Naga Doreng, Latih Kecepatan dan Kekompakan ala Militer

Geliat Kelompok Barongsai Kota Atlas (3-Habis)

988
LANGGANAN JUARA: Kelompok Barongsai Naga Doreng Batalyon Arhanudse 15 Semarang saat meraih medali emas PON Jabar 2016. (kanan) Penampilan Naga Doreng. (DOKUMENTASI NAGA DORENG)
LANGGANAN JUARA: Kelompok Barongsai Naga Doreng Batalyon Arhanudse 15 Semarang saat meraih medali emas PON Jabar 2016. (kanan) Penampilan Naga Doreng. (DOKUMENTASI NAGA DORENG)

Kelompok Barongsai Naga Doreng selalu tampil unik ketika menyuguhkan atraksi barongsai dan liong. Mereka mengusung nuansa doreng khas tentara untuk menunjukkan identitas sebagai personel Batalyon Arhanudse 15 Semarang. Dari seragam hingga sisik naga liong, tidak lepas dari warna doreng.

AJIE MAHENDRA

MESKI para pemainnya bukan dari kalangan Tionghoa, atraksi yang disuguhkan kelompok barongsai Naga Doreng selalu menarik perhatian. Ketepatan, kekompakan, dan kecepatan gerakan mereka patut diacungi jempol. Liong sepanjang 10 meter yang dimainkan 9 orang tampak seperti naga hidup. Liukan demi liukan dibawakan sangat luwes, nyaris tanpa patahan.

Dunia barogsai dan liong nasional pun mengakui kelebihan tersebut. Terbukti, di Pekan Olahraga Nasional (PON) Jabar 2016 lalu, Naga Doreng menyabet dua medali emas sekaligus. Yakni, kategori kecepatan dan halang rintang.

Pelatih Naga Doreng, Serda Tutut Haryono, menjelaskan, di kompetisi bergengsi tersebut, pihaknya mampu mencatat waktu tidak lebih dari 1 menit. ”Cuma sekitar 0:49 menit. Padahal tim dari Jabar uang menempati posisi kedua, waktunya 1:45 menit,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sebelumnya, Naga Doreng sudah kenyang menyabet prestasi. Koleksi piala kejuaraan sudah penuh sesak di almari trofi. Di antaranya Juara II Presiden Cup 2012, Juara I Nasional mewakili Jateng kategori Naga Kecepatan 2015, dan empat gelar Juara I berturut-turut Kejuaraan Jogja Dragon Festival Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) dari 2013-2016. ”Tahun ini kami tidak boleh ikut lomba lagi, karena sudah empat kali juara. Tapi kami tetap main sebagai pertunjukan hiburan,” katanya.

Prestasi itu boleh dibilang nyaris tanpa kerja keras. Sebab, saban hari, fisik, kecepatan, dan kekompakan mereka sudah digembleng lewat latihan militer. Praktis, ketika memegang liong dan barongsai, mereka bisa bergerak sangat gesit dengan stamina yang tetap terjaga. Bahkan mereka melakukannya dengan sepatu pantofel, bukan jenis kets.

Serda Tutut mengaku, jadwal latihan Naga Doreng hanya muncul ketika menghadapi kejuaraan saja. Mereka menggelar training centre (TC) selama sebulan penuh untuk pemantapan. Sepanjang jadwal latihan itu, mereka dibebaskan dari program latihan dan jadwal dinas sebagai personel Batalyon Arhanudse 15.

Ketika TC, tim Naga Doreng juga digembleng ala militer. Jadwal latihannya padat dari pagi hingga pukul 23.00 malam. Soal variasi gerakan, Serda Tutut dibantu Kopka Eddy. Mereka mengadopsi gerakan-gerakan barongsai dan liong asli Tiongkok yang ditonton lewat Youtube. ”Dari gerakan itu, kami olah lagi untuk menjadi gerakan khas Naga Doreng,” bebernya.

Diceritakan, sebelum berangkat mengikuti lomba, tim Naga Doreng selalu sowan di salah satu kelenteng di Pecinan Semarang. Di sana, mereka menggelar prosesi yang sudah menjadi tradisi Naga Doreng. ”Naga Doreng didirikan di sana. Jadi, kalau mau lomba, menemui tetuanya di sana dulu. Kalau istilah di Islam, mungkin kiai. Oleh tetua itu, kepala naga ditempeli semacam kertas atau jimat. Saya sendiri kurang paham,” tegasnya.

Sementara jika diundang untuk pertunjukan hiburan, Naga Doreng tidak pernah melakukan persiapan khusus. Seperti perayaan Imlek kali ini, Naga Doreng yang punya jadwal pentas di salah satu restoran di Semarang menjelang petang. Pagi hingga siang, para personelnya justru sedang tugas dinas luar kota untuk mengawal Presiden Jokowi.

”Kalau bukan mau lomba, jadwal kami sering terbentur karena kegiatan satuan harus tetap berjalan. Tapi kalau sudah TC, ngumpulnya gampang banget. Apalagi kami satu batalyon. Jadi, lebih mudah mengumpulkannya,” cetusnya.

Naga Doreng memang kerap mendapat job. Terutama menjelang perayaan Imlek. Seperti di Pecinan, Kelenteng Sampokong, Water Blaster, dan pusat perayaan Imlek lain. Di luar itu, mereka juga kerap main di depan Gubernur Jateng atau Pangdam IV/Diponegoro pada acara tertentu. Naga Doreng juga kerap manggung di luar kota, seperti Jatim dan Jakarta.

Serda Tutut menjelaskan, pihaknya tidak pernah mematok tarif ketika diundang untuk mengisi acara. Menurutnya, Naga Doreng merupakan bagian dari alat pembinaan teritorial (binter) prajurit kepada masyarakat. Jadi, sebisa mungkin, mereka akan hadir untuk menghibur warga. Naga Doreng juga menjadi simbol kebhinnekaan. Alat pemersatu tanpa membedakan suku, agama, ras, dan etnik. Naga Doreng ingin mengajarkan, tidak ada sekat di antara sesama warga Indonesia.

Untuk bisa memanggil Naga Doreng, klien harus mengajukan surat permohonan lewat Kodam IV/Diponegoro. Setelah itu, Kodam akan memerintah Batalyon Arhanudse 15 untuk menggelar atraksi sesuai kesepakatan. ”Kami tetap mendapat honor. Memang tidak banyak karena tidak pasang tarif,” tegasnya.

Honor tersebut, biasanya dimanfaatkan untuk akomodasi perjalanan menuju tempat pertunjukan. Sisanya untuk memperbaiki peranti pertunjukan dan latihan.

Diceritakan, naga liong selalu diganti setiap tiga bulan. Sebab, ketika latihan, naga tersebut kerap sobek. ”Untuk latihan dan pentas kan beda. Nah, yang buat latihan itu sering rusak,” katanya.

Terkait regenerasi, Naga Doreng yang lahir 3 Desember 2003, saat Komandan Batalyon dijabat Letkol Arh Eko Supriyadi ini selalu merekrut anggota baru bersamaan dengan rekrutmen batalyon. Sebab, tidak sedikit prajurit baru yang memiliki jiwa seni dan ingin mengembangkan bakat lewat seni barongsai dan liong.

Saat ini, Naga Doreng digawangi 20 orang. Sebanyak 9 orang memainkan liong dengan 1 orang cadangan, 4 orang memainkan barongsai, 5 orang di tambur, dan 1 orang memegang bendera. Dari 20 orang itu, Prada Fajar menjadi pemain termuda, yakni usia 21 tahun. Sedangkan paling senior adalah pemain kepala naga, Kopda Sumarno, 34 tahun. (*/aro/ce1)