Omset Kredit di Batang Capai Rp 2,2 T

486
SEMANGAT - Anggota Komisi XI DPR RI Prof Hendrawan Supratikno saat memberikan penjelasan terkait peran OJK dalam perekonomian mikro khusunya UMKM dan LKM, Minggu (29/1). (Lutfi.hanafi@radarsemarang.com)
SEMANGAT - Anggota Komisi XI DPR RI Prof Hendrawan Supratikno saat memberikan penjelasan terkait peran OJK dalam perekonomian mikro khusunya UMKM dan LKM, Minggu (29/1). (Lutfi.hanafi@radarsemarang.com)

BATANG – Pertumbuhan keuangan di Kabupaten Batang meningkat pesat pada 2016. Tercatat sampai Desember total omset kredit mencapai Rp 2,2 triliun atau naik sebesar 22,26 persen dari aset kredit di tahun 2015 sebesar Rp 1,66 triliun.

Hal tersebut dirilis kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Tegal, pada Seminar dan Diskusi Interaktif Sosialisasi Peran dan Fungsi Otoritas Jasa Keuangan, dengan tema ‘Meningkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan Bagi UKMK’, di Hotel Sahid Mandarin Pekalongan, Minggu (29/1).

Dengan pemateri, Kepala Kantor OJK Tegal Yulius Eka Putra dan Anggota Komisi XI Prof Hendrawan Supratikno, dengan moderator Heriono serta peserta dari penggiat UMKM di Kabupaten Batang, Pekalongan dan Kota Pekalongan. “Pertumbuhan ekonomi khususnya di Kabupaten Batang cukup pesat, terbukti kini mencapai angka Kredit Rp 2,2 triliun,” kata Kepala Kantor OJK Tegal, Yulius Eka Putra.

Dari nilai tersebut, omset Rp 1,88 triliun dimiliki bank umum dan sisanya Rp140 miliar dimiliki Bank Perkreditan Rakyat/ swasta. Dari semua omset kredit tersebut, hampir didominasi oleh pelaku UMKM karena di Batang belum ada usaha yang besar.

Prof Hendrawan Supratikno, dalam kesempatan itu juga banyak memberikan pandangan dalam dunia bisnis dan usaha bagi pelaku UMKM. Beberapa hal yang ditegaskan, adalah mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya terkait hal apapun. “Informasi itu bahan bakar semua kreatifitas, jika kita memilikinya tentu akan mudah melakukan apa saja. Jadi kumpulkan informasi sebanyak apapaun,” tegasnya.

Menurutnya, dalam bisnis kita memang patut mencontoh pebisnis luar. Seperti digambarkan, dalam bisnis usaha nasi Padang walau menguasai pasaran lokal, tidak bisa menguasai global, karena mereka tidak punya sistem. Hal tersebut, tentu berbeda dengan produk makanan cepat saji ala Amerika. Dengan sisten yang bagus, hampir seluruh dunia bisa dikuasai dengan produk yang sama. “Dalam bisnis butuh sistem yang bagus, karena bisa menentukan nasib usaha kita ke depan. Tanpa sistem, lambat laun akan mati sendiri,” serunya.

Politisi dari PDI Perjuangan ini mencontohkan pola bisnis dari bos media besar tanah air. Dahlan Iskan bisa sukses, karena memandang bisnis koran berbeda. Dibanding media lain, Dahlan memiliki visi dan misi unik. Inovasi dilakukah Dahlan salah satunya, koran tidak libur, serta cara penulisan di Jawa Pos yang ringan namun padat, sehingga Jawa Pos bisa digemari pembaca.

“Kunci lain bisnis adalah inovasi, dengan itu kita bisa kuasai pasar,” sarannya kepada pelaku UMKM. (han/adv/ric)