Tetap Antar Ibu ke Kelenteng

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

”Ibu sangat menghargai apa yang saya yakini. Bahkan seringkali saya mengantarkan ibu untuk beribadah di kelenteng.” Eko Heru Nur Fathoni

EKO Heru Nur Fathoni atau Made Luan Mase adalah warga keturunan Tionghoa yang merasakan hidup di tengah keluarga berbeda agama. ”Ayah saya muslim, ibu keturunan Tionghoa yang memiliki kepercayaan Konghucu. Saya sendiri muslim,” kata Eko kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (27/1).

Namun demikian, seiring waktu berjalan, keluarganya ditimpa ’cobaan hidup’ yang membuat keluarga ’goyah’. ”Ibu dan ayah sekarang pisah rumah. Salah satunya  karena beda keyakinan,” kata pemuda yang saat ini menuntut ilmu Magister Manajemen Program Pascasarjana Universitas Semarang (USM) ini.

Namun apa boleh buat, masalah itu kini telah menjadi guru kehidupan untuk disikapi secara bijak. Ayahnya tetap memilih jalan hidup dengan beragama Islam. Sedangkan ibundanya tetap di jalur keyakinannya. ”Ibu sangat menghargai apa yang saya yakini. Bahkan seringkali saya mengantarkan ibu (Hanifah Ali atau Lii Xchee, 57) untuk beribadah di kelenteng,” ujarnya.

Hidup di lingkungan Tionghoa, Eko mengaku masih menjalankan tradisi yang tidak bertentangan dengan keyakinannya. ”Misalnya saat merayakan Imlek, saya turut melaksanakan tradisi budaya Tionghoa seperti tukar kue keranjang ke sanak saudara, makan bersama, kumpul bersama, berbagi angpao untuk keponakan-keponakan, dan seterusnya,” kata dia.

Diakui, sewaktu kecil, Eko mengaku tidak asing lagi dengan masakan babi panggang. Sebab, babi panggang menjadi menu favorit saat Imlek tiba, sebagaimana opor ayam saat orang muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri (Lebaran). ”Pernah makan itu, waktu kecil. Tetapi begitu dewasa (menjalankan keyakinan muslim) sudah tidak pernah lagi,” ujar pria kelahiran 15 Maret 1990 ini.

Dikatakannya, ibunda tercinta mengedepankan toleransi dan tidak pernah memaksa untuk memercayai keyakinan tertentu. Sehingga ia sebagai muslim pun tetap menjaga kebersamaan meski beda keyakinan. Baginya, ibu adalah sosok yang menjadi bagian hidup. ”Saya merayakan Imlek di Jakarta, karena ibu bersama nenek saat ini tinggal di Jakarta,” ujarnya.

Di Semarang, selain sedang menyelesaikan studi S2 di USM, Eko juga sembari bekerja di Semesta Hotel Semarang. ”Kerja sejak September lalu, sambil menyelesaikan tesis. Selain pulang di Jakarta, kadang juga pulang ke rumah nenek di Purwosari RT 3 RW 3, Sayung, Demak,” katanya. (abdul mughis/aro/ce1)

- Advertisement -
- Advertisement -

Latest News

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -