Shelter Suryo Kusumo Ditinggalkan Pedagang

616
TUTUP: Shelter Suryo Kusumo lengang setelah ditinggalkan para pedagang. (Adityo.dwi@radarsemarang.com)
TUTUP: Shelter Suryo Kusumo lengang setelah ditinggalkan para pedagang. (Adityo.dwi@radarsemarang.com)

SEMARANG – Minggu (6/3/2016) silam, sebanyak 225 pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Tlogosari Raya boyongan menuju shelter Pedagang Kreatif Lapangan (PKL) di Taman Suryo Kusumo. Pindahan para PKL itu diantar langsung oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Namun semuanya tinggal kenangan. Sebab, kini shelter Suryo Kusumo kosong melompong. Para pedagang memilih hengkang, karena sepi pembeli. Praktis, kini shelter yang dibangun menelan anggaran hingga Rp 3,5 miliar itu menjadi mangkrak.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (31/1), kemarin, tampak lengang. Tak ada aktivitas jual beli. Kios dan lapak ditinggalkan begitu saja oleh pedagang.  Bahkan, sebagian telah rusak dan ambruk. Pun fasilitas umum yang tersedia juga tidak terurus. Ironisnya, ada satu lapak yang digunakan untuk tempat tinggal.

Di dekat pintu masuk, terdapat sebuah bangunan belum selesai. Sedianya bangunan itu dijadikan musala oleh pengurus shelter. Namun dihentikan oleh lurah setempat dengan alasan menyalahi prosedur.

”Itu sempat dikomunikasikan dengan Pak Wali, beliau juga ngendhikan untuk dilanjutkan, tapi ya gimana dana sudah telanjur habis, akhirnya mangkrak gitu. Padahal pedagang sini kalau mau salat jauh. Tapi, sekarang pedagangnya juga sudah habis,” ujar seoarang pedagang, Nur Chamin, 42, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Nur Chamin sendiri pindah ke shelter Suryo Kusumo sejak awal peresmian Maret 2016 silam. Sebelumnya ia membuka lapaknya di Jembatan 1 Tlogosari Raya. Ia bersedia pindah dengan alasan shelter tersebut dekat dengan rumahnya. Kini, dia menjadi satu-satunya pedagang yang masih bertahan di shelter tersebut.

”Dulu di sini sempat ramai, saya di sini kan dari awal pindah. Cuma sejak PKL-PKL yang di pinggir jalan itu dipindahkan ke sini, jadi terkesan kumuh. Terus pasar selesai direnovasi, pada balik ke sana lagi (Pasar Suryo Kusumo). Di sini jadi sepi,” ungkap Nur. Shelter Suryo Kusumo sendiri letaknya di belakang Pasar Suryo Kusumo yang telah direnovasi.

Dia mengatakan, sebagian pedagang yang dulu menempati bangunan itu telah kembali ke pasar dan PKL-nya kembali berjualan di pinggir Jalan Tlogosari Raya. Ditanya soal alasan bertahan, dirinya mengungkapkan bahwa sudah nyaman berjualan di lapaknya saat ini.

Kalo rezeki itu kan sudah ada yang atur ya, lagian kalo pindah ke jalanan lagi kan artinya saya harus babat alas lagi. Repot juga harus usung-usung dagangan, malah enak di sini sendiri, jadi rezekinya ya ke saya aja, hehe,” candanya.

Bapak dua anak ini menceritakan, para pedagang sudah lama meninggalkan shelter Suryo Kusumo karena merasa keuntungan yang didapat turun drastis dibanding dengan saat berjualan di sepanjang Jalan Tlogosari Raya. Namun dirinya tidak ikut pindah, lantaran merasa nyaman berjualan di situ.

Nur yang juga pengurus Persatuan Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) mengatakan, organisasinya sudah berupaya untuk mengimbau pedagang agar kembali ke Taman Suryo Kusumo. Namun tidak mudah untuk menyatukan beberapa orang dalam satu pikiran.

Ia mengatakan, organisasi tidak mau ikut campur jika nantinya pedagang yang bandel itu ditertibkan oleh petugas. Para pedagang sendiri memilih membayar sewa di halaman ruko dan kios di sepanjang Jalan Tlogosari Raya. Hal ini dilakukan untuk menghindari razia petugas Satpol PP. ”Kalau jualan di tepi jalan mengganggu pengguna jalan, pasti dirazia. Makanya, kami rela menyewa tempat di depan ruko,” kata seorang PKL di Jalan Tlogosari Raya. (mg26/aro/ce1)