SLEMAN-Sejumlah pasien rumah sakit JIH yang merupakan korban pendidikan dasar (diksar) The Great Camping (TGC) 37 Mapala Unisi UII, kemarin, dikunjungi komisioner Lembaga Perlindungan Saksi Korban (LPSK).

Komisioner LPSK sempat mengorek keterangan dari empat saksi yang masih dirawat. Hasilnya, LPSK menemukan adanya potensi ancaman yang menjadi salah satu pertimbangan bagi lembaga independen di bawah presiden ini.

Wakil Ketua LPSK, Askari Razak, mengatakan, pihaknya telah melakukan perbincangan pada empat saksi yang merupakan peserta TGC 37. Dari empat orang didapatkan fakta adanya potensi ancaman yang dikhawatirkan akan membawa dampak tersendiri dalam kasus dugaan penganiayaan yang menyebabkan tiga mahasiswa meninggal dunia.

“Kami sudah melakukan pembicaraan. Definisi awal, baru satu yang mengungkap adanya kekhawatiran terhadap senioritas. Hal ini bisa kita definisikan sebagai potensi ancaman terhadap diri saksi,” ungkap Askari.

Kendati demikian, LPSK masih terus mencari keterangan saksi-saksi lain dari 34 nama yang diajukan pihak Rektorat UII. “Kami butuh keterangan dari saksi lain untuk menguatkan. Paling tidak, tiga perempat agar bisa terpenuhi.”

Kepada para saksi, LPSK meminta mereka tidak menyederhanakan peristiwa yang dialami. Sebab, ada tiga korban meninggal dunia karena kasus ini.

“Kami berikan pengertian, sampaikan pada mereka agar tidak menyederhanakan peristiwa ini karena ada tiga korban meninggal dunia, namun kembali lagi mereka berhak bersedia bersaksi atau tidak.”

Kemarin (31/1), 16 panitia diksar Mapala UII diperiksa sebagai saksi di Mapolres Karanganyar. Mereka memenuhi panggilan dari tim penyidik Polres Karanganyar dengan diantarkan Rektor UII Harsoyo.

Harsoyo menjelaskan, saat ini, Mapala UII dibekukan sementara dari segala aktivitas guna memperlancar proses hukum. Ia berharap pembekuan kegiatan tersebut bisa membuat para anggota memperbaiki diri, karena sebelum ini mereka memiliki banyak prestasi. Setiap kali ada bencana, Mapala Unisi UII selalu menjadi sukarelawan. “Mapala UII saat kejadian bencana tsunami di wilayah Aceh, prestasinya luar biasa, mereka bertahan selama dua bulan untuk membantu korban,” katanya.

Ia juga menyerahkan segala proses hukum kepada polisi, pihak kampus tidak akan melakukan intervensi. Ia juga berharap semua saksi yang diperiksa tim penyidik Polres Karanganyar dapat kooperatif memberikan keterangan apa adanya, sesuai apa yang dilihat di lapangan.

Terpisah, seorang peserta diksar Mapala UII hingga kemarin masih menjalani perawatan di Bangsal Gardenia Rumah Sakit JIH. Muhammad Hafizal masih menjalani rawat inap karena mengalami trauma.

Ketua Tim Dokter Penanganan Mapala UII dr Khalimur Rouf mengatakan, Hafizal masih dirawat dengan keluhan kecemasan dan disfungsi bahu. Dalam satu dua hari ke depan, tim dokter akan terus melakukan observasi menyeluruh untuk memastikan kondisi pasien semakin membaik.

“Satu pasien Hafizal masih mengalami traumatik di mana masih ada kecemasan ketika melihat orang lain. Selain itu ada syaraf di ketiak yang kena jadi harus menjalani program fisioterapis untuk mengembalikan fungsi gerak, tapi sudah berangsur membaik,” terangnya.

Tim medis juga memberikan pendampingan psikologis pada Hafizal agar bisa mengurangi tekanan trauma yang dialami. Teman pasien yang akan menjenguk juga diseleksi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Kemarin, seorang peserta diksar, Sandi telah diperbolehkan pulang. Sebenarnya beberapa hari lalu ia sudah sempat pulang, tapi kembali dirawat dengan keluhan pandangan mata kabur dan nyeri di bagian dubur karena adanya riwayat ambeien. Setelah mendapatkan perawatan, tim dokter akhirnya mengizinkan Sandi pulang. (jpg/isk)