WONOSOBO—Hasil Rembug Nasional Pendidikan yang mengevaluasi kinerja pendidikan daerah sepanjang 2016, pendidikan Wonosobo mengalami kemajuan signifikan. Tepatnya, berada di peringkat 15.

Kondisi itu sekaligus menampik stigma yang menyebutkan pendidikan Wonosobo masuk kategori buruk. Dasar yang dinilai, di antaranya, rasio pendidikan, kualifikasi guru, Uji Kompetensi Guru (UKG), prestasi siswa, indeks integritas ujian, dan sarpras ruang kelas.

Berdasar penilaian tersebut, Wonosobo dinyatakan lebih unggul dibandingkan sejumlah kabupaten lain. Bahkan, banyak di antara penilaian lebih tinggi dari standar yang ditetapkan pusat.

Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga (Disdikpora), Syamsul Ma’arif mengungkap, sepanjang 2016, ada penurunan porsi anggaran daerah untuk pendidikan. Yakni, sebesar 16 persen dari total APBD 2016. Sementara anggaran untuk pendidikan APBD 2015 mencapai 18,5 persen. Kendati demikian, prestasi atau kenaikan rata-rata di berbagai sektor, meningkat cukup signifikan.

Kenaikan terdapat pada indeks pembangunan manusia dengan tolak ukur lamanya rata-rata sekolah warga Wonosobo. Pada 2014, indek pembangunan manusia baru berada di 6,07 tahun. Pada 2015-2016, 6,11 tahun. Adapun harapan lama sekolah, 2015-2016 sejatinya 11,43 tahun.

Selain itu, perbandingan ruang kelas dengan siswa dan jumlah siswa dengan guru di Wonosobo, juga sudah dianggap ideal. Rombel (rombongan belajar) siswa dalam kelas juga ideal. Perbandingannya, 1 kelas banding 23 siswa. SMP: 1 banding 28. SMA: 1 banding 29 dan SMK 1 banding 27. “Rombel segitu sudah sangat ideal,” tandasnya.

Yang juga ideal perbandingan guru dengan jumlah siswa. SD: 1 banding 18. SMP: 1 banding 19. SMA 1: banding 15 dan SMK: 1 banding 18. Pun, kualifikasi guru. Hampir seluruh guru di Wonosobo merupakan lulusan S1 (D4). Adapun yang belum S1 masih tersisa 9,5 persen untuk guru SD; 10,0 persen untuk SMP; 3,9 persen untuk SMA; dan 3,6 persen untuk SMK. (cr2/isk)