Pasar Semawis

487

Oleh: Djawahir Muhammad

TAHUN baru Imlek 2568 yang jatuh pada Sabtu 28 Januari lalu ditandai keramaian oleh masyarakat Tionghoa Semarang di Pasar Semawis. Pasar tiban yang dibuka setiap malam pada Jumat-Minggu di sepanjang Jalan Gang Warung, Pecinan sejak 2000-an itu tambah ramai dari biasanya. Deretan kios yang menjual suvenir, alat rumah tangga, pakaian, makanan khas tahun baru Imlek yang populer ”kue keranjang”, dan berbagai masakan Tionghoa lainnya memenuhi sepanjang jalan sepanjang 2 kilometer.

Pentas wayang potehi, musik Yangkiem, permainan barongsai, tari-tarian, dan berbagai jenis kesenian ditampilkan dalam kemeriahan suasana yang disinari ratusan lampion berwarna merah yang tergantung di setiap sudutnya. Lalu-lalang ratusan manusia – bukan hanya etnis Tionghoa – seakan tak tersibak pada ruas Jalan Gang Baru, Gang Warung dan beberapa ruas jalan lain di mana Pasar Semawis itu berada.

Mengapa pasar itu bernama Pasar Semawis, tak banyak orang yang tahu. Setahu penulis, pasar malam itu berangkat dari ide yang dikemukakan oleh Widya Wijayantie, arsitek yang memelopori penataan kawasan Pecinan Semarang.  Widya dan timnya mengambil idenya dari pasar malam Kya-kya (Surabaya) yang (konon) justru sudah tutup.

Saya menduga nama Semawis adalah nama lain Kota Semarang, yaitu ”krama madya” (superlatif) Kota Semarang. Sebagai pembanding/referensinya adalah tradisi berbahasa wong Semarang sebagai bagian/enclave budaya Jawa, yang membahasakan kata ”rang” dengan kata ”wis”. Contoh: arang (jarang), bahasa kramanya ”awis”. Larang (mahal), bahasa kramanya  awis. Jadi, Semarang dibahasakramakan dengan Semawis. Gejala verbastering demikian merupakan sesuatu yang lazim dalam ilmu bahasa/tanda (Semiotic) di mana-mana.

Terlepas dari kapan dan siapa pencetusnya, Pasar Semawis merupakan salah satu bentuk multikulturalisme budaya Tionghoa–Jawa di Semarang. Selain Pasar Semawis, multikulturalisme budaya Jawa-Tionghoa diketemukan dalam musik Gambang Semarang, Warak Ngendog, Manten Kaji, Batik Semarang, dan berbagai jenis kuliner. Di antaranya, lunpia, lontong Cap Go Meh, mi kopyok, dan lain-lain.

Meskipun multikulturalisme – pluralism berlangsung di mana-mana, tetapi kedua dinamika kebudayaan yang berlangsung di Semarang itu memiliki sejarah yang otentik dan panjang. Sejarah itu dimulai sekurang-kurangnya pada 1416, yakni ketika Laksamana Ceng Ho yang sedang melintas di laut Jawa mendaratkan anak buah kapalnya bernama Ong King Hong di Simongan, Semarang untuk berobat karena sakit.

Setelah sembuh, Ong King Hong tetap tinggal di Simongan dan mengajar masyarakat setempat ilmu pengobatan dan pertanian. Bahkan ia yang beragama Islam membangun masjid yang kemudian berubah fungsi menjadi Kelenteng Sampokong sekarang ini. (Sampo Fonds Blad, 1939).

Sejarah yang lain berlangsung pada 1741- 1743, ketika laskar Jawa dan Tionghoa bersama-sama melawan Kompeni Belanda dalam Geger Pecinan. Laskar Tionghoa di bawah komando Show Pan Jiang (Kapiten Sepanjang) mempertahankan diri dari serangan kompeni di daerah Beteng (Pecinan), dibantu pasukan pribumi sejak dari markas mereka di Kaliwungu. Meskipun Belanda berhasil menumpas Geger Pecinan, tetapi peristiwa sejarah itu menandai salah satu kerja sama antara kedua etnis di Semarang yang monumental. (Darajadi, 2015).

Saat ini, kerja sama kedua etnis di Semarang yang menunjukkan spirit pluralisme, ditandai antara lain dengan pengangkatan almarhum Gus Dur (Presiden RI keempat), sebagai Bapak Pluralisme. Penganugerahan itu dilakukan di Gedung Perkumpulan Rasa Dharma, Gang Lombok.

Masih banyak bentuk-bentuk multikulturalisme kedua etnis  di bidang sosial, kebudayaan, pendidikan, dan lain sebagainya. Salah satunya adalah Pasar Imlek Semawis ini. Jadi, bukan orang Semarang kalau Anda tidak menonton Pasar Semawis ini. Gong Xi Fat Chai! (*)