LESTARIKAN BUDAYA: Kelompok Barongsai Tri Suci tengah bersiap mengisi acara Pasar Imlek Semawis beberapa hari lalu. (kanan) Ie Adiono Istianto, pimpinan Tri Suci. (Adennyar.wycaksono@radarsemarang.com)
LESTARIKAN BUDAYA: Kelompok Barongsai Tri Suci tengah bersiap mengisi acara Pasar Imlek Semawis beberapa hari lalu. (kanan) Ie Adiono Istianto, pimpinan Tri Suci. (Adennyar.wycaksono@radarsemarang.com)

Kelompok Barongsai Tri Suci masih relatif baru. Berdiri sekitar lima tahun lalu. Pimpinan kelompok ini, Ie Adiono Istianto, awalnya bergabung dengan kelompok lain. Setelah memiliki modal kemampuan dan materi, dia mendirikan kelompok sendiri. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

KELOMPOK barongsai Tri Suci bermarkas di sebuah rumah sederhana di Jalan Jagalan Timur No 271, Semarang Tengah. Rumah tersebut adalah tempat tinggal Ie Adiono Istianto, yang tak lain adalah pimpinan kelompok barongsai tersebut. Pria yang akrab disapa Adi itu masih relatif muda. Usianya baru 23 tahun.

Adi mengaku menekuni olahraga barongsai untuk melestarikan budaya nenek moyangnya tersebut. Ia adalah generasi ketiga pemain barongsai. Sebelumnya ia belajar bermain barongsai dari ayahnya yang kini sudah pensiun.

“Saya generasi ketiga, turun-temurun, Mas. Kalau tidak kita yang mau melestarikan siapa lagi?” ujar Adi yang saat menerima Jawa Pos Radar Semarang tengah  sibuk mempersiapkan peralatan sebelum tampil di perayaan Pasar Imlek Semawis.

“Maaf Mas, tangan saya kotor. Ini lagi persiapan pentas di Kampung Semawis nanti sore (beberapa hari lalu, Red), jadi harus ngecek barongsai yang mau dibawa nanti,” ucapnya ramah.

Adi mengatakan, Kelompok Barongsai Tri Suci memiliki sekitar 40 anggota dari berbagai usia. Anggota paling tua berusia 50-an tahun. Sedangkan yang paling muda, usia 8 tahun.

“Dulu saya ikut kelompok barongsai besar. Kemudian saya mendirikan sendiri. Kemarin sore baru pulang setelah pentas di Pasar Imlek Solo. Kalau seminggu ini, sudah ada jadwal main di hotel-hotel dan rumah makan,” akunya.

Adi mengaku memiliki 9 barongsai, 1 naga dan 1 gedawangan atau ondel-ondel. Anggotanya berasal dari sekitar rumahnya. Namun ada juga yang berasal dari luar Semarang. Meski terkadang tidak mendapatkan job pentas, Kelompok Tri Suci tetap rutin melakukan latihan  di aula Kantor Kelurahan Kranggan setiap Rabu dan Jumat malam.

“Latihan rutin seminggu dua kali. Selain sebagai owner, saya juga melatih para anggota dari sisi gerakan, teknik, tabuhan musik, dan masih banyak lagi,” katanya.

Saat latihan tiba, lanjut Adi, anggota junior dan senior sengaja dipisahkan. Tujuannya agar proses pembelajaran bisa fokus. Khusus untuk junior, wajib melakoni latihan fisik, kuda-kuda dan latihan dasar berupa gerakan kungfu. Dari puluhan anggota yang ikut dalam kelompoknya, kebanyakan malah bukan keturunan Tionghoa.

“Kalau yang senior sudah belajar atraksi, basic-nya adalah gerakan kungfu. Kalau yang junior harus melatih kuda-kuda dulu. Saat ini mayoritas anggota adalah orang asli Jawa, bukan warga keturunan Tionghoa,” ungkapnya.

Menurut Adi, pembibitan pemain barongsai memang saat ini susah-susah gampang. Sebab, generasi muda sekarang lebih suka dengan bidang teknologi dibandingkan memperlajari budaya. “Anak-anak lebih suka main gadget, ya lumayanlah masih ada yang mau nerusin dan mau belajar meski sedikit,” ucapnya.

Meski sedikit kuwalahan untuk menerima order show, Adi mengaku jika job pentas saat perayaan Imlek dari tahun ke tahun cenderung menurun. Ia menduga penurunan jumlah job ini dikarenakan minat masyarakat akan budaya barongsai juga menurun.

“Beberapa tahun lalu sempat kuwalahan. Bukan dari segi personel, tapi dari segi peralatan. Bahkan kita sering dapat order hingga luar kota, seperti Solo, Rembang dan kota lainnya di Jateng,” katanya

Dalam setiap tampil, lanjut dia, minimal ada 15 personel yang bermain. Itu untuk dua barongsai berserta penabuhnya. Sementara jika lengkap dengan liong atau naga dan gedawangan atau ondel-ondel, membutuhkan minimal 30-an personel.

