4 Anak Panti Asuhan Diduga Ditelantarkan

Dua Dirawat di RSUD Akibat Gizi Buruk

3724
BEZUK : Kepala Dinas Sosial P2PA Pemkab Demak, Lestari Handayani saat menjenguk Ahmad Minan dan Indri, dua anak Panti Al Hajar yang menderita gizi buruk dan dirawat di RSUD Sunan Kalijaga Demak. (Wahib.pribadi@radarsemarang.com)
BEZUK : Kepala Dinas Sosial P2PA Pemkab Demak, Lestari Handayani saat menjenguk Ahmad Minan dan Indri, dua anak Panti Al Hajar yang menderita gizi buruk dan dirawat di RSUD Sunan Kalijaga Demak. (Wahib.pribadi@radarsemarang.com)

DEMAK-Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P2PA) Pemkab Demak menemukan empat anak diduga ditelantarkan di sebuah Panti Asuhan di Desa Karangmlati, Kecamatan Demak Kota. Yaitu, Sarofah, 10; Safa’ah, 7; Indri, 4; dan Ahmad Minan, 17 bulan.

Sarofah dan Safa’ah diketahui sebagai kakak beradik. Sedangkan, Indri dan Minan hingga kini masih dilakukan penelusuran identitas keluarganya. Di Panti Asuhan Al Hajar yang izin operasionalnya habis 2012 tersebut ada di antara anak yang diketahui menderita gizi buruk. Yaitu, Indri dan Ahmad Minan. Keduanya kini masih dirawat di RSUD Sunan Kalijaga, Kota Demak. Mereka dirawat sudah sepuluh hari ini.

Kepala Dinsos P2PA, Lestari Handayani mengungkapkan bahwa pihaknya langsung melakukan upaya penyelamatan setelah mendapatkan laporan dari warga dan petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kecamatan Demak Kota di wilayah tersebut.

“Kami diberi informasi dan langsung menindaklanjutinya dengan menerjunkan tim khusus. Intinya, harus ada tindakan cepat untuk menolong anak-anak tersebut. Sebab, ada yang menderita gizi buruk dan khawatir terlambat,” kata Lestari di kantornya, kemarin.

Untuk mengevakuasi 4 anak tersebut, tim Dinsos P2PA yang terdiri atas kepolisian dan aparat lainnya langsung meluncur ke lokasi. “Pihak panti asuhan menyatakan tidak sanggup lagi merawat anak-anak tersebut. Dengan alasan itu, kami ambil anak-anak tersebut,” katanya.

Petugas juga membawa bukti-bukti seperti pakaian yang berbau pesing (ompol), dan barang lainnya. Setelah dievakuasi, pihak Dinsos langsung menghubungi RSUD Sunan Kalijaga untuk menangani anak-anak tersebut, yakitu cek medis. “Dari 4 anak, yang dua tidak diizinkan pulang dan harus dirawat dulu di ruang anak Dahlia RSUD. Ini karena mereka ada indikasi gizi buruk,” katanya.

Sedangkan, 2 anak lainnya dititipkan di Panti Asuhan yang kondisinya bagus. Yaitu di Panti Darul Hadlonah di Kampung Domenggalan, Kelurahan Bintoro. Untuk Sarofah lanjut sekolah di SD Bintoro 9. Dan, adiknya Safa’ah disekolahkan di TK Muslimat. Menurut Lestari, anak-anak yang diselamatkan itu, di raut wajahnya terpancar trauma mendalam. Ada rasa takut luar biasa. “Kami memang melakukan penyelamatan dulu. Sedangkan, proses hukum kami serahkan ke tim P2PA. Kami juga menelusuri asal keluarga mereka,” katanya.

Lestari menambahkan, indikasi penelantaran anak di Panti Al Hajar tersebut adalah saat waktunya sekolah, namun tidak sekolah. Bahkan, diduga diperlakukan seperti pembantu. Selain itu, asupan makan sangat kurang sehingga menimbulkan kurang gizi. “Setelah kami berikan makan yang bergizi, anak-anak tersebut perkembangannya semakin baik,” katanya.

Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos, Muhamad Romli mengatakan, demi masa depan anak-anak tersebut, Dinsos menelusuri jejak mereka, termasuk keluarganya. Bahkan, petugas juga sudah mengajak keliling Sarofah dan Safaah mencari kampungnya. “Kebetulan Sarofah dapat mengingat masa kecilnya. Karena itu, kami keliling di wilayah Kecamatan Gajah dari sekolah ke sekolah dan terakhir ke UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Gajah. UPTD juga sudah mengumumkan ke sekolah-sekolah. Bahkan, saya ajak juga ke pasar-pasar. Sebab, Sarofah cerita pernah diajak simbahnya ke pasar. Tapi, hasilnya nihil belum ada titik terang,” katanya.

Dalam perkembangannya, kemarin, Dinsos kendatangan tamu yang mengaku kakek dari Sarofah dan Safa’ah. Ismail, warga Dukuh Wedean, RT 8 RW 3, Desa Harjowinangun, Kecamatan Dempet tersebut kepada petugas Dinsos menyampaikan, bahwa dirinya punya anak 8. Salah satunya adalah Nur Hamidah yang menikah dengan Nasirin, warga Desa Kramat, Kecamatan Dempet. Dari pernikahan itu, lahir dua anak yaitu, Agus Ali Wibowo dan Abdul Rohmat. Kedua anak itu, kini ikut Ismail kakeknya.

Sebab, dalam perkembangannya, Nasirin, suami Nur Hamidah tidak diketahui rimbanya. Lantaran itupula, Nur Hamidah diduga mengalami stres berat. Lalu, Nur Hamidah banyak keluar rumah dan tinggal di wilayah Kadilangu, Demak Kota. “Anak saya tidak pernah kembali sampai akhirnya dia hamil dan punya dua anak lagi (Sarofah dan Safaah),” katanya.

Suatu hari, Sarofah dan Safaah diajak ibunya, Nur Hamidah bermukim di kampung Betengan, Kelurahan Bintoro. Namun, kondisi mereka terlantar. Lalu, dalam perkembangannya, anak Nur Hamidah dititipkan di Panti Al Hajar yang diduga bermasalah tersebut.

Sedangkan, Nur Hamidah sendiri di kemudian hari mengalami kecelakaan lalulintas dan dirawat di RSUP Kariadi Semarang. “Setengah bulan tidak sadarkan diri dan akhirnya meninggal dunia dan dijemput keluarganya untuk dimakamkan,” ujar Ismail, kepada petugas Dinsos.

Muhamad Romli mengatakan, pihaknya akan memastikan lagi cerita Ismail tersebut sehingga identitas Sarofah dan adiknya Safa’ah terang benderang. “Sedangkan, untuk dua anak lainnya Indri dan Ahmad Minan masih kami lacak. Yang penting, mereka sembuh dulu dari gizi buruk,” katanya.

Sekretaris DinsosP2PA, Jauhar Arifin mengatakan, pihaknya masih melengkapi data-data terkait masalah tersebut, termasuk soal identitas empat anak itu. “Yang dua ini sedikit ada titik terang. Sedangkan, yang 2 lainnya masih kami  telusuri,” ujarnya.

Sementara itu, Taslim, petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) mengatakan, dengan menyaru sebagai tukang bangunan, petugas TKSK berhasil mengetahui kondisi anak-anak yang ada di Panti Asuhan tersebut. “Kami kemudian melaporkan ke Dinsos dan Polsek Demak Kota,” ujarnya. (hib/ida)