Di Sekolah Biasa Dipanggil ”Sinden”

3965
Nur Riwayati (Adennyar.wycaksono@radarsemarang.com)
Nur Riwayati (Adennyar.wycaksono@radarsemarang.com)

DI mata guru-gurunya di SMK Diponegoro Salatiga, Nur Riwayati dikenal sebagai anak yang ulet, sederhana, pantang menyerah, namun polos. Riwa memiliki semangat belajar tinggi, suka berbagi ilmu dengan siswa lain yang nilai akademiknya kurang.

Baca:
Untuk Biaya Hidup, Cuci Pakaian Teman Kos
Sejak SD, Riwa Sudah Jalankan Pekerjaan sang Ayah
Di Sekolah Biasa Dipanggil ”Sinden”

Gadis berhijab itu juga termasuk anak yang terbuka, karena sering curhat dengan guru atau wali kelasnya. Bahkan, hingga kini Riwa masih menjalin hubungan baik dengan guru-gurunya di SMK Diponegoro dibuktikan sering berkabar melalui telepon maupun pesan SMS dan WhatsApp (WA).

”Dia (Riwa, Red) semangat belajarnya sangat tinggi. Berangkat sekolah saja, dari Sepakung (rumah Riwa) ke Gilang kadang jalan kaki, dan sesekali naik angkutan sayur. Kemudian dari Gilang sampai sekolah naik angkutan umum, padahal jaraknya jauh sekali. Begitu pulang dari sekolah, Riwa langsung kerja membantu orang tuanya,” ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMK Diponegoro Salatiga, Suryo Suandito, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (1/2).

Dikatakan, saat awal masuk sekolah di SMK yang terletak di Jalan Kartini No 2, Jetis, Salatiga ini, Riwa duduk di bangku kelas XE. Setelah naik kelas, dia duduk di kelas XI D, dan XII D jurusan Pemasaran II.

Suryo mengaku sempat trenyuh mendengar curhatan Riwa kala itu. Padahal curhatan tersebut cukup pribadi. Saat itu, Riwa bercerita tentang niat ibunya yang akan menikah lagi setelah sang ayah meninggal. Hal itu membuat Riwa sempat marah dan ngambek, hingga akhirnya sang ibu tidak jadi menikah lagi.

Menurutnya, Riwa memiliki semangat belajar dan meneruskan kuliah cukup tinggi. Bahkan ia masih ingat betul, terkadang Riwa curhat dengan guru-guru tidak punya uang. Sehingga saat jajan, beberapa guru-guru kadang berbagi dengannya.

Sedangkan dari sisi akademik, Riwa tergolong siswi cerdas. Dia selalu masuk 3 besar di kelasnya. Piagam penghargaan dan beasiswa sekolah juga sering diraihnya. Saat masih sekolah, Riwa aktif di organisasi ekstrakurikuler Pramuk.

”Saat lolos ujian ke UNNES, dia (Riwa) juga memberikan kabar, dan sempat meminta restu ke beberapa guru, termasuk kalau ada berita-berita di kampus sering dikabari. Berita di koran kemarin juga ngabari kami. Saat bertemu Presiden SBY dan menteri juga ngabari. Yang jelas, sampai sekarang dia masih komunikasi baik dengan guru-guru sini,” ungkap Suryo sambil menunjukkan album kenangan kelas XII tahun 2010-2011, salah satunya terdapat foto Riwa mengenakan seragam SD bersama teman-temannya.

Suryo menambahkan, sejumlah guru yang paling dekat dengan Riwa, di antaranya Jarwadi (guru matematika), Amrih Susilaswati (guru pemasaran dan ketua jurusan), Dwi Susanti (guru pemasaran), dan Dwi Antari (guru Bahasa Indonesia). Ia juga mengaku bangga dengan prestasi dan inspirasi yang diraih Riwa. Ia berharap Riwa bisa meneruskan pendidikannya lebih tinggi lagi.

”Di sekolah kami, setiap ada kegiatan kesiswaan, Riwa juga rutin memberikan motivasi ke siswa, termasuk acara rutin mujahadah dan apel. Kami berharap masih ada lagi Riwa-Riwa yang lain di sekolah sini, yang nantinya bisa membawa nama baik sekolah dan bangsa ini,” harapnya.

Jarwadi, guru matematika yang juga mantan wali kelas Riwa saat duduk di kelas X mengaku, saat sekolah Riwa sering sakit-sakitan dan pingsan. Saat itu, ia sempat penasaran. Dan, setelah dicari tahu, ternyata Riwa sakit-sakitan karena kelelahan akibat tenaganya sudah terforsir membantu kerja orang tuanya.

”Tapi kalau di sekolah meski kondisi sering sakit, semangat belajarnya tetap tinggi. Dia (Riwa) juga sering curhat masalah keluarga. Setiap ada masalah di rumah, juga cerita,” kenangnya.

Jarwadi mengaku bangga dengan Riwa, karena telah mengharumkan nama sekolahnya. Selain itu, ia bangga karena salah satu pesan yang pernah disampaikannya masih diingat dan dilakukan Riwa. Pesan tersebut adalah ’Setiap hinaan orang harus dijadikan harapan dan harus menjadi motivasi bangkit.’ Maknanya, setiap hinaan jangan diterima dengan kepala panas, melainkan diterima dengan kepala dingin, sehingga harus dibuktikan bahwa hinaan tersebut salah, dan berusaha semakin baik lagi.

”Dia (Riwa) dulu memang sempat curhat ada tetangganya yang bilang Cah wedok gawe opo sekolah duwur-duwur, ujung-ujunge masak karo macak (Anak perempuan untuk apa sekolah tinggi-tinggi nanti ujung-ujungnya masak dan dandan). Nah dari ucapan itu dijadikan motivasi sampai sekarang, jadi tidak dibuat dendam oleh Riwa,” ungkapnya.

Yang cukup membuat Jarwadi senang dan berkesan adalah kemampuan Riwa menyanyi tembang Jawa atau nyinden. Bahkan di sekolah Riwa dikenal dengan nama Sinden. Padahal anak-anak seusianya lebih menyukai lagu rock maupun pop. ”Saya juga suka tembang sinden, jadi berkesan banget dengan kehebatan Riwa. Pernah saya tanya, kenapa suka nyinden, katanya pengin melestarikan budaya Jawa,” katanya.

Selain nyinden, lanjut Jarwadi, sejak sekolah di SMK, Riwa juga memiliki bakat wirausaha. Dibuktikan saat itu Riwa sempat berjualan keripik bayam kepada teman-temannya dan guru-guru di sekolah tersebut. ”Yang jelas Riwa itu pantang menyerah dan anaknya polos. Kalau cerita apa adanya. Belum lama lalu, Riwa juga pernah memberikan sosialisasi beasiswa bidikmisi di sekolah sini,” ujarnya. (joko susanto/aro/ce1)

BAGIKAN