Dua Panitia Diksar Mapala UII Ditahan

4288
DITAHAN : Dua panitia Diksar Mapala UII Jogja yang menjadi tersangka penganiayaan saat tiba di Mapolres Karanganyar, Senin (30/1). (Iswara.bagus.novianto@radarsolo)
DITAHAN : Dua panitia Diksar Mapala UII Jogja yang menjadi tersangka penganiayaan saat tiba di Mapolres Karanganyar, Senin (30/1). (Iswara.bagus.novianto@radarsolo)

JOGJA—Teki-teki siapa oknum anggota Mapala Unisi UII yang menganiaya tiga peserta The Great Camping (TGC) hingga tewas akhirnya terkuak. Keduanya sudah ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan di Mapolres Karanganyar. Yakni, Yudi Alias MW alias Kresek, 25; dan AS alias Angga alias Waluyo, 27. Keduanya ditangkap di posko Mapala Unisi Senin (30/1) kemarin.

Pantauan koran ini, mengenakan penutup muka, kedua tersangka turun dari Avanza silver dalam kondisi tangan diborgol, sekitar pukul 11.30. Satu tersangka mengenakan topi, berperawakan gempal. Sedangkan lainnya, lebih kecil.

Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak mengatakan, penetapan tersangka usai gelar perkara internal pada Minggu (29/1) lalu. Untuk itu, ia berharap 16 panitia diksar memenuhi panggilan ke Mapolres pada Selasa (31/1) hari ini.

“Sebanyak 16 orang panitia itu berkapasitas saksi. Diminta menghadap Selasa besok (hari ini) pukul 09.00, dengan surat pemanggilan resmi. Sedangkan dua tersangka dijemput paksa tadi pagi (kemarin).”

Agenda pemeriksaan saksi meliputi deskripsi kerja masing-masing dalam kepanitiaan diksar, prosedur standar pelaksanaan kegiatan mapala, dan kapasitas mereka di organisasi.

Sementara itu, Kepala Unit Krimsus Satuan Reskrim Polres Karanganyar, Iptu Gurbacov kemarin tampak mendampingi pelaku menuju ruang penyidik. Tak lama kemudian, dokter Dokkes Polres Karanganyar memeriksa kondisi kesehatan para tersangka.

Kepala Satuan Reskrim Polres Karanganyar AKP Rahmat Ashari menolak berkomentar banyak terkait penangkapan dua mahasiswa tersebut. Prinsipya, kata Rahmat, penangkapan yang diikuti penahanan tersangka, untuk mempermudah polisi melakukan pemeriksaan. Sekaligus, mencegah pelaku melarikan diri.

Tim kuasa hukum Mapala Unisi Achiel Suyanto SH kepada wartawan menyampaikan, pihaknya akan tetap melakukan pendampingan hukum terhadap dua tersangka. “Untuk tersangka dua orang ini, kami belum mendapatkan pemberitahuan dari penyidik kapan akan dilakukan pemeriksaan. Kami masih akan terus berkoordinasi dengan tim di Yogyakarta, karena saat ini posisi saya di Jakarta,” terangnya. Terkait penangkapan, Achiel enggan berkomentar lebih jauh. “Biarkan saja itu hak penyidik, kita tetap menghormati.”

Polisi menangkap dua tersangka bersama sejumlah barang bukti. Seperti tas ransel gunung, baju, slayer, dan tongkat rotan yang diduga berhubungan dengan tindak kekerasan selama pelaksanaan diksar TGC Unisi.

Terpisah, Kapolda Jawa Tengah Irjen Condro Kirono memastikan kedua tersangka diancam kurungan hukuman di atas lima tahun penjara. Kapolda menyampaikan, tersangka Angga dan Yudi ditangkap pada waktu Subuh, di dua lokasi berbeda. Masing-masing ditangkap di Posko Mapala serta di sebuah rumah kos tersangka.

Selain menangkap tersangka, polisi juga melakukan penggeledahan untuk mengumpulkan barang bukti. “Sebelum ditangkap, keduanya memang belum pernah diperiksa. Langsung kita periksa keduanya.”

Untuk mendalami kasus tersebut, polisi masih akan memeriksa sejumlah saksi. Kepolisian juga menyiapkan bantuan hukum, karena ancaman hukuman untuk kedua pelaku di atas lima tahun penjara. “Untuk kemungkinan ada tersangka lain, kita periksa yang dua itu dulu. Ini kita masih melakukan pendalaman.”

Di sisi lain, keluarga korban tewas atas nama Ilham Nurfadmi Listia Adi berharap keadilan ditegakkan. Mereka siap menyodorkan bukti-bukti yang diperlukan. Hal itu disampaikan Muhammad Zaini, penasihat hukum dari Pusat Konsultasi Bantuan Hukum Universitas Ahmad Dahlan (PKBH UAD) di Mapolres Karanganyar.

“Sekarang sudah ditetapkan dua tersangka. Polisi jangan berhenti di situ karena kemungkinan masih ada tersangka lain di luar sana. Sebaiknya jangan berlama-lama (penyidikan) supaya keluarga korban mendapat keadilan,” katanya.

Timnya mengaku punya catatan pesan teks Ilham dengan dua temannya perihal luka di tangan. Menjelang kematiannya, ia mengirim foto luka itu via Whatsapp dan menceritakan penyebabnya. Hal serupa juga disampaikan Ilham kepada bibinya. “Kita siap menghadirkan saksi. Sudah di-print-out rekaman chatting WA. Kalau kebetulan diminta polisi, akan disampaikan bukti-bukti itu,” katanya.

Kepala Ombudsman RI Perwakilan DIY, Budhi Masthuri, mengapresiasi kinerja kepolisian. “Dengan ditangkapnya dua tersangka membuktikan adanya kemajuan. Kami mendapatkan banyak informasi dari yang dipaparkan Waka Polres. Intinya, kami merasa lega pelayanan kepolisian dalam kasus ini sangat baik,” kata Budhi.

Menurutnya, penetapan tersangka kasus tersebut, memberi efek luar biasa. Utamanya, bagi keluarga korban. Polres Karanganyar juga dianggap prosedural menjalankan tugasnya dari awal menangani kematian Muhammad Fadli sampai mengusut kematian Syaits Asyam. Meski dalam perjalanannya, kematian Muhammad Fadli sempat dianggap wajar dan laporan keluarga almarhum Ilham Nurfadmi Listia Adi tidak tertuju Polres Karanganyar. (jpg/isk)