Pembunuh Mantri Kesehatan Ditembak

Dilatari Cinta Sesama Jenis

1273
PINCANG : Ketiga pelaku perampokan yang menyebabkan tewasnya seorang mantri kesehatan di Desa Banjurpasar Kecamatan Buluspesantren, Kebumen saat tiba di Polres Kebumen, Jumat (27/1). (DOK HUMAS POLRES KEBUMEN)
PINCANG : Ketiga pelaku perampokan yang menyebabkan tewasnya seorang mantri kesehatan di Desa Banjurpasar Kecamatan Buluspesantren, Kebumen saat tiba di Polres Kebumen, Jumat (27/1). (DOK HUMAS POLRES KEBUMEN)

KEBUMEN-Pelaku perampokan yang menewaskan Sugeng Wahyudi, 42, seorang perawat atau mantri kesehatan di Desa Banjurpasar Kecamatan Buluspesantren, Kebumen, Sabtu (21/1) lalu berhasil dibekuk. Tiga tersangka dihadiahi timah panas oleh polisi karena ingin melarikan diri ketika akan ditangkap tim Satrekrim Polres Kebumen. Cinta sesama jenis menjadi latar belakang kasus ini.

Ketiga pelaku tersebut adalah DOH alias Pentong, 20; EMS, 25; dan ES, 29. Ketiga warga Desa Karangcengis Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga ini ditangkap di Bekasi dan Tengerang dalam waktu yang hampir bersamaan, Kamis (26/1). Polisi juga menyita barang bukti berupa 1 unit mobil Avanza warna putih bernomor polisi AA 8965 ND, 1 unit sepeda motor Honda CBR warna hitam nopol AA 2641 FJ dan beberapa unit ponsel. Jumat (27/1), ketiga pelaku sudah tiba di Polres Kebumen untuk menjalani pemeriksaan.

Kepala Polres Kebumen AKBP Alpen menjelaskan, terungkapnya kasus tersebut berawal dari kejelian Tim Inafis Polres Kebumen saat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Di TKP ditemukan sepasang sepatu yang diduga milik pelaku. Sepatu dibuang ke dalam sumur dengan tujuan untuk menghilangkan jejak. Namun sayang, sepasang sepatu itu tersangkut di jaring yang memang sengaja dipasang di dalam sumur untuk melindungi dari sampah.

Saat dicocokkan dengan selembar foto mantan pasangan korban, yaitu tersangka DOH, ternyata mirip jenis dan cara menginjaknya. Dari situ perburuan terhadap DOH dimulai. Secara marathon, tim yang dikendalikan langsung Kasatreskrim Polres Kebumen AKP Koliq Salis Hirmawan mencari keberadaan tersangka hingga ke Jakarta.

Polisi akhirnya menemukan mobil Avanza milik Sugeng yang dibawa pelaku di halaman parkir sebuah rumah makan di Jalan Binamarga Cipayung, Depok. Mobil itu diketahui parkir sejak Minggu (22/1) kurang lebih pukul 03.00 WIB.

“Setelah pemeriksaan fisik kendaraan bermotor, meliputi pemeriksaan nomor rangka, nomor mesin oleh tim dari Polres Kebumen, mobil tersebut ternyata identik dengan mobil korban Sugeng Wahyudi yang hilang,” kata Alpen.

Polisi kemudian melacak para pelaku dan berhasil menemukan jejak mereka. DOH ditemukan di rumah kontrakan bapaknya di Jatiasih, Bekasi. Sementara EMS dan ES di kawasan Pondok Aren, Ciledug, Tangerang. Di masing-masing tempat itulah, ketiga tersangka ditangkap oleh Unit Resmob Satreskrim Polres Kebumen. Polisi terpaksa menembak kaki mereka karena berusaha melarikan diri ketika akan ditangkap.

Di hadapan penyidik Satreskrim Polres Kebumen, ketiga tersangka mengakui semua perbuatannya. Mereka berangkat dari Purbalingga pada hari Jumat (20/1) malam hari dengan berboncengan bertiga menggunakan sepeda motor dan sampai di rumah korban Sabtu (21/1) pukul 00.000 WIB. Sampai di rumah korban, DOH menawarkan EMS kepada korban untuk bercinta.

Namun korban menolak dengan alasan tidak cocok dengan usia dan fisiknya. Mendengar penolakan korban, DOH marah, kemudian mengambil pisau dan kabel serta menyerang korban. Rupanya korban melawan sehingga DOH menyuruh EMS dan ES untuk membantunya. Terjadilah pergumulan yang tidak seimbang yang menyebabkan Sugeng meninggal dunia akibat tusukan di perut dan leher serta lilitan kabel magic jar di leher.

Setelah menghabisi korban, ketiga pelaku mencari barang-barang berharga milik korban di dalam lemari. Mereka juga membawa mobil dan sepeda motor milik korban dan melarikan diri ke Jakarta. Namun sesampainya di sebuah rumah makan di daerah Cipayung, Depok, mobil Avanza yang mereka kendarai kempis rodanya. Karena tidak bisa menemukan kunci roda, mobil ditinggal begitu saja dan kuncinya dibuang.

“Terima kasih yang sebesar-besar nya atas atensi dan bantuan informasi kepada kami, tanpa peran serta masyarakat kami tidak mungkin bisa mengungkap kasus ini dengan waktu yang relatif cepat,” kata Alpen. (*/jpg/ton)