Ratusan Koperasi Tidak Sehat

525

Kutipan: Indikator sehat atau tidak, bisa dilihat dari sisi manajemennya, permodalannya seperti apa, juga SDM seperti apa. Dan banyak sekali saya lihat di antara koperasi banyak yang nggak berani melaksanakan RTA. Nurmar Asiyah, Kabid Koperasi dan UMKM

WONOSOBO  – Mayoritas koperasi di Wonosobo saat ini tidak sehat. Hal itu diungkapkan Kabid Koperasi dan UMKM, Dinas Perdagangan Koperasi UKM Wonosobo, Nurmar Asiyah. Dari total keseluruhan 372 koperasi, yang masuk kategori sehat, tidak lebih dari 10 unit koperasi.

Padahal, menurut Nurmar, koperasi merupakan soko guru perekonomian masyarakat. Hal itu, terlihat dari arti koperasi itu sendiri. yang bunyinya, koperasi merupakan lembaga usaha bersama, yang permodalannya bersumber dari anggota, dikelola oleh anggota, dan labanya juga untuk anggota.

Namun sayang, lembaga usaha yang digadang-gadang memiliki andil besar dalam upaya menyejahteraan ekonomi masyarakat ini justru lesu. Bahkan, banyak di antara koperasi saat ini yang tidak bisa melakukan rapat tahunan anggota (RTA).

“Indikator sehat atau tidak, bisa dilihat dari sisi manajemennya, permodalannya seperti apa, juga SDM seperti apa. Dan banyak sekali saya lihat di antara koperasi banyak yang nggak berani melaksanakan RTA,” ucap perempuan yang sudah lama malang melintang mengurusi koperasi dan UMKM Wonosobo itu.

Yang lebih miris, koperasi yang tidak menggelar RTA lebih dari separo jumlah total koperasi yang ada. Dipastikan dia, koperasi yang tidak berani atau tidak bersedia melaksanakan RTA pasti ada sesuatu hal yang salah.

Hasil penelusuran lebih lanjut oleh Nurmar, rata-rata koperasi yang tidak sehat disebabkan salah niat dari awal. Ia bahkan menyebut, banyak di antara koperasi didirikan, hanya untuk mengakses anggaran pemerintah.

Karena itu, berdasar dari RPJMD 2016-2021 yang poin terpentingnya adalah pengentasan kemiskinan, bidangnya akan membenahi koperasi ini. Langkahnya, dengan melakukan revitalisasi koperasi dari tidak sehat menuju koperasi cukup sehat.

Wujudnya, mulai dari pelatihan sumber daya manusianya tentang managemen koperasi, pengawasan permodalan, hingga menumbuhkembangkan kesadaran anggota dalam membayar iuaran wajib (simpanan wajib anggota).

Di satu sisi, ia masih optimistis dengan sistem koperasi. Catatannya, selain memperbaiki menajemen koperasi, pihak koperasi nantinya juga perlu merangkul UMKM baik sektor formal maupun nonformal.

“UMKM Wonosobo jumlahnya mencapai 57 ribuan, bayangkan saja jika uangnya diaktifkan di koperasi, pasti sangat menyejahterakan,” jelasnya. (cr2/lis)