MANGKRAK : Dua kapal wisata Sigandu yang merupakan bantuan dari Gubernur Jawa Tengah dibiarkan mangkrak oleh Pemkab Batang. (Nurul.fatah@radarsemarang.com)
MANGKRAK : Dua kapal wisata Sigandu yang merupakan bantuan dari Gubernur Jawa Tengah dibiarkan mangkrak oleh Pemkab Batang. (Nurul.fatah@radarsemarang.com)

BATANG–Nasib dua kapal wisata Sigandu milik Pemkab Batang, sudah berbulan-bulan mangkrak di dermaga. Kedua kapal yang merupakan bantuan dari Gubernur Jawa Tengah tersebut terbengkalai. Padahal, dulu kedua kapal tersebut digadang-gadang untuk memajukan wisata Pantai Sigandu.

Dua kapal wisata berdaya angkut puluhan orang itu harganya mencapai miliaran rupiah. Namun kondisinya saat ini tampak berkarat seperti tumpukan besi tua di dermaga kecil Pantai Sigandu Kabupaten Batang. Kapal wisata itu tidak lagi memberikan kontribusi apapun bagi wisata Batang.

“Kondisinya saat ini rusak berat, sama sekali tak dipakai. Mesin kapalnya sudah diamankan di kantor pengelolaan. Kami potong mesin kapal tersebut, sehingga tinggal bodinya saja yang nangkring di atas dermaga. Entah ke depan mau diapakan,” ujar pengelola Pantai Sigandu dan Ujungnegoro, Sukirjo.

Dikatakannya, kedua kapal wisata bantuan Gubernur Jateng tahun 2008 tersebut seharga Rp 1,5 miliar. Bahkan, kondisi kedua kapal Sigandu I dan Sigandu II sebelum dilakukan pengangkatan ke darat, sempat dibiarkan bersandar di pinggir pantai hingga nyaris tenggelam.

“Dulu kedua kapal bisa dioperasionalkan. Tapi, BBM untuk kedua kapal tersebut terlalu mahal. Padahal, tarif penumpang hanya Rp 25 ribu/penumpang untuk berkeliling Sigandu sampai Ujungnegoro. Ternyata hal itu tidak cucuk alias merugi. Pasalnya, sekali angkut, kapal menggunakan daya dua mesin dan menghidupkan AC yang juga otomatis menyedot penggunaan BBM,” terangnya.

Menanggapi hal tersebut, Sekda Batang Drs H Nasikhin MH didampingi Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Bambang Suriyanto SH, mengatakan jika pihaknya akan segera mengkaji untuk membahas nasib kedua kapal wisata yang telah lama mangkrak itu.

“Masih kami kaji nasib kedua kapal wisata yang ada di Pantai Sigandu. Masalahnya, untuk biaya operasionalnya itu sangat mahal, padahal kedua kapal tersebut merupakan bantuan dari Provinsi. Ke depan, apakah akan dihapus atau dibelikan yang lebih efisien lagi, nanti kami kaji,” tutur Bambang Supriyanto. (mg20/ida)