Hotel Kelas Melati Picu Suburnya Prostitusi

1898
MURAH MERIAH : Salah satu hotel di kawasan wisata Bandungan yang memasang tarif kantong pelajar. (Eko.wahyu.budiyanto@radarsemarang.com)
MURAH MERIAH : Salah satu hotel di kawasan wisata Bandungan yang memasang tarif kantong pelajar. (Eko.wahyu.budiyanto@radarsemarang.com)

UNGARAN-Maraknya hotel kelas melati di kawasan wisata Bandungan dituding menjadi penyebab tumbuh suburnya prostitusi di wilayah tersebut. Pasalnya, hotel tersebut memasang tarif sangat murah hanya Rp 50 ribu, sehingga kerap dimanfaatkan para pekerja karaoke untuk menjajakan diri.

“Tidak sedikit pula justru dari hotel tersebut yang berubah menjadi kos-kosan para pemandu karaoke. Namun hal itu sulit dikontrol pemilik hotel,” kata Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Karaoke Bandungan (Akrab), Jalidin, Kamis (26/1) kemarin.

Selama ini, kawasan wisata Bandungan memang dikenal dengan banyaknya ketersediaan hiburan malam. “Dengan adanya hotel murah, pengusaha karaoke jadi sulit mengontrol para pemandu. Padahal kita sudah meyiapkan mess untuk mereka,” katanya.

Dibangunnya mess tersebut untuk mempermudah pengawasan terhadap para pemandu karaoke. Diakui Jalidin, beberapa pemandu memang secara diam-diam menerima order untuk para lelaki hidung belang dengan memanfaatkan kamar hotel yang bertarif murah. “Itu tanpa sepengetahuan manajemen dan diluar peraturan pengusaha karaoke. Kami inginnya ada ketegasan dari pihak hotel. Agar para pemandu mudah dikontrol,” katanya.

Selain itu, adanya hotel dengan harga kantong pelajar itu menambah deretan panjang praktik prostitusi di kawasan wisata Bandungan. Hal itu berkorelasi dengan beberapa fakta beberapa hotel sudah dilakukan penutupan karena digunakan praktik prostitusi.

Beberapa waktu lalu, dua hotel disegel paksa oleh Pemkab Semarang karena memfasilitasi praktik prostitusi. Antara lain Hotel Cleopatra dan Hotel Bagus di Ambarawa. Jalidin berharap ada ketegasan dari pihak PHRI (Persatuan Hotel dan Restaurant Indonesia) Kabupaten Semarang untuk memberlakukan standarisasi harga hotel.

Penelusuran di lapangan, beberapa hotel memang membanderol harga murah. Bahkan untuk menarik perhatian pengunjung, adanya tarif hemat itu dipampang jelas di pinggir jalan. Mulai dari harga Rp 50 ribu perhari untuk satu kamar hingga Rp 100 ribu.

Sementara itu, Ketua PHRI Kabupaten Semarang Sumardi Darmadji mengatakan jika selama ini memang belum ada standarisasi harga hotel di Kabupaten Semarang. “Belum ada kesepakatan standarisasi tarif di PHRI, makannya banyak muncul tarif yang rendah dan terpampang di jalan-jalan,” ujarnya.

Dalam hal ini, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak pengusaha hotel terkait dengan standarisasi harga minimal sewa kamar hotel. “Kita akan berkoordinasi dengan para pengusaha untuk menstandarkan tarif minimal,” katanya. (ewb/ida)