Terkena Longsor, 512 Warga Tolak Relokasi

665
JALAN TERPUTUS : Warga Desa Klesem membuat jalan baru, karena jalan sebelumnya longsor. Sehingga akses ke Dukuh Pringamba, Desa Klesem, Kecamatan Kandangserang, belum sepenuhnya bisa dilakukan. (Taufik.hidayat@radarsemarang.com)
JALAN TERPUTUS : Warga Desa Klesem membuat jalan baru, karena jalan sebelumnya longsor. Sehingga akses ke Dukuh Pringamba, Desa Klesem, Kecamatan Kandangserang, belum sepenuhnya bisa dilakukan. (Taufik.hidayat@radarsemarang.com)

KAJEN-Lantaran hujan deras yang turun selama 3 hari berturut-turut, mulai Sabtu (28/1) hingga Senin (30/1) kemarin, bencana longsor kembali menimpa Desa Klesem dan Desa Bodas, Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan, Selasa sore (31/1) kemarin. Akibatnya, jalan sepanjang tiga kilometer di Desa Bodas ambles dan tidak bisa dilalui. Lantaran jalan tersebut di atas tanah bergerak yang mudah longsor.

Hal serupa juga terjadi di Dukuh Pringamba, Desa Klesem, Kecamatan Kandangserang. Lebih dari 10 kepala keluarga di Klesem dan Desa Bodas, mengungsi ke tempat saudaranya yang lebih aman.

Namun 512 warga dari Dukuh Pringamba, Desa Klesem, masih bertahan di lokasi. Meski dari pihak Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan, menyarankan agar warga untuk melakukan relokasi ke daerah yang lebih aman, mengingat kedua desa tersebut rawan bencana alam tanah bergerak yang berujung terjadinya longsor.

Bahkan, jalan desa di Dukuh Pringamba, Desa Klesem sepanjang 1,1 kilometer putus. Kini warga mulai membuat jalan baru atau jalan alternatif untuk menghubungkan Dukuh Pringamba dengan Desa Klesem. Namun sebagian jalan baru tersebut, Selasa (31/1) kemarin, juga ikut terkena longsor.

Kepala Desa Klesem, Kecamatan Kandangserang,Suyati, membenarkan bahwa ada 500 warga di Dukuh Pringamba, Desa Klesem, yang masih bertahan di lokasi rawan bencana tanah bergerak. Padahal mereka mengetahui jika lokasi yang ditempatinya rawan bencana.

Menurutnya, saran dari Tim BPBD untuk melakukan relokasi sudah disampaikan ke warga. Namun warga menolak relokasi, karena mereka khawatir lokasi baru yang akan ditempati tidak sebagus yang saat ini menjadi tempat tinggalnya.

“Sebagian besar dari 500-an warga menolak relokasi. Justru warga Dukuh Pringamba bersedia menghibahkan tanahnya, agar Pemkab Pekalongan bersedia membuatkan akses jalan baru,” ungkap Suyati.

Plt Camat Kandangserang, Muhamad Arifin, membenarkan bahwa Desa Klesem dan Desa Bodas adalah desa yang paling rawan terjadinya bencana alam tanah bergerak, yang berdampak pada terjadinya longsor. Meski beberapa desa lain juga sering terjadi bencana serupa. namun tidak separah dua desa tersebut.

Menurutnya, Pemkab Pekalongan sudah menyarankan agar warga Desa Klesem mencari lokasi tanah relokasi sendiri, yang dianggap sesuai dan layak untuk tepat tinggalnya. Namun warga tetap menolak relokasi, dengan alasan sudah menempati tanah leluhur tersebut sejak puluhan tahun silam.

“Kami bersama warga Desa Klesem dan Desa Bodas sudah membuat jalan baru atau jalan alternatif. Namun kini, jalan tersebut kembali longsor, bahkan lokasi pemakaman di Desa Bodas juga ikut longsor,” ungkap Arifin.

Arifin juga menegaskan bahwa sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dari UGM Jogjakarta telah melakukan survei lokasi dan menyarankan agar warga tidak menempati daerah tersebut. Terutama, di Dukuh Pringamba, Desa Klesem dan Desa Bodas, serta beberapa desa lainnya. Karena desa tersebut rawan bencana tanah bergerak.

Menurutnya, Pemkab Pekalongan dan Tim BPBD sudah melakukan sosialisasi ke beberapa daerah yang rawan bencana dan menyarankan untuk relokasi. “Bupati sudah meninjau ke lokasi rawan bencana tersebut dan memberikan bantuan sembako, kebutuhan perlengkapan bayi serta beberapa tenda untuk menampung sementara warga yang mengungsi,” tegas Arifin. (thd/ida)