MEMPRIHATINKAN: Mbah Yuliah yang hidup sebatang kara di rombong kayu di Jalan Inspeksi tepi Kali Semarang, Kranggan, Semarang Tengah. (Adityo.dwi@radarsemarang.com)
MEMPRIHATINKAN: Mbah Yuliah yang hidup sebatang kara di rombong kayu di Jalan Inspeksi tepi Kali Semarang, Kranggan, Semarang Tengah. (Adityo.dwi@radarsemarang.com)

SEMARANG Di tengah hiruk pikuk Kota Semarang, ternyata masih ada warga yang tinggal di tempat yang tidak layak. Yuliah, 80, dan Sudarmi, 80, misalnya. Dua nenek renta itu tinggal di gerobak yang lebih mirip dengan kandang ayam di Jalan Inspeksi tepi Kali Semarang. Keduanya mengaku sudah tinggal di tempat tersebut sejak 1980 atau sudah 37 tahun. Keberadaan keduanya menjadi sorotan setelah ramai diperbincangkan di media sosial. Bahkan, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo pun ikut memberikan komentar.

Mbah Yuliah sendiri diketahui berasal dari Grabag Magelang. Ia hidup di “kotak kayu” itu sejak 1980. Ukuran rombong tempat tinggalnya itu hanya sekitar 2 meter kali 1 meter dengan ketinggian kurang lebih 70 sentimeter. Praktis, Mbah Yuliah hanya bisa dalam posisi duduk atau tiduran di dalam rombong yang di bagian atasnya dipasang selembar terpal warna biru agar tidak bocor saat hujan.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, nenek yang kulit wajahnya sudah keriput itu sedang duduk-duduk di pintu tempat tinggalnya. Saat diamati, jemari kaki dan tangan Mbah Yuliah sudah tak lagi utuh. Di kaki kiri, tak ada jari yang tersisa. Terdapat luka yang ditempel plester seadanya. Lalat liar pun hinggap di luka kakinya itu.

MEMPRIHATINKAN: Mbah Yuliah yang hidup sebatang kara di rombong kayu di Jalan Inspeksi tepi Kali Semarang, Kranggan, Semarang Tengah. (Adityo.dwi@radarsemarang.com)
MEMPRIHATINKAN: Mbah Yuliah yang hidup sebatang kara di rombong kayu di Jalan Inspeksi tepi Kali Semarang, Kranggan, Semarang Tengah. (Adityo.dwi@radarsemarang.com)

Sedangkan di kaki kanan masih menyisakan jempol saja. Tangan kirinya, tinggal jempol dan telunjuk, sementara tangan kanan tersisa jempol.

Mboten ngertos sakit nopo (tidak tahu sakit apa), kadang dicokoti (digigiti) tikus,” ungkap Mbah Yuliah dengan suara pelan.

Diduga, Mbah Yuliah mengidap penyakit gula (diabetes), hingga luka di jari-jarinya tidak bisa kering dan pruthul sedikit demi sedikit.

Lansia yang pendengarannya sudah tak sempurna ini mengaku merantau ke Semarang setelah salah satu anaknya tewas  saat ramai penembak misterius (petrus) sekitar 1980-an.  Anaknya ditembak karena dituduh sebagai pencuri. “Kamangka anak kulo mboten nyolong, namung nyopir (padahal anak saya tidak mencuri, hanya sopir),” ceritanya.

Sejak peristiwa itu, Yuliah merasa sakit hati, dan memilih meninggalkan kampung halamannya di Magelang. Ia akhirnya pergi ke Semarang untuk mengikuti salah satu anaknya. “Tapi anak sing niki mboten pinter (Tapi anak yang ini tidak pintar pada orangtua),” kata Mbah Yuliah.

Karena tak dirawat anaknya, Mbah Yuliah hidup terlunta-lunta di Kota Semarang. Ia terpaksa hidup sebatang kara di dalam rombong tak ubahnya kandang ayam. Untuk bertahan hidup, ia bekerja serabutan dan menjadi pemulung. Namun kini kondisi fisiknya sudah tak bisa untuk beraktivitas seperti dulu lagi.

Bar dawah pundak kulo sakit, mboten saged ngge kerjo (setelah jatuh, pundak saya sakit, tidak bisa buat kerja). Mbiyen nggih nderek kerjo serabutan, nggih mulung (dulu ikut kerja serabutan, termasuk jadi pemulung),” kenangnya.

Sekarang ini, setiap hari Mbah Yuliah hanya mengandalkan belas kasihan dari warga yang melintas di Jalan Inspeksi. Selain itu, dia juga mengaku kerap dibantu pegawai kelurahan. Tapi bantuan tersebut justru diminta anaknya.

Sakniki anak kulo sampun kecukupan (sekarang anak saya sudah kecukupan), kulo pasrah mawon mas (saya pasrah saja),” ucap lirih Mbah Yuliah sambil terisak.

Tak hanya nenek Mbah Yuliah, nasib serupa dialami Mbah Sudarmi yang tinggal di sebelahnya. Ia juga tinggal di rombong berukuran sekitar 1×2 meter. Kondisi keduanya yang sangat memprihatinkan itu, sempat ramai dibicarakan di media sosial. Bahkan, sempat menjadi viral.

MEMPRIHATINKAN: Mbah Yuliah yang hidup sebatang kara di rombong kayu di Jalan Inspeksi tepi Kali Semarang, Kranggan, Semarang Tengah. (Adityo.dwi@radarsemarang.com)
MEMPRIHATINKAN: Mbah Yuliah yang hidup sebatang kara di rombong kayu di Jalan Inspeksi tepi Kali Semarang, Kranggan, Semarang Tengah. (Adityo.dwi@radarsemarang.com)

Puncaknya, petugas Dinas Sosial Kota Semarang dan petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Semarang Tengah serta sejumlah perangkat Kelurahan Kranggan mendatangi keduanya kemarin.  Kedatangan petugas tersebut untuk mendata dan mengajak nenek itu pindah ke panti jompo. Setelah melakukan musyawarah bersama anaknya, akhirnya kedua nenek tersebut dipindahkan petugas menuju Panti Sosial Among Jiwo di Ngaliyan Semarang.

Petugas TKSK, Sholikin, mengatakan, sementara akan menempatkan nenek Sudarmi di Panti Sosial Among Jiwo untuk dirawat. Nantinya apabila bersedia akan dipindahkan ke Panti Jompo Margo Widodo. Namun demikian, hal inipun akan dikoordinasikan terlebih dahulu dengan pihak Pemprov Jateng. “Kami koordinasikan, yang pasti sekarang nenek ini bisa mendapat tempat yang layak,” katanya.

Sholikin mengakui kemarin tidak bisa langsung memindahkan, karena harus musyawarah terlebih dahulu dengan keluarganya. Sedangkan satu nenek tua lagi, yakni Mbah Yuliah akan dirawat keluarganya. “Kalau yang Mbah Yuliah dirawat keluarganya, makanya yang kami pindahkan hanya Mbah Sudarmi,” ujarnya. (mha/aro)