Banyaknya personel yang dibawa terganti dari season yang dimainkan ataupun permintaan dari orang yang menyewanya. “Untuk sekali show kami memasang tarif Rp 1,5 juta, itu hanya untuk barongsai. Kalau komplit bisa mencapai Rp 3,5 juta, tergantung jauh dekatnya. Kalau di luar kota tentu ada tambahan biaya transportasi,” ujarnya.

LESTARIKAN BUDAYA: Kelompok Barongsai Tri Suci tengah bersiap mengisi acara Pasar Imlek Semawis beberapa hari lalu. (kanan) Ie Adiono Istianto, pimpinan Tri Suci. (Adennyar.wycaksono@radarsemarang.com)
LESTARIKAN BUDAYA: Kelompok Barongsai Tri Suci tengah bersiap mengisi acara Pasar Imlek Semawis beberapa hari lalu. (kanan) Ie Adiono Istianto, pimpinan Tri Suci. (Adennyar.wycaksono@radarsemarang.com)

Kelompok barongsai yang dipimpin, memiliki ciri khas yang jadi pembeda dibandingkan kelompok lain. Pembedanya adalah dari segi warna, Adi lebih condong menggunakan warna hitam yang dipadukan dengan ungu. Kalau dari sisi gerakan, lanjut Adi, barongsai memiliki gerakan yang sama dari segi dasar teknik atau atraksi tergantung keahlian masing-masing personel. ” Dulu ciri khas kami adalah punya gedawangan, tapi sekarang kelompok lain sudah punya juga,” katanya.

Dari 9 barongsai yang dimiliki, mayoritas menganut aliran dari Cina Selatan yang memiliki bentuk bebek dan dengan gerakan lebih soft. Namun ia juga memiliki barongsai berwarna kuning yang menganut aliran Cina Utara yang lebih keras dan lebih condong ke bentuk kucing. “Tergantung order sih Mas, timnya juga beda. Gerakan dari Cina Utara lebih keras, kalau yang Cina Selatan lebih soft,” paparnya.

Barongsai yang dimiliki ada yang ia buat sendiri, namun ada juga yang dibeli dari pengrajin barongsai terkenal dari Semarang, yakni Sutikno, yang masih memiliki hubungan darah dengan dirinya. Sementara alat musik seperti tambur, harus ia datangkan dari Cina. Sebab, tambur lokal memiliki karakteristik suara yang berbeda.”Ada juga yang buat, ada yang beli. Kalau buat biasanya dari bulu sintesis, alat musik pukul tambur yang saya miliki turunan dari keluarga dan dulu diimpor dari Cina.  Kalau barongsai dari bulu sintesis, lebih murah. Sekitar Rp 2,5 juta. Kalau dari bulu domba, satu barongsai mencapai Rp 5 juta. Untuk naga atau liong harganya mulai Rp 5 juta,” bebernya.

Terkait tingkat kesulitan untuk bermain satu set barongsai, kata dia, memiliki tingkat yang berbeda-beda. Alat musik pukul contohnya, diibaratkan sebagai ruh pemain barongsai dan liong yang mempengaruhi gerakan. Sementara untuk gedawangan lebih mengutamakan tenaga daripada teknik, karena memiliki berat sekitar 50 kilogram.

“Barongsai bisa dilatih dengan teknik, kalau liong susahnya menyatukan 9 orang pemain yang punya pikiran berbeda harus harmonis menjadi satu gerakan. Alat musik pukul pun sama, temponya, ketukan harus pas, karena sebagai ruh sebuah pertunjukan,” jelasnya.

Bertahun-tahun melestarikan budaya nenek moyang, Adi mengaku punya berbagai pengalaman menyenangkan maupun pahit. Pengalaman paling pahit tentunya tidak ada job manggung alias sepi job. Sementara pengalaman paling menyenangkan adalah selalu bersama-sama dengan anggota lain, dalam arti merasakan susah senang bersama anggotanya.

“Biaya sewa barongsai, misalnya Rp 1,5 juta, itu dibagi orang 15. Minimal per orang dapet Rp 50 ribu. Kalau pas ramai job ya panen. Kalau pas sepi ya sepi, Mas,” candanya.

Pengalaman lain yang selalu ditemui adalah ada anggotanya yang cidera. Contohnya saja jatuh saat atraksi sampai harus tersungkur dari meja saat melakukan adegan loncat dari meja ke meja. “Ya itu makanan sehari-hari, memang risikonya ada. Tapi syukur selama ini nggak ada yang sampai fatal, paling-paling cuman terkilir aja, Mas,” ucapnya.

Meski memiliki pengalaman segudang, Adi mengaku belum kepikiran untuk ikut lomba barongsai. “Saat ini sih obsesi saya meneruskan budaya. Tapi bisa jadi ke depan ikut lomba-lomba barongsai,” katanya.

Disinggung apakah ada perhatian dari Pemerintah Kota Semarang, Adi hanya tersenyum. Diakui, memang sudah ada Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (Fobi) sebagai induk kelompok barongsai di Jawa Tengah.

“Kalau pemerintah kota belum ada (perhatian) secara konsen. Padahal kalau ada acara seperti arak-arakan dewa, kelompok barongsai selalu terlibat. Untuk sementara ini memang belum dimaksimalkan oleh pemerintah, apalagi untuk mendongkrak sektor wisata,” ujarnya. (*/aro)