MEDIASI : Para pelapor dan terlapor kasus dugaan perusakan Cagar Budaya Makam Mbah Lancing berdamai di hadapan Muspika Mirit. (DOK POLRES KEBUMEN)
MEDIASI : Para pelapor dan terlapor kasus dugaan perusakan Cagar Budaya Makam Mbah Lancing berdamai di hadapan Muspika Mirit. (DOK POLRES KEBUMEN)

KEBUMEN – Peristiwa dugaan perusakan Cagar Budaya Makam Mbah Lancing yang terletak di Desa Mirit Kecamatan Mirit, Kebumen, Minggu (29/1) lalu, berakhir damai. Secara tertulis para peziarah mengakui kekeliruannya telah mengubah tutup makam tanpa izin juru kunci makam. Mereka juga memohon maaf atas perbuatan dan ucapan yang menyinggung warga Mirit.

Kesepakatan dituangkan dalam selembar surat pernyataan. Pernyataan tersebut ditandatangani Marlan Sapingi, 62, mewakili pihak peziarah dan Jatmiko Aji mewakili Paguyuban Makam Wonoyudo Mirit di hadapan Muspika Mirit. Selain meminta maaf, para peziarah juga berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya baik di situs Makam Mbah Lancing atau di tempat yang lain.

Kapolres Kebumen AKBP Alpen melalui Kapolsek Mirit Polres Kebumen AKP Sapto Wahono menyambut baik kesepakatan tersebut. “Saya berpesan supaya masyarakat Kebumen untuk bisa menahan diri dan tidak terpancing untuk melakukan tindakan-tindakan yang bisa merugikan banyak pihak.”

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah peziarah di cagar budaya Makam Mbah Lancing, Mirit, Kebumen hampir saja diamuk warga. Sebab mereka diduga merusak bangunan makam tersebut.

Kejadian itu berawal dari kedatangan rombongan peziarah yang terdiri dari Marlan Sapingi, 52, Ahmad Ghazanfar Husain, 24, Moch Azan Nuriksan, 30, Ahmad Mirja Mustakim, 22, Ridwan Arif, 32, ke makam Mbah Lancing. Kelima orang ini beralamat di Jalan Rawa Bebek RT 05 RW 01 Pulau Gebang, Cakung, Jakarta Timur. Mereka tiba dengan mengendarai mobil, Minggu (29/1) sekitar pukul 09.00 WIB.

Kepada Juru Kunci Makam, Mbah Simoh, 65, mereka mengutarakan maksudnya untuk membersihkan makam. Juru kunci yang tidak menaruh curiga pun mengizinkan.

Namun pada saat membersihkan makam, para pelaku memindahkan batu bata dan tumpukan kain yang menutupi makam. Melihat hal itu, juru kunci langsung menegur dan melarangnya. Bukannya meminta maaf, salah seorang dari rombongan itu malah marah-marah dan mengeluarkan kata-kata yang menantang serta mengancam akan membakar makam Mbah Lancing.

Warga sekitar yang mendengar kejadian itu pun bereaksi keras dan mendatangi mereka. Beruntung, ada warga yang melapor ke Polek Mirit. Polisi bergegas menuju lokasi kejadian dan mengamankan para pelaku dari amuk warga. Karena kekurangan personel, Polsek Mirit menghubungi Polres Kebumen untuk meminta bantuan tambahan petugas. Situasi yang sempat mencekam pun bisa dicairkan. (*/jpg/ton)