Eko Heru Nur Fathoni (Abdul.mughis@radarsemarang.com)
Eko Heru Nur Fathoni (Abdul.mughis@radarsemarang.com)

”Ibu sangat menghargai apa yang saya yakini. Bahkan seringkali saya mengantarkan ibu untuk beribadah di kelenteng.” Eko Heru Nur Fathoni

EKO Heru Nur Fathoni atau Made Luan Mase adalah warga keturunan Tionghoa yang merasakan hidup di tengah keluarga berbeda agama. ”Ayah saya muslim, ibu keturunan Tionghoa yang memiliki kepercayaan Konghucu. Saya sendiri muslim,” kata Eko kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (27/1).

Namun demikian, seiring waktu berjalan, keluarganya ditimpa ’cobaan hidup’ yang membuat keluarga ’goyah’. ”Ibu dan ayah sekarang pisah rumah. Salah satunya  karena beda keyakinan,” kata pemuda yang saat ini menuntut ilmu Magister Manajemen Program Pascasarjana Universitas Semarang (USM) ini.

Namun apa boleh buat, masalah itu kini telah menjadi guru kehidupan untuk disikapi secara bijak. Ayahnya tetap memilih jalan hidup dengan beragama Islam. Sedangkan ibundanya tetap di jalur keyakinannya. ”Ibu sangat menghargai apa yang saya yakini. Bahkan seringkali saya mengantarkan ibu (Hanifah Ali atau Lii Xchee, 57) untuk beribadah di kelenteng,” ujarnya.

Hidup di lingkungan Tionghoa, Eko mengaku masih menjalankan tradisi yang tidak bertentangan dengan keyakinannya. ”Misalnya saat merayakan Imlek, saya turut melaksanakan tradisi budaya Tionghoa seperti tukar kue keranjang ke sanak saudara, makan bersama, kumpul bersama, berbagi angpao untuk keponakan-keponakan, dan seterusnya,” kata dia.

Diakui, sewaktu kecil, Eko mengaku tidak asing lagi dengan masakan babi panggang. Sebab, babi panggang menjadi menu favorit saat Imlek tiba, sebagaimana opor ayam saat orang muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri (Lebaran). ”Pernah makan itu, waktu kecil. Tetapi begitu dewasa (menjalankan keyakinan muslim) sudah tidak pernah lagi,” ujar pria kelahiran 15 Maret 1990 ini.

Dikatakannya, ibunda tercinta mengedepankan toleransi dan tidak pernah memaksa untuk memercayai keyakinan tertentu. Sehingga ia sebagai muslim pun tetap menjaga kebersamaan meski beda keyakinan. Baginya, ibu adalah sosok yang menjadi bagian hidup. ”Saya merayakan Imlek di Jakarta, karena ibu bersama nenek saat ini tinggal di Jakarta,” ujarnya.

Di Semarang, selain sedang menyelesaikan studi S2 di USM, Eko juga sembari bekerja di Semesta Hotel Semarang. ”Kerja sejak September lalu, sambil menyelesaikan tesis. Selain pulang di Jakarta, kadang juga pulang ke rumah nenek di Purwosari RT 3 RW 3, Sayung, Demak,” katanya. (abdul mughis/aro/ce1)