Bahagia Itu Sederhana

Saling Berbagi dengan Sesama

760
Yovita saat pelatihan Penyusunan Perda Penanggulangan Bencana untuk Kabupaten di Jawa Tengah bersama Mercy Corp dan BPBD Provinsi Jateng. (IST)
Yovita saat pelatihan Penyusunan Perda Penanggulangan Bencana untuk Kabupaten di Jawa Tengah bersama Mercy Corp dan BPBD Provinsi Jateng. (IST)

Bahagia itu sederhana. Tergantung bagaimana cara kita menikmati hidup. Salah satunya berbagi dengan sesama. Itulah yang selama ini dilakukan Yovita Indrayati, untuk mendapatkan kebahagiaan. ”Hidup itu sederhana. Justru diri sendirilah yang kerapkali mempersulitnya,” ujarnya.

Pada dasarnya manusia adalah citra Tuhan yang maha pengasih. Maka, sudah sewajarnya manusia hidup penuh kasih dengan cara berbagi kepada sesama. ”Ya menjadi hal yang lumrah ketika kita di dalam hidup selalu berbagi dengan sesama. Karena apa yang kita miliki merupakan anugerah dari Tuhan. Dan kita mendapatkannya secara gratis pula,” terangnya.

Hidup berbagi ini selalu ia lakukan dimanapun ia berada. Tidak hanya di lingkungan kampus sebagai seorang dosen, berbagi kasih juga ia lakukan dalam kapasitasnya sebagai praktisi di bidang hukum.

Ibu dua anak ini merasa bahwa Tuhan memberikan talenta kepadanya secara cuma-cuma. Untuk itu, membantu orang lain menjadi sebuah kewajiban baginya. Termasuk ketika ada klien tidak mampu yang membutuhkan bantuan hukum darinya, dengan senang hati akan membantu.

Yovita bersama Anjar Wibisono (suami), dan kedua anaknya, Marsalia Nadhila Putri dan Dhimas Rafly Ananda. (IST)
Yovita bersama Anjar Wibisono (suami), dan kedua anaknya, Marsalia Nadhila Putri dan Dhimas Rafly Ananda. (IST)

Meskipun sudah pasti akan ada hambatan, Yovita selalu berusaha menikmatinya. Dalam artian selalu mengambil sisi positif di balik hambatan tersebut. ”Indah hidup itu kalau selalu disyukuri. Dengan demikian, yang ada dalam hidup adalah saling berbagi dan membantu,” katanya.

Dengan caranya memandang hidup ini, ia mendapat suatu pelajaran. Bahwa hidup manusia itu layaknya proses metamorfosis kupu-kupu. Dari benih, janin, menjadi bayi, tumbuh menjadi anak anak, menuju ke remaja, dan seterusnya. Ia melihat bahwa dari semua itu, yang terpenting adalah ketika usia sudah menginjak dewasa, maka kebijaksanaan lah yang harus tetap bertumbuh.

”Bukan pertumbuhan secara fisik. Karena Kebijaksanaan belum tentu segaris dengan umurnya. Ini bisa diperoleh dari pengalaman hidup,” ujarnya. (sigit adrianto/zal)