dan ke bangsal. Baru saja, kami melakukan rapat legal, audit tetapi penyebab kematian belum ditemukan,” katanya.

Budi mengatakan RSUD sudah mengumpulkan pihak manajemen, dokter, serta data-data untuk mendapatkan masukan terkait dengan adanya dugaan kasus ini. “Kami akan mengumpulkan lagi, jika perlu RSUD akan mengonsultasikan kasus dugaan malapraktik ini pada RSUP dr Karyadi Semarang untuk memastikan penyebab kematian pasien,” katanya.

Selain itu, kata dia, ada informasi pihak Kepolisian Daerah (Polda) Jateng yang juga akan melakukan tindakan otopsi pada korban pasien amandel sehingga mempermudah untuk mengetahui penyebab kematian Yoyok.  “Semua ini, kami lakukan untuk mengetahui apakah adanya malapraktik atau tidak,” katanya.

Kabid Yanmed RSUD Batang Utari mengungkapkan bahwa pasca kejadian, pihak RSUD sudah ke keluarga besar korban di Wonopringgo. “Pada awalnya keluarga dekat korban sudah mau menyelesaikan secara kekeluargaan. Namun ada sebagain yang tidak terima, sehingga lapor polisi,” jelasnya.

Kapolres Batang, AKBP Juli Agung Pramono mengatakan bahwa saat ini pihaknya masih menyelidiki kasus dugaan malapraktik yang dilakukan oleh seorang dokter berinisial RDH di RSUD Kalisari, Kabupaten Batang.

Polres Batang akan memintai keterangan dari pihak terkait termasuk pelapor dan terlapor.

“Pasti melibatkan Labfor (Laboratorium Forensik) Bareskrim Mabes Polri Cabang Semarang untuk melakukan otopsi. Sehingga bisa diketahui apa penyebab meninggalnya pasien,” katanya.

Selain melakukan otopsi, pihaknya juga akan melakukan pemeriksaan terhadap cairan-cairan atau obat yang digunakan dalam penanganan operasi yang menyebabkan korban meninggal dunia. “Jadi harus dibuktikan dulu, apakah benar ada pelanggaran prosedur oleh dokternya. Semua akan diperiksa,” kata Agung.

Seperti diketahui, seorang dokter di RSUD Kalisari, Kabupaten Batang, dilaporkan ke polisi terkait dugaan malapraktik. Dokter berinisial RDH itu dilaporkan ke Polres Batang oleh Lian Murdianingsih, istri korban dugaan malapraktik. (han/ida)

Silakan beri komentar